03/01/2022
*TRAUMA BID'AH: SYAHWAT TERSEMBUNYI KAUM WAHABI*
Oleh *Ayik Heriansyah*
_Pada suatu saat seorang Ustadz Salafi Wahabi ngajak saya ikut paham mereka. Saya bilang, boleh, asal tunjukkan dulu satu saja hadits yang menceritakan bahwa Nabi saw pernah membid'ahkan orang lain. Ternyata sampai detik ini Ustadz Salafi Wahabi tadi belum mengirim hadits yang saya minta._
Polemik tentang sunnah dan bid’ah muncul disebabkan oleh faktor ghirah (semangat) ingin meneladani sunnah Nabi Muhammad saw pada semua aspek kehidupan. Ghirah yang lahir dari rasa mahabbah (cinta) sebagai manifestasi keimanan kepada Nabi Muhammad saw.
Ghirah yang sangat positif dan harus dipupuk dan dirawat sampai ajal menjemput. Mudah-mudahan menjadi washilah (sarana) mendapatkan barakah dan syafa’at dari Nabi Muhammad saw.
Sunnah dan bid’ah menjadi masalah setelah masuknya pemahaman Wahabiyah di kalangan umat Islam abad 19. Kemudian berbuntut panjang. Berawal dari kesederhanaan kalangan wahabi dalam memaknai bid’ah, yaitu segala sesuatu yang tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad saw.
Bagi wahabi, bid’ah terkait erat dengan af’al zhahir Nabi saw. Apa yang dilakukan Nabi saw, disebut sunnah, sebaliknya perbuatan yang tidak pernah dikerjakan Nabi saw, adalah bid’ah. Kemudian berlanjut, pelaku bid’ah dianggap sesat (dhalal), orang sesat tempatnya di neraka.
Kesederhanaan pemahaman wahabi ini memicu sikap saling membid’ahkan termasuk sesama mereka sendiri. Apalagi kepada umat di luar wahabi.
Seolah-olah mereka punya “dalil” untuk menyesatkan dan menerakakan umat non wahabi yang sebenarnya untuk mengunggulkan golongan mereka di atas golongan umat yang lain. Secara sosiologi agama, pemahaman ini secara tidak langsung telah menanam benih konflik di tengah masyarakat yang majemuk.
Ghirah mengikuti sunnah Nabi Muhammad saw tidak diimbangi dengan kesungguhan dalam memahami sunnah Nabi saw secara mendalam dan meluas, mencerminkan ketidakjujuran ghirah itu sendiri. Ada syahwat tersembunyi di baliknya.
bersambung .