Pokdarwis Gedongkiwo

Pokdarwis Gedongkiwo Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Pokdarwis Gedongkiwo, Travel Service, Yogyakarta City.

23/07/2024

Sungai Winongo
Pagesangan Penyangga Yogyakarta

Siang terik di pinggir jembatan Prapanca Sungai Winongo persis di samping braket spot foto kampung wisata Sekarniti-Gedongkiwo. Menikmati segelas estape gosrok dengan toping roti manis, sejenak saya terhibur geli melihat polah anak-anak kecil sedang mandi juga bermain di kali. Mereka berteriak sambil berlari dan melompat koprol dan menceburkan tubuhnya ke kali, sahabat-sahabatnya pun menyambutnya dengan cekikik riang sembari berenang gaya anjing dan sesekali mengeplak-keplakan tangannya di air. Selepas terlintas diatas kepala satu pitutur jawa dengan analogi sungainya,
“ ..nglakoni urip iku sing sak madya, kaya bocah nglangi ning kali iso ngeli ning aja keli.” Dalam terjemahan indonesianya kurang lebih begini, menjalani hidup itu yang sewajarnya, analoginya anak anak yang berenan di sungai boleh mengikuti arus tetapi jangan hanyut.
Masyarakat Jawa lekat dengan budaya pituturnya yang mengajarkan kita untuk merasakan serta memaknai apa yang telah dan sedang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Sungai Winongo tidak lain adalah kehidupan sekaligus penyangga budaya Kota Yogyakarta masa lalu dan sekarang. Sungai Winongo menjadi sumber pagesangan(kehidupan) bagi masyarakatnya; masyarakat sleman, kota dan pertanian di daerah Bantul.
Pada penggalan masa lalu melalui pintu air Bendolole di Kelurahan Kricak, Sungai Winongo disalurkan guna penyuplai kebutuhan air untuk parit Jagang Baluarti serta tempat-tempat khusus di dalam kraton Yogyakarta, meski pada perkembangannya kekini saluran air tersebut sudah berubah fungsi menjadi tempat pembuangan limbah domestic. Di Kampung Suryowijayan ada bangunan teknologi air bersejarah dengan nama Bendung Tanjung. Teknologi pengendali arus sungai dimana air sungai dipecah melalui pintu air (gejlik) ke aliran irigasi sekunder melintas dari kampung bugisan ke Senggotan dan pintu air Jogonalan yang kemudian di alirkan untuk kebutuhan air pabrik gula Madukismo. Di Desa Senggotan terdapat pintu air irigasi tersier dengan saluran airnya mengunakan p**a besar buatan jaman kolonial yang melintang di atas sungai kearah Kampung Dukuh dan Krapyak.
Konsep teknologi perairan modern dimasa kolonial yang terdapat di sepanjang Winongo kota seperti bendolole-Kricak, bendung tanjung- Suryowijayan dan p**a tengsur-Gedongkiwo merupakan c***r budaya yang sangat berarti bagi masyarakat luas. Terutama mengenai bagaimana jalur air Winongo saling terkoneksi antar saluran maupun dengan aktifitas masyarakat kreatif. Seperti salah satunya di era 80 hingga pertengan 90an dimana masyarakat Winongo kota memanfaatkan sungai hingga saluran irigasi sebagai budidaya ikan air tawar konsumsi dengan metode karamba. Meski perkembangan nya karamba dilarang dikarenakan berdampak bahaya aliran besar sungai yang mengakibatkan banjir. Tidak hilang akal, beberapa kelompok masyarakatpun mengembangkan system mina tani dengan menggunakan saluran irigasi non karamba. Seperti yang dilakukan oleh kelompok mina Julantoro kampung wisata Gedongkiwo. Dan gerakan mina Julantoro tersebut selain tidak berdampak terhadap banjir sungai juga mampu merubah suasana kampung yang kumuh menjadi bersih asri berpotensi wisata dan berkelanjutan ekonomi. Gerakan ini yang kemudian dikembangkan oleh beberapa masyarakat sungai di bantaran Sungai Code dan Gajah Wong.
Fegetasi Sungai Winongo tergolong lebih kaya dibanding dua sungai lain yang melintas di kota Yogyakarta. Sisi-sisi sungai yang masih alami dimana pohon-pohon endemic masih terjaga, seperti pohon Gayam, Trembesi, dapuran Bambu serta banyak lagi dan beberapa batu sedimen yang masih membentang menjadikan beberapa mata air di Winongo tetap terjaga. Begitupun beberapa burung khas winongo seperti burung Drembobok, Kuntulan, Puyuh Liar, Prenjak hingga Tengkek beberapa masih sering nampak dan terdengar suara kicaunya .
Untuk menjaga dan merawat sungai warga kampung bantaran Sungai Winongo setiap tahunnya menggelar upacara Merti Winongo sebagai doa dan ungkapan syukur atas segala kelimpahan berkah hidup tentram sejahtera yang dirasakan selama hidup di bantaran sungai. Biasanya upacara merti Winongo selalu diawali dengan bersih sungai kemudian doa bersama warga yang dipimpin oleh pemuka agama dan sesepuh kampung. Menyusul kemudian ritual larung berkat dengan menghanyutkan symbol yang dipercaya sebagai berkat, baik berupa air lanang-wadon atau air tujuh sumber atau yang lainnya. Setelah itu bersamaan digelar pasar rakyat dan panggung rakyat sebagai penghiburan bersama.
Pemukiman masyarakat Sungai Winongo merupakan fenomena organic akan cepatnya pertumbuhan hunian masyarakat oleh sebab centralisasi pembangunan kota. Ruang yang tidak luas dengan kapasitas manusia yang terus bertambah menuntut mereka untuk terus bersiasat dalam bertahan hidup. Latar rumah hingga tanah berstatus wedi kengserpun menjadi penuh dibangun hunian. Dari semi permanen kemudian bertumbuh menjadi bangunan permanen. Jalan-jalan kecil kampung yang dinamakan gang secara otomatis terbentuk atas kesepakatan rukunan antar warga. Gang tersebut ukurannya tidak lebih dari 2 meter dan tujuan mendasarnya untuk memberi jalan bagi warga yang sedang terkena musibah meninggal dunia/kesripahan, dimana keranda setidaknya bisa lewat di gang tersebut. Gang rukunan akan saling terhubung satu sama lain seolah membentuk labirin.
Seiring pada tumbuh dan perkembangan secara organic kelompok masyarakat bantaran sungai tersebut Istimewanya budaya Jawa Kraton Mataram yang menjunjung nilai hamemayu hayuning bawono melebur dan ngugemi serta mengakar tumbuh mengayomi di dalamnya. Masyarakat yang notabene berasal dari berbagai latar belakang dan asal yang berbeda dan hingga hari inipun masih menjunjung norma dan tata Susila adat karaton jawa. Teposaliro, unggah ungguh, hanggarbeni terbangun dengan baik sehingga merekapun hidup bertetangga dengan rukun dan welas asih. kata manga, pinarak, nuwun sewu, nderek langkung menjadi ungkapan sapa keseharian yang bahkan menunjukkan norma kesusilaan kehidupan bertetangga.
Keberadaan beberapa Ndalem Kepangeranan yang berada di beberapa kampung bantaran Winongo juga sangat berkontribusi terhadap perkembangan tradisi di masyarakat. Arsitektur utama Dalem Kepangeranan berupa rumah adat joglo yang biasanya berukuran lebih besar dan luas dari pada joglo yang dimiliki oleh sebagian warga kampung sekitar. Sesuai filosofinya, joglo yang menyimbolkan makna keagungan, keterbukaan dan keharmonisan ini kemudian bertujuan untuk memfasilitasi sekaligus menjaga silahturahmi dengan tetangga sekitar demi menciptakan kehidupan sosial yang baik. Tak jarang acara atau hajatan yang berkaitan dengan warga kampung kemudian menggunakan Joglo. Beberapa kegiatan sanggar seni tradisipun beberapa menggunakan fasilitas joglo ndalem kepangeranan untuk mengembangkan proses kreatifnya. Seperti halnya terjadi di ndalem suryowijayan dan ndalem kaneman. Tidak sedikit seniman tari berkelas internasional lahir dan tumbuh dari sanggar yang ada disana. Inilah uniknya keterbukaan Joglo Jawa, warga bebas menggunakannya, tentu saja seijin pemiliknya. Joglo menjadi rumah adat Jawa yang sakral sekaligus rumah kerukunan-budaya bagi warganya.
Sisi lain dimana tradisi Kraton yang cukup berpengaruh di masyarakat Winongo, dahulu keberadaan akademi seni rupa Indonesia (ASRI) paling bergengsi di kota Jogja inipun juga memiliki andil besar dalam perkembangan masyarakat bantaran Sungai Winongo melek akan seni rupa modern indonesia. Selama masih aktif dari tahun 1957-1995, bangunan ASRI berdiri di kampung Gampingan yang tepatnya di wetan kali, sekarang menjadi Jogja Nasional Museum. Sebagian besar mahasiswa ASRI berasal dari luar daerah, dimana kemudian sebagian mereka selama yang bertahun-tahun menyelesaikan kuliahnya kemudian memilih tinggal, mengontrak atau ngekos di rumah warga sekitaran ASRI alias di kawasan pemukiman bantaran sungai Winongo. Sudah menjadi hal yang biasa bagi warga kampung memberikan ruang bagi mahasiswa seni yang nota bene memiliki adab yang nyleneh. Pun sebaliknya, dimana masyarakat setempat sedang memiliki hajatan dan memutuhkan bantuan, merekapun tidak segan segan bergotong-royong. Terutama pada kegiatan mendekor, menghias, bahkan hingga kegiatan yang berkaitan dengan kreatifitas pemuda dan warga. Begitupula pengaruh positif dari keberadaan SMKI, SMM dan SMSR stingkat SMK yang berada di desa nggumuk tirtinirmala Bantul.
Jauh dari cerita hungan antara masyarakat dan institusi seni di Yogyakarta. Ada satu cerita mitologi masyarakat bantaran Sungai Winongo berkaitan dengan penampakan hantu pengikut ratu pantai selatan di Sungai Winongo. Hantu tersebut dijuluki Lampor. Lampor digambarkan sebagai pasukan dari Ratu pantai Selatan Jawa atau yang tidak asing disebut Nyi Roro Kidul. Menurut cerita angin secara turun temurun, lampor akan menampakkan diri dalam wujud bunyi riuh gemuruh yang berjalan dari hilir menuju hilir Sungai Winongo. Munculnya lampor disinyalir juga sebagai penanda peristiwa pagebluk/ bencana akan datang. Kuatnya mitos tersebut diyakini di masyarakat dahulu, keludian untuk menangkal wabah pagebluk masyarakat memiliki tradisi slametan dengan cara menentukan waktu yang sama untuk secara bersama sama mengkonsumsi Jenang/bubur Sroba atau sayur Lodeh tujuh bahan dasar yang dimana di setiap keluarga batih diusahakan membuatnya sendiri.
Mitos yang kemudian membangun sebuah tradisi ini merupakan salah satu dari keunikan atas kecerdasan organik masyarakat kecil. Bagaimana mitos oleh masyarakat dikembangkan menjadi tradisi untuk melatih kewaspadaan membaca tanda-tanda jaman dan menyikapinya secara arif dalam wujud doa pengharapan juga ungkapkan rasa syukur dan pasrah atas hidupnya kepada sang pencipta serta dijauhkan dari mala-petaka. Masyarakat kampung selalu selalu memiliki cara atau “iguh” dalam memaknai hidup mereka, dimana selalu eling sangkan paraning dumadi.
Sungai Winongo masa lalu, sekarang dan nanti akan selalu dinamis dan terus menjadi pagesangan bagi masyarakat Yogyakarta. Baik atau buruk dimasa yang akan datang adalah tanggung jawab kerja bersama kita semua. Dengan sudut pandang dan pendekatan pariwisata berbasis budaya, pagesangan Sungai Winongo setidaknya memiliki arah yang lebih berdaya guna bagi dirinya dan bagi liyan. Keberlangsungan wisata kita adalah keberlangsungan akan lingkungan, keberlangsungan akan sosial budayanya hingga keberlangsungan akan kesejahteraan ekonominya. Holobis kuntul baris, saiyeg saeka praya ayo podo bangun Winongo.

Tulisan ini disusun dari berbagai sumber informasi lisan, terulis dan social media.

Oleh : Anton Subiyanto

Ndalem SuryowijayanDalem Suryowijayan beramatkan di Suryowijayan MJ I/340, Kelurahan Gedongkiwo, Kecamatan Mantrijeron, ...
14/06/2022

Ndalem Suryowijayan

Dalem Suryowijayan beramatkan di Suryowijayan MJ I/340, Kelurahan Gedongkiwo, Kecamatan Mantrijeron, Yogyakarta. Dalem Suryowijayan terletak sekitar 400 m arah barat laut Pojok Beteng Kulon. Bangunan ini dibangun sekitar 150 tahun yang lalu pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono ke VII. Pada waktu itu yang menempati Dalem Suryowijayan adalah putra dari Sri Sultan Hamengku Buwono ke VII yaitu BPH Suryowijoyo hingga namanya digunakan sebagai nama kampung Suryowijayan. Kemudian pada tahun 1935, Sri Sultan Hamengku VIII menyerahkan Dalem Suryowijayan kepada BPH Suryobrongto untuk ditempati dan beliau sebagai pengayom, pelindung di lingkup Dalem Suryowijayan. Pada zaman perjuangan kemerdekaan bangunan ini digunakan sebagai tempat perlindungan para pejuang. Kemudian pada tahun 1946 – 1949, pernah dijadikan tempat gudang logistik. Pada tahun 1955, Dalem Suryowijayan digunakan menjadi tempat Sekolah Teknik Pertama Negeri 10 selama 22 tahun sampai tahun 1977. Selain itu pernah digunakan sebagai kampus Akademi Bahasa Asing hingga tahun 1985. Dalem Suryowijayan saat ini digunakan untuk berbagai kegiatan baik dari lingkup Kampung Suryowijayan hingga ke lingkup yang lebih luas. Kegiatan yang dilakukan baik itu rutin maupun temporer pun beragam, mulai dari latihan seni tari dan karawitan, kegiatan seni rupa, olahraga, workshop, bimbingan belajar dan juga kegiatan ibadah.Pada tahun 2017 Dinas Kebudayaan DIY melakukan rehabilitasi pada bangunan ini. Sasaran pekerjaan di tempat ini adalah pada bangunan topengan, pendopo, paretan / longkangan, pringgitan, dan dalem ageng. Bangunan topengan adalah bangunan yang terletak di bagian depan dari pendopo, mempunyai atap yang terpisah/berbeda meskipun bangunan ini tersambung dengan bangunan pendopo di belakangnya. Atap bangunan topengan biasanya berbentuk limasan sedangkan atap bangunan pendopo biasanya berupa atap joglo. Bangunan pendopo adalah bangunan dengan ruangan besar tanpa dinding yang terletak di depan rumah, paretan/ longkangan adalah bangunan yang menghubungkan pendopo dengan dalem/rumah di belakangnya yang digunakan sebagai tempat turunnya pemilik rumah dari kendaraan untuk masuk ke dalam rumah, pringgitan adalah bangunan yang menempel pada bangunan rumah utama (dalem ageng) yang biasanya digunakan sebagai tempat ringgit (wayang) pada saat digelar pagelaran wayang di rumah ini.

Stasiun Dongkelan.Sejarah jalur kereta api arah selatan jogjaJalur kereta api yang ke arah selatan melalui wilayah kabup...
01/06/2022

Stasiun Dongkelan.
Sejarah jalur kereta api arah selatan jogja

Jalur kereta api yang ke arah selatan melalui wilayah kabupaten Bantul dan Kulon Progo, sisi selatan dari wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Lintas ke arah selatan tersebut menggunakan lebar spoor 1.435 mm dan memang jalur kereta api ini adalah jalur terusan dari Semarang – Solo – Yogyakarta yang merupakan jalur kereta api pertama dan dikelola oleh Nederlandsch-Indische Spoorwegmaatschappij.

Pada awalnya jalur ini oleh pemerintah Hindia Belanda dimanfaatkan untuk angkutan hasil bumi dari daerah pedalaman Jawa bagian tengah atau Vorstenlanden, yaitu wilayah Kesultanan Yogyakarta dan Surakarta. Vorstenlanden merupakan daerah paling produktif di sektor pertanian, tetapi daerah ini ketika itu sulit untuk dijangkau.

Dengan dibangunnya jaringan rel kereta api, pada saat itu diharapkan akan mempermudah proses pengangkutan hasil bumi dan produk olahan tanaman tebu dari wilayah Vorstelanden menuju ke daerah pelabuhan di pantai utara Jawa (Semarang).

Jalur kereta api dari Yogyakarta ke arah selatan dimulai pembangunannya pada kisaran tahun 1895. Selain membangun jalur rel kereta api, Nederlandsch-Indische Spoorwegmaatschappij juga membangun stasiun pemberhentian lengkap dengan fasilitas pendukung, termasuk menyiapkan rumah dinas untuk pegawainya.

Pada lintas selatan ini, dibangunlah beberapa halte dan stasiun pemberhentian kereta api. Dari beberapa stasiun tersebut terdapat juga stasiun yang memiliki jalur cabang lagi. Jalur cabang tersebut akan terhubung dengan pabrik gula terdekatnya.

Stasiun pertama yang akan dijumpai ke arah selatan adalah Ngabean. Stasiun Ngabean saat itu memiliki lebih dari 2 jalur pemberhentian kereta api. Stasiun Ngabean masih melayani perjalanan kereta api hingga kisaran tahun 1973. Setelah tidak aktif stasiun Ngabean dimanfaatkan untuk keperluan lainnya yang sekarang bisa kita lihat area emplasement stasiun yang digunakan sebagai lahan parkir bus pariwisata.

Selain bangunan, di stasiun Ngabean masih bisa kita jumpai sisa-sisa peninggalan kereta api. Sebut saja tuas pemindah wesel, sinyal masuk dan sinyal keluar stasiun, roda gerbong, serta rel jalur satu yang sengaja ditampakkan untuk memberi tanda bahwa lokasi tersebut memang pernah ada sejarah kereta api.

Kemudian menuju ke selatan akan menemui sebuah halte kecil di kawasan Dongkelan. Dahulu halte tersebut tidak seperti sekarang yang berada di depan kompleks Pasty. Bentuk awalnya hanya seperti gubuk atau pos ronda. Bentuk yang sekarang merupakan bangunan baru sebagai pengganti bangunan awal yang rusak.
Lalu di selatan dari halte Dongkelan terdapat sebuah stasiun. Stasiun ini bernama Winongo. Jalur stasiun ini juga memiliki beberapa jalur pemberhentian kereta api dan pada salah satu jalurnya memiliki cabang menuju pabrik gula Padokan. Setelah non aktif, stasiun ini juga beralih fungsi. Sekarang bangunan stasiun Winongo difungsikan sebagai tempat pertemuan serta menyimpan barang inventaris warga dusun Glodong.

Tiket kereta api dari stasiun Winongo yang waktu itu harganya Rp. 1, berlaku untuk kereta api yang menuju ke Bantul atau Palbapang serta kota Yogyakarta yang sangat ramai (tahun 1960-1970an) bila Lebaran dan ada perayaan Sekaten di Keraton Yogyakarta.

Setelah dari Winongo ke arah selatan terdapat halte Cepit. Namun saat ini halte Cepit telah hilang tak berbekas. Lokasi halte ini diperkirakan berada di sekitaran pos polisi pertigaan Cepit jalan Bantul.

Melanjutkan perjalanan ke selatan hingga di kota Bantul sendiri terdapat sebuah stasiun. Stasiun Bantul atau Pasar Bantul namanya. Stasiun ini juga memiliki jalur yang terhubung dengan jaringan jalur kereta api yang menuju ke pabrik gula Bantul. Sama halnya dengan stasiun Ngabean dan Winongo, stasiun Bantul setelah melalui masa baktinya juga beralih fungsi.

Karena bangunan stasiun letaknya sangat strategis di seberang pasar Bantul, maka bangunan stasiun ini sekarang dimanfaatkan oleh warga sebagai warung makan dan bengkel sepeda motor. Sekilas wujud bangunan masih seperti aslinya, namun jika diamati lagi maka akan terlihat beberapa rombakan yang disesuaikan dengan fungsinya saat ini.

Masih ada satu lagi stasiun di selatan Bantul. Stasiun Palbapang, ketika itu menjadi yang paling besar statusnya yang berada di lintas selatan kota Yogyakarta. Stasiun ini memiliki emplasement yang luas dan di sebelah timurnya terdapat sebuah depo perawatan lokomotif.

Sama seperti stasiun lainnya di lintas selatan Yogyakarta, stasiun Palbapang juga nonaktif pada 1973. Ketika angkutan jalan raya mulai lebih diminati oleh masyarakat dan pelebaran jalan, mau tak mau angkutan berbasis rel ini harus menerima nasibnya kalah saing dengan angkutan lainnya.

Sekarang stasiun Palbapang hanya tersisa bangunan utama dan alat p***a air serta deretan rumah dinas pegawai saja. Untuk bangunan depo perawatan lokomotif hanya tersisa bagian pondasi saja.

Stasiun ini sebelum tahun 1942 bukan merupakan stasiun terminus atau paling ujung dari jalur selatan Yogyakarta. Masih terdapat terusan jalur kereta api ke arah barat menuju ke Kulon Progo bagian selatan.

Penulisan diambil dari berbagai sumber.

Di kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta ada kampung yang bernama Gedongkiwo. Sebelum Pemerintah Kota Yogyakarta member...
27/05/2022

Di kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta ada kampung yang bernama Gedongkiwo. Sebelum Pemerintah Kota Yogyakarta memberi nama kampung tersebut dengan nama gedongkiwo, kampung tersebut terlebih dahulu dikenal dengan kampung Condronegaran.

Nama Condronegaran berpusat dari nama sebuah ndalem yang berada hampir di tengah-tengah kampung gedongkiwo yang diberi nama Ndalem Condronegaran. Ndalem Condronegaran dibangun pada masa Sultan Hamengkubuwono VII bertahta di Kasultanan Ngayogyokarto Hadiningrat pada tahun 1877 hingga 1920.

https://kampungwisatasekarniti.blogspot.com/2022/04/condronegaran-kampungwisata-sekarniti.html?m=1

Address

Yogyakarta City
55141

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pokdarwis Gedongkiwo posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category