11/11/2018
CHI Award Beri Penghargaan Pahlawan Warisan Budaya Batik
Yayasan Al-Mar melalui Divisi Budaya yang disebut The Culture Heritage of Indonesia (CHI) memberikan penghargaan khusus kepada enam pahlawan warisan budaya batik. Penghargaan diberikan tepat pada peringatan Hari Pahlawan.
Salah satu pendiri Yayasan Al Mar, Insana Ilham Habibie mengungkapkan batik tidak hanya seputar industri tekstil. Lebih dari itu, batik adalah cerminan budaya Indonesia yang harus dilestarikan.
"Batik ngga hanya bikin tekstil tapi budaya yang bisa menandakan sebagai orang Indonesia, pemersatu," katanya saat jumpa pers di Jakarta, Sabtu (10/11).
Untuk memberikan penghargaan tersebut, pihaknya sudah mengumpulkan beberapa nama pengrajin, keluarga selama berbulan-bulan. Menurutnya, karya batik adalah kerja tim yang sangat rumit mulai dari mengoles malam hingga mewarnai.
Perancang mode Indonesia Musa Widyatmodjo menambahkan batik merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan. Namun, selama ini pengrajin di balik proses karya batik seringkali terlupakan. Misalnya pengrajin canting, pengrajin malam, dan pengrajin cap.
Musa mengaku kaget harga canting yang dijual hanya Rp 3000 per buah padahal di tempat lain bisa mencapai Rp 25 ribu. Begitu juga dengan cap.
"Cap-cap kita yang lama, antik yang sudah ngga dibuat lagi banyak yang dijual ke Malaysia, satu kontainer dijual kesana. Salahkah yang menjual, tidak, karena mereka butuh uang untuk hidup. Tapi kesadaran bangsa yang kaya raya kurang peka," ujarnya.
CHI Heritage sendiri memiliki tujuan untuk turut berperan dalam melestarikan dan mengembangkan warisan budaya Indonesia. Kepedulian CHI pada kelangsungan warisan budaya Indonesia ini antara lain dituangkan dalam bentuk pemberian penghargaan kepada para pahlawan warisan budaya Indonesia dan untuk kali yangpertama penghargaan ini diberikan kepada para pejuang di balik bertahannya industri Batik.
CHI Award 2018, merupakan sebuah apresiasi kepada para pahlawan warisan batik di Indonesia. Dari awal hingga selesai, proses batik merupakan pekerjaan tangan yang penuh cita rasa seni dengan keteguhan hati dalam melaksanakannya. Bahkan dalam menciptakan peralatan untuk membatik pun juga dilakukan dengan penuh cita rasa seni, ketrampilan tangan dan sekali lagi keteguhan hati yang tidak semua orang memilikinya.
CHI Award 2018 diberikan kepada kategori pelestari diberikan. Kemudian kategori Penerus, Inovator, dan jugaPenghargaan Khusus (Legacy). Juga kategori inovator, dan terakhir penghargaan khusus yang diberikan pada Go Tik Swan atau Panembahan Hardjonagoro. Go Tik Swan adalah orang yang mendapat tugas dari Presiden Soekarno untuk membuat Batik Indonesia. Batik Indonesia yang dibuat Go Tik Swan pada dasarnya merupakan hasil perkawinan batik klasik keraton—terutama gaya batik Surakarta dan Yogyakarta—dengan batik gaya pesisir utara Jawa Tengah, terutama Pekalongan.
Duduk sebagai Dewan Pemerhati Seni Budaya untuk CHI Award 2018 adalah Neneng Iskandar dari Wastraprema; Musa Widyatmodjo (Perancang mode Indonesia), William Kwan (pengamat wastra batik); Insana Ilham Habibie (kreator batik); dan Wiwit Ilham Panjaitan (Inisiator dan Pendiri CHI Heritage – Warisan Budaya Indonesia).
Penghargaan ini untuk pertama kalinya akan diadakan bertepatan dengan Hari Pahlawan.
https://www.suaramerdeka.com/news/baca/144260/chi-award-beri-penghargaan-pahlawan-warisan-budaya-batik