Fiji Tour

Fiji Tour TRAVEL BEYOND BOUNDARY PT.

Fiji Tours and Travel has engaged in tourism industry since 2009, specialize on corporate market segment that fly with Garuda Indonesia and Korea is our main tour destination.

09/06/2020

Incharge for ours Social Media Accounts

Wedi Ombo   soft white sand beach in Gunung Kidul
11/05/2015

Wedi Ombo soft white sand beach in Gunung Kidul

Taman Laut Kep**auan Derawan.Menempati urutan ketiga teratas taman laut terindah di dunia. Ayo kunjungi sekarang juga!
05/05/2015

Taman Laut Kep**auan Derawan.
Menempati urutan ketiga teratas taman laut terindah di dunia. Ayo kunjungi sekarang juga!

05/05/2015

Live in Concert,24 May 2015 at Senayan Jakarta.Dapatakan tiketnya di Fiji Tour and Travel ^_^

20/04/2014

adalah nama salah satu p**au di **auan Seribu, yang jadi destinasi akhir pekan favorit warga Jakarta. Di sekitar p**au ini, banyak spot snorkeling dengan banyak biota laut. Perairannya pun jernih.

Waktu traveling ke Pulau Harapan, saya bersama 12 teman lainnya berkumpul di SPBU Muara Angke pukul 06.00 WIB. Sementara 2 orang lagi lewat Pelabuhan Marina di Ancol. Kami bertemu dengan pemandu yakni Mas Erwin serta fotografer kami, Mas Eddy.

Pukul 06.15 WIB kami naik kapal Dolphin. Beberapa dari kami memilih tempat di atas. Meski panas, namun matahari belum benar-benar terik karena hari masih pagi. Setelah menunggu lebih dari 1 jam, akhirnya kapal berangkat pukul 07.39 WIB.

Pukul 09.45 WIB kami tiba di Pulau Pramuka untuk menurunkan penumpang. Kapal berhenti sekitar 15 menit, dan kami pun pindah ke dek bawah. Setelah 3 jam perjalanan dari Muara Angke, tibalah kami di dermaga Pulau Harapan pukul 10.30 WIB.

Dermaga Pulau Harapan memang tak berpasir putih, hanya dibatasu beton. Kami pun jalan kaki ke homestay dekat dermaga, cukup bersih dan rapi. Di dalamnya ada 3 kamar tidur, ruang TV, meja makan, dispenser, dan ruang tamu. Sayangnya hanya ada 1 kamar mandi di homestay kami.

Usai menaruh barang, kami menyantap gorengan dan sirup jeruk yang disiapkan pemilik homestay. Tak sabar ingin snorkeling, kami pun kemudian menyantap makan siang yang juga tersedia. Menunya adalah ayam bakar, sayur lodeh, kerupuk, dan semangka. Kami pun lanjut bersiap-siap island hopping.

Pukul 11.45 WIB kami sudah di kapal, menunggu pemandu lokal yang bernama Mas Azis. Pemilik kapal sudah mempersiapkan peralatan snorkeling. Tak lama kemudian kami berangkat, tujuan pertama adalah Pulau Genteng.

Menuju Pulau Genteng butuh waktu sektiar 1 jam. Kami pun bersiap-siap dan menceburkan diri ke laut. Sayangnya di sekitar Pulau Genteng ikannya kurang banyak, meski terumbu karangnya cukup bagus. Namun ada bintang laut warna biru yang cantik di sini.

Usai puas berfoto, kami kembali ke kapal dan menuju spot yang katanya lebih bagus. Tepatnya di Pulau Macan, yang letaknya tak jauh dari Pulau Genteng. Cukup banyak ikan di sini, pun bintang laut warna cokelat. Kami pun memberi makan roti ke ikan-ikan tersebut.

Perjalanan berlanjut ke Pulau Kusung Perak. Pasirnya sangat putih dan lembut, tapi kita harus berhati-hati karena ada bulu babi di beberapa tempat. Dan ternyata, di tempat ini ada ubur-ubur jarum. Awalnya kami heran karena kulit kami seperti ditusuk-tusuk dan terasa pedih. Kemudian pemandu kami bilang, itu adalah ubur-ubur jarum yang sangat kecil.

Sengatannya hanya terasa sebentar, dan hilang setelah beberapa saat. Tapi kalau kita tidak sengaja mengganggu kerumunan ubur-ubur ini, kita akan digigit kemudian bentol-bentol. Bentol tersebut baru akan hiilang 1 minggu lamanya!

Puas snorkeling, kami beristirahat di Pulau Perak. Kami makan snack sambil duduk di kursi, melepas lelah selama sekitar 30 menit. Mas Erwin pun memberikan pilihan, apakah kami mau snorkeling lagi atau bertolak ke Gosongan.

Tentu saja kami ingin ke Gosongan, menikmati pasir putih lembut di tengah lautan. Untungnya air laut sedang surut, sehingga kami bisa menikmati gosongan tersebut. Kami menyusurinya sampai ujung, berfoto ria. Kami harus melewati pasir penuh kulit kerang, rasanya seperti refleksi kaki. Tapi kami pun harus berhati-hati karena ada bulu babi di beberapa tempat.

Gosongan adalah tempat yang tepat menikmati matahari terbenam, meski ada orang yang berjualan di temapt ini. Sebelum matahari benar-benar tenggelam, kami meninggalkan Gosongan dan menikmati sunset yang indah dari kapal. Langitnya berwarna merah kekuningan.

Perjalanan kami memakan waktu 40 menit. Sampai di homestay, makan malam telah tersedia. Ada ikan bakar, cumi goreng tepung, sayur sop dan buah melon. Karena kamar mandinya hanya 1, kami menunggu giliran sambil menyantap makan malam. Ada beberapa teman yang menumpang kamar mandi di homestay Mas Erwin maupun rumah pemilik homestay dan pemilik warung.

Usai selesai mandi, pukul 21.00 WIB kami bersiap menerbangkan lampion dan menyalakan kembang api di dekat dermaga. Untungnya angin tak terlalu kencang, kami pun menyalakan lampion dengan mudah. Sungguh indah melihat langit penuh bintang dan lampion terbang. Kami juga membuat huruf dari kembang api dan berfoto ria.

Puas bermain, kami pun menyantap barbecue yang disiapkan yakni jagung bakar, ikan bakar, dan sate cumi. Puas makan, kami kembali ke homestay dan istirahat.

Hari kedua, beberapa dari kami bangun pukul 05.00 WIB untuk menyusuri Pulau Harapan. Pulau ini tak besar, kami mengelilinginya kurang dari 1 jam. Sayangnya, tak ada pantai di p**au ini. Sampahnya juga cukup banyak, terutama di sekitar rumah penduduk.

Mungkin hal ini bisa jadi perhatian pemerintah dan masyarakat setempat, untuk lebih menjaga kebersihan. Karena masih pagi, kami pun menyambangi Pulau Kelapa yang terhubung oleh jembatan dari Pulau Harapan. Pulau Kelapa juga tak terlalu besar.

Usai jalan-jalan sekitar 1,5 jam, kami kembali ke homestay untuk sarapan. Menunya adalah nasi uduk, mie goreng, telur balado, dan kerupuk. Tepat pukul 08.00 WIB kami berangkat ke Pulau Kotok untuk melihat penangkaran Elang Bondol. Perjalanannya sekitar 40 menit, dengan ombak yang agak besar.

Namun kami beruntung, karena di tengah perjalanan kami bertemu lumba-lumba. Kalau berangkat lebih pagi, mungkin kami bisa melihat lebih banyak lumba-lumba!

Tibalah kami di Pulau Kotok. Pulau ini cukup besar dengan banyak pohon rindang. Di penangkarannya, ada 2 jenis elang yakni Bondol dan Elang Laut. Elang Bondol jadi salah satu ikon Jakarta, yang tampak dari logo bus Transjakarta. Sebenarnya da 2 jenis elang lagi yaitu Elang Tiram yang hampir punah dan Elang Kepala Abu yang sudah punah.

Setelah bertanya-tanya kepada petugas dan mengambil beberapa foto, kami pun mengunjungi Pulau Kelapa Dua untuk melihat penangkaran penyu sebelum kami p**ang ke Pulau Harapan.

Pukul 11.40 WIB tibalah kami di dermaga, kemudian bergegas berkemas untuk kembali ke Jakarta. Kami hanya menyantap mie instan karena di Pulau Harapan tidak ada warung makan. Akhirnya pukul 12.00 WIB kami naik ke Kapal Dolphin dan bersiap p**ang. Pukul 12.30 WIB kapal pun berangkat. Kapal Dolphin mampir sekitar 30 menit di Pulau Pramuka untuk mengangkut penumpang. Akhirnya pukul 15.30 WIB, sampailah kami di Muara Angke.

Berakhirlah perjalanan akhir pekan kami ke Pulau Harapan. Banyak spot snorkeling seru di p**au-p**au di sekitarnya!

  adalah nama salah satu p**au di  **auan Seribu, yang jadi destinasi akhir pekan favorit warga Jakarta. Di sekitar p**a...
20/04/2014

adalah nama salah satu p**au di **auan Seribu, yang jadi destinasi akhir pekan favorit warga Jakarta. Di sekitar p**au ini, banyak spot snorkeling dengan banyak biota laut. Perairannya pun jernih.

Waktu traveling ke Pulau Harapan, saya bersama 12 teman lainnya berkumpul di SPBU Muara Angke pukul 06.00 WIB. Sementara 2 orang lagi lewat Pelabuhan Marina di Ancol. Kami bertemu dengan pemandu yakni Mas Erwin serta fotografer kami, Mas Eddy.

Pukul 06.15 WIB kami naik kapal Dolphin. Beberapa dari kami memilih tempat di atas. Meski panas, namun matahari belum benar-benar terik karena hari masih pagi. Setelah menunggu lebih dari 1 jam, akhirnya kapal berangkat pukul 07.39 WIB.

Pukul 09.45 WIB kami tiba di Pulau Pramuka untuk menurunkan penumpang. Kapal berhenti sekitar 15 menit, dan kami pun pindah ke dek bawah. Setelah 3 jam perjalanan dari Muara Angke, tibalah kami di dermaga Pulau Harapan pukul 10.30 WIB.

Dermaga Pulau Harapan memang tak berpasir putih, hanya dibatasu beton. Kami pun jalan kaki ke homestay dekat dermaga, cukup bersih dan rapi. Di dalamnya ada 3 kamar tidur, ruang TV, meja makan, dispenser, dan ruang tamu. Sayangnya hanya ada 1 kamar mandi di homestay kami.

Usai menaruh barang, kami menyantap gorengan dan sirup jeruk yang disiapkan pemilik homestay. Tak sabar ingin snorkeling, kami pun kemudian menyantap makan siang yang juga tersedia. Menunya adalah ayam bakar, sayur lodeh, kerupuk, dan semangka. Kami pun lanjut bersiap-siap island hopping.

Pukul 11.45 WIB kami sudah di kapal, menunggu pemandu lokal yang bernama Mas Azis. Pemilik kapal sudah mempersiapkan peralatan snorkeling. Tak lama kemudian kami berangkat, tujuan pertama adalah Pulau Genteng.

Menuju Pulau Genteng butuh waktu sektiar 1 jam. Kami pun bersiap-siap dan menceburkan diri ke laut. Sayangnya di sekitar Pulau Genteng ikannya kurang banyak, meski terumbu karangnya cukup bagus. Namun ada bintang laut warna biru yang cantik di sini.

Usai puas berfoto, kami kembali ke kapal dan menuju spot yang katanya lebih bagus. Tepatnya di Pulau Macan, yang letaknya tak jauh dari Pulau Genteng. Cukup banyak ikan di sini, pun bintang laut warna cokelat. Kami pun memberi makan roti ke ikan-ikan tersebut.

Perjalanan berlanjut ke Pulau Kusung Perak. Pasirnya sangat putih dan lembut, tapi kita harus berhati-hati karena ada bulu babi di beberapa tempat. Dan ternyata, di tempat ini ada ubur-ubur jarum. Awalnya kami heran karena kulit kami seperti ditusuk-tusuk dan terasa pedih. Kemudian pemandu kami bilang, itu adalah ubur-ubur jarum yang sangat kecil.

Sengatannya hanya terasa sebentar, dan hilang setelah beberapa saat. Tapi kalau kita tidak sengaja mengganggu kerumunan ubur-ubur ini, kita akan digigit kemudian bentol-bentol. Bentol tersebut baru akan hiilang 1 minggu lamanya!

Puas snorkeling, kami beristirahat di Pulau Perak. Kami makan snack sambil duduk di kursi, melepas lelah selama sekitar 30 menit. Mas Erwin pun memberikan pilihan, apakah kami mau snorkeling lagi atau bertolak ke Gosongan.

Tentu saja kami ingin ke Gosongan, menikmati pasir putih lembut di tengah lautan. Untungnya air laut sedang surut, sehingga kami bisa menikmati gosongan tersebut. Kami menyusurinya sampai ujung, berfoto ria. Kami harus melewati pasir penuh kulit kerang, rasanya seperti refleksi kaki. Tapi kami pun harus berhati-hati karena ada bulu babi di beberapa tempat.

Gosongan adalah tempat yang tepat menikmati matahari terbenam, meski ada orang yang berjualan di temapt ini. Sebelum matahari benar-benar tenggelam, kami meninggalkan Gosongan dan menikmati sunset yang indah dari kapal. Langitnya berwarna merah kekuningan.

Perjalanan kami memakan waktu 40 menit. Sampai di homestay, makan malam telah tersedia. Ada ikan bakar, cumi goreng tepung, sayur sop dan buah melon. Karena kamar mandinya hanya 1, kami menunggu giliran sambil menyantap makan malam. Ada beberapa teman yang menumpang kamar mandi di homestay Mas Erwin maupun rumah pemilik homestay dan pemilik warung.

Usai selesai mandi, pukul 21.00 WIB kami bersiap menerbangkan lampion dan menyalakan kembang api di dekat dermaga. Untungnya angin tak terlalu kencang, kami pun menyalakan lampion dengan mudah. Sungguh indah melihat langit penuh bintang dan lampion terbang. Kami juga membuat huruf dari kembang api dan berfoto ria.

Puas bermain, kami pun menyantap barbecue yang disiapkan yakni jagung bakar, ikan bakar, dan sate cumi. Puas makan, kami kembali ke homestay dan istirahat.

Hari kedua, beberapa dari kami bangun pukul 05.00 WIB untuk menyusuri Pulau Harapan. Pulau ini tak besar, kami mengelilinginya kurang dari 1 jam. Sayangnya, tak ada pantai di p**au ini. Sampahnya juga cukup banyak, terutama di sekitar rumah penduduk.

Mungkin hal ini bisa jadi perhatian pemerintah dan masyarakat setempat, untuk lebih menjaga kebersihan. Karena masih pagi, kami pun menyambangi Pulau Kelapa yang terhubung oleh jembatan dari Pulau Harapan. Pulau Kelapa juga tak terlalu besar.

Usai jalan-jalan sekitar 1,5 jam, kami kembali ke homestay untuk sarapan. Menunya adalah nasi uduk, mie goreng, telur balado, dan kerupuk. Tepat pukul 08.00 WIB kami berangkat ke Pulau Kotok untuk melihat penangkaran Elang Bondol. Perjalanannya sekitar 40 menit, dengan ombak yang agak besar.

Namun kami beruntung, karena di tengah perjalanan kami bertemu lumba-lumba. Kalau berangkat lebih pagi, mungkin kami bisa melihat lebih banyak lumba-lumba!

Tibalah kami di Pulau Kotok. Pulau ini cukup besar dengan banyak pohon rindang. Di penangkarannya, ada 2 jenis elang yakni Bondol dan Elang Laut. Elang Bondol jadi salah satu ikon Jakarta, yang tampak dari logo bus Transjakarta. Sebenarnya da 2 jenis elang lagi yaitu Elang Tiram yang hampir punah dan Elang Kepala Abu yang sudah punah.

Setelah bertanya-tanya kepada petugas dan mengambil beberapa foto, kami pun mengunjungi Pulau Kelapa Dua untuk melihat penangkaran penyu sebelum kami p**ang ke Pulau Harapan.

Pukul 11.40 WIB tibalah kami di dermaga, kemudian bergegas berkemas untuk kembali ke Jakarta. Kami hanya menyantap mie instan karena di Pulau Harapan tidak ada warung makan. Akhirnya pukul 12.00 WIB kami naik ke Kapal Dolphin dan bersiap p**ang. Pukul 12.30 WIB kapal pun berangkat. Kapal Dolphin mampir sekitar 30 menit di Pulau Pramuka untuk mengangkut penumpang. Akhirnya pukul 15.30 WIB, sampailah kami di Muara Angke.

Berakhirlah perjalanan akhir pekan kami ke Pulau Harapan. Banyak spot snorkeling seru di p**au-p**au di sekitarnya!

20/04/2014

Redang, Surga di Pantai Timur

SINAR matahari perlahan terasa menghangat di tangan. Hawa dingin pun beranjak panas, menggantikan kesejukan pagi yang sedari tadi menerpa wajah sepanjang perjalanan dari pusat kota Kuala Terengganu ke Shahbandar Jetty untuk menuju Pulau Redang.

Namun, puputan angin segar kembali menyapa saat perahu boat yang kami tumpangi memasuki perairan Laut Cina Selatan. Dari bagian belakang perahu, panorama cantik perairan pun langsung terasa.

Langit biru bersih. Hamparan pasir putih yang lembut begitu menggoda hati. Warna air laut berlapis biru dan hijau toska laiknya coretan kuas lukisan surealis karya seniman asal Spanyol, Salvador Dali.

Di pojok kiri, batu granit abu-abu membentuk gugusan unik. Di sela-sela bebatuan, air laut keluar-masuk, diantar laju ombak yang pelan. Agak ke tengah laut, terlihat juga p**au kecil yang semakin membuat keindahan mengalir tanpa habis.

"Sangat indah sekali, seperti surga," kata pelancong asal Spanyol, Rob Steward, dengan mimik serius. Mata lelaki berusia 45 tahun itu tidak berhenti memandangi pesona alam di sepanjang perairan Pulau Redang.

Steward adalah salah satu peserta Festival Terengganu International Squid Jigging 2014. Selain Steward, beberapa peserta yang juga ikut dalam rombongan pun merasakan hal sama. Mereka semua terbius dengan pesona Pulau Redang di hamparan Laut Cina Selatan begitu menyejukkan mata.

Terbesar

Kep**auan Redang telah ditunjuk sebagai Taman Laut Pulau Redang Malaysia untuk melestarikan ekosistem yang ada di sekitar p**au. Maklum, dikabarkan terdapat ratusan spesies karang hidup dan ribuan jenis invertebrata serta ikan terdapat pada p**au yang memiliki panjang 7 kilometer dan lebar 6 kilometer tersebut.

Di sekitar p**au Redang ada p**a gugusan p**au lain yang tak kalah menarik. Sebut saja Pulau Pinang, Pulau Ling, Pulau Ekor Tebu, Pulau Kerengga Besar, Pulau Kerengga Kecil, Pulau Paku Besar, Pulau Paku Kecil, hingga Pulau Lima.

Butuh waktu sekitar 1,5 jam untuk mencapai Pulau Redang dari Shahbandar Jetty. Meski begitu, lamanya perjalanan akan terbayar dengan pemandangan indah hingga mencapai tempat tujuan. Begitu menjejakkan kaki di dermaga kecil, panorama pun seakan mengucapkan ungkapan selamat datang.

Pasir, air laut, dan batu granit di p**au makin memikat karena dibungkus dalam suasana yang alami. Jika berkesempatan snorkeling, kita bisa menikmati terumbu karang yang memiliki aneka bentuk dan warna. Selain itu terdapat p**a ikan-ikan kecil yang membuat estetika semakin terasa.
Masyarakat setempat punya cerita, konon nama Redang diambil karena di sekitar pesisir banyak tumbuh pohon redang. Selain itu, ada p**a cerita mengenai mitos kura-kura raksasa yang muncul di Tanjung Batu Pepanji, sebuah daerah yang terletak di antara Teluk Dalam dan Pasir Changar Hutang.

"Karena itu di Taman Laut p**au ini terdapat pembudidayaan kura-kura. Mereka semua dipelihara sebelum dikembalikan ke habitatnya di laut," ujar salah satu pemandu wisata, Tan Jung Leong kepada Kompas.com.

Soal fasilitas penginapan, mungkin tidak terlalu merisaukan. Beberapa p**au di Taman Laut Redang, sudah dilengkapi hotel atau resor. Untuk Pulau Redang sendiri memiliki Laguna Redang Island Resort sebagai andalan.

Ketenangan, keindahan, dan kealamian itulah yang membuat beberapa peserta festival squid jigging seakan jatuh cinta dengan Pulau Redang. Meski terik matahari cukup terasa, keindahan Pulau Redang memupuskan itu semua. Suasana sungguh menenteramkan, terutama bagi orang-orang kota yang jenuh dengan rutinitas hidup. Wajar saja jika ada peserta yang menyebut p**au itu seperti surga...

  Redang, Surga di Pantai Timur  SINAR matahari perlahan terasa menghangat di tangan. Hawa dingin pun beranjak panas, me...
20/04/2014

Redang, Surga di Pantai Timur

SINAR matahari perlahan terasa menghangat di tangan. Hawa dingin pun beranjak panas, menggantikan kesejukan pagi yang sedari tadi menerpa wajah sepanjang perjalanan dari pusat kota Kuala Terengganu ke Shahbandar Jetty untuk menuju Pulau Redang.

Namun, puputan angin segar kembali menyapa saat perahu boat yang kami tumpangi memasuki perairan Laut Cina Selatan. Dari bagian belakang perahu, panorama cantik perairan pun langsung terasa.

Langit biru bersih. Hamparan pasir putih yang lembut begitu menggoda hati. Warna air laut berlapis biru dan hijau toska laiknya coretan kuas lukisan surealis karya seniman asal Spanyol, Salvador Dali.

Di pojok kiri, batu granit abu-abu membentuk gugusan unik. Di sela-sela bebatuan, air laut keluar-masuk, diantar laju ombak yang pelan. Agak ke tengah laut, terlihat juga p**au kecil yang semakin membuat keindahan mengalir tanpa habis.

"Sangat indah sekali, seperti surga," kata pelancong asal Spanyol, Rob Steward, dengan mimik serius. Mata lelaki berusia 45 tahun itu tidak berhenti memandangi pesona alam di sepanjang perairan Pulau Redang.

Steward adalah salah satu peserta Festival Terengganu International Squid Jigging 2014. Selain Steward, beberapa peserta yang juga ikut dalam rombongan pun merasakan hal sama. Mereka semua terbius dengan pesona Pulau Redang di hamparan Laut Cina Selatan begitu menyejukkan mata.

Terbesar

Kep**auan Redang telah ditunjuk sebagai Taman Laut Pulau Redang Malaysia untuk melestarikan ekosistem yang ada di sekitar p**au. Maklum, dikabarkan terdapat ratusan spesies karang hidup dan ribuan jenis invertebrata serta ikan terdapat pada p**au yang memiliki panjang 7 kilometer dan lebar 6 kilometer tersebut.

Di sekitar p**au Redang ada p**a gugusan p**au lain yang tak kalah menarik. Sebut saja Pulau Pinang, Pulau Ling, Pulau Ekor Tebu, Pulau Kerengga Besar, Pulau Kerengga Kecil, Pulau Paku Besar, Pulau Paku Kecil, hingga Pulau Lima.

Butuh waktu sekitar 1,5 jam untuk mencapai Pulau Redang dari Shahbandar Jetty. Meski begitu, lamanya perjalanan akan terbayar dengan pemandangan indah hingga mencapai tempat tujuan. Begitu menjejakkan kaki di dermaga kecil, panorama pun seakan mengucapkan ungkapan selamat datang.

Pasir, air laut, dan batu granit di p**au makin memikat karena dibungkus dalam suasana yang alami. Jika berkesempatan snorkeling, kita bisa menikmati terumbu karang yang memiliki aneka bentuk dan warna. Selain itu terdapat p**a ikan-ikan kecil yang membuat estetika semakin terasa.
Masyarakat setempat punya cerita, konon nama Redang diambil karena di sekitar pesisir banyak tumbuh pohon redang. Selain itu, ada p**a cerita mengenai mitos kura-kura raksasa yang muncul di Tanjung Batu Pepanji, sebuah daerah yang terletak di antara Teluk Dalam dan Pasir Changar Hutang.

"Karena itu di Taman Laut p**au ini terdapat pembudidayaan kura-kura. Mereka semua dipelihara sebelum dikembalikan ke habitatnya di laut," ujar salah satu pemandu wisata, Tan Jung Leong kepada Kompas.com.

Soal fasilitas penginapan, mungkin tidak terlalu merisaukan. Beberapa p**au di Taman Laut Redang, sudah dilengkapi hotel atau resor. Untuk Pulau Redang sendiri memiliki Laguna Redang Island Resort sebagai andalan.

Ketenangan, keindahan, dan kealamian itulah yang membuat beberapa peserta festival squid jigging seakan jatuh cinta dengan Pulau Redang. Meski terik matahari cukup terasa, keindahan Pulau Redang memupuskan itu semua. Suasana sungguh menenteramkan, terutama bagi orang-orang kota yang jenuh dengan rutinitas hidup. Wajar saja jika ada peserta yang menyebut p**au itu seperti surga...

20/04/2014

Raya Ir H Djuanda di menawarkan wisata alam yang menarik untuk liburan panjang. Ada pohon unik dan langka, salah satunya adalah Pohon Pelangi. Warna kulitnya yang mengelupas berwarna pelangi.

Jika hal yang berkaitan dengan sejarah menjadi kesukaan Anda, Gua Jepang, Gua Belanda, dan prasasti peninggalan dua raja Thailand bisa menjadi tujuan di Hutan Raya Ir H Djuanda di Bandung. Anda juga bisa melihat-lihat koleksi tumbuhan yang unik, misalnya saja anggrek terkecil di dunia yang biasa dikenal dengan anggrek akar, atau anggrek hantu (Taeniophyllum) atau kalau lagi mekar, Anda juga bisa melihat bunga bangkai (Amorpophalus titanum).

Di antara flora yang unik-unik itu, ada satu pohon yang bisa jadi akan menarik perhatian Anda, Pohon Pelangi atau Rainbow tree. Menurut Kang Ganjar, salah seorang Jagawana di Tahura, warna pelangi ini muncul dari kulit pohon yang mengelupas.

Lapisan-lapisan kulit pohon ini tidak mengelupas pada saat yang bersamaan. Begitu lapisan kulit luarnya hilang, lalu kulit-kulit baru pun tumbuh.

Kulit baru itu kemudian berubah warna menjadi biru, oranye, merah, dan lain sebagainya. Perubahan warna itu menjadi sangat atraktif, dilatar belakangi oleh warna batang yang hijau cerah. Unik deh.

Eucalyptus Deglupta, begitu nama latinnya, merupakan spesies Eucalyptus yang tumbuh di belahan bumi utara. Pohon ini paling banyak dijumpai di Inggris, Papua Nugini, Seram, Sulawesi dan Mindanao.

Karena dia merupakan jenis Eucaliptus, maka ketika kita mendekatinya, akan tercium aroma kayu putih. Secara Eucalytus kan merupakan bahan kayu putih. Oh iya. pohon ini juga kesukaannya koala, binatang khas dari Australia.

Nah yang akan berakhir pekan dan jalan-jalan di Taman Hutan Raya Ir H Djuanda, jangan lewatkan menengok salah satu keindahan alam itu ya. Salam lestari!

  Raya Ir H Djuanda di   menawarkan wisata alam yang menarik untuk liburan panjang. Ada pohon unik dan langka, salah sat...
20/04/2014

Raya Ir H Djuanda di menawarkan wisata alam yang menarik untuk liburan panjang. Ada pohon unik dan langka, salah satunya adalah Pohon Pelangi. Warna kulitnya yang mengelupas berwarna pelangi.

Jika hal yang berkaitan dengan sejarah menjadi kesukaan Anda, Gua Jepang, Gua Belanda, dan prasasti peninggalan dua raja Thailand bisa menjadi tujuan di Hutan Raya Ir H Djuanda di Bandung. Anda juga bisa melihat-lihat koleksi tumbuhan yang unik, misalnya saja anggrek terkecil di dunia yang biasa dikenal dengan anggrek akar, atau anggrek hantu (Taeniophyllum) atau kalau lagi mekar, Anda juga bisa melihat bunga bangkai (Amorpophalus titanum).

Di antara flora yang unik-unik itu, ada satu pohon yang bisa jadi akan menarik perhatian Anda, Pohon Pelangi atau Rainbow tree. Menurut Kang Ganjar, salah seorang Jagawana di Tahura, warna pelangi ini muncul dari kulit pohon yang mengelupas.

Lapisan-lapisan kulit pohon ini tidak mengelupas pada saat yang bersamaan. Begitu lapisan kulit luarnya hilang, lalu kulit-kulit baru pun tumbuh.

Kulit baru itu kemudian berubah warna menjadi biru, oranye, merah, dan lain sebagainya. Perubahan warna itu menjadi sangat atraktif, dilatar belakangi oleh warna batang yang hijau cerah. Unik deh.

Eucalyptus Deglupta, begitu nama latinnya, merupakan spesies Eucalyptus yang tumbuh di belahan bumi utara. Pohon ini paling banyak dijumpai di Inggris, Papua Nugini, Seram, Sulawesi dan Mindanao.

Karena dia merupakan jenis Eucaliptus, maka ketika kita mendekatinya, akan tercium aroma kayu putih. Secara Eucalytus kan merupakan bahan kayu putih. Oh iya. pohon ini juga kesukaannya koala, binatang khas dari Australia.

Nah yang akan berakhir pekan dan jalan-jalan di Taman Hutan Raya Ir H Djuanda, jangan lewatkan menengok salah satu keindahan alam itu ya. Salam lestari!

20/04/2014

3 Teluk Eksotis di
Ijo (hijau) di Pesanggaran, Banyuwangi makin dikenal oleh wisatawan. Namun di dekatnya, masih ada 2 teluk indah lainnya yang tidak kalah menawan, tapi belum banyak orang tahu. Ayo datangi mumpung liburan panjang!

Dengan pasir putih dan ombak yang tak ganas, Teluk Ijo menjadi primadona wisatawan domestik. Namun tak hanya Teluk Ijo yang menjadi tujuan wisata di sekitar teluk jernih berwarna hijau ini.

Ada 2 teluk lagi yang bisa dikunjungi dalam perjalanan menuju Teluk Hijau. Selama 1 jam tracking menuju Teluk Ijo, wisatawan bisa juga mengunjungi Teluk Damai dan Teluk Batu.

Teluk Damai, tidak bisa dijangkau oleh wisatawan. Sebab di teluk ini ombak besar selalu menghantam tebing tinggi di cekungan pantai ini.

"Teluk ini nyaris tidak tersentuh. Sebab kita tidak bisa mendarat dengan perahu. Ombaknya terlalu berbahaya,"ujar Wahyu, Pembina Masyarakat Ekowisata Rajegwesi (MER), pengelola wisata di Taman Nasional Merubetiri, kepada detikTravel, Sabtu (19/4/2014).

Sementara Teluk Batu, kata Wahyu, penuh menyimpan historis saat hempasan tsunami di tahun 2006 lalu. Dulunya Teluk Batu itu memiliki pasir putih yang indah. Di tengahnya mengalir air tawar dari sungai yang membelah pantai ini.

Namun setelah adanya tsunami, teluk itu berubah menjadi bebatuan. Pasir putih yang dulunya terhampar putih, hilang entah kemana. Hamparan bebatuan tak berujung ini, tidak mengurangi keindahan alam yang disuguhkan di sana.

"Selain melihat pantai yang berbatu kita bisa menikmati sungai di atas pantai ini. Sungainya jernih dan terdapat kayu yang menjadi jembatan yang bisa untuk menyeberang. Aliran air tawar merembes di bawah bebatuan," tambah Wahyu.

Yang paling menakjubkan setelah menjalani perjalanan yang menantang, adalah Teluk Ijo. Selama menyusuri jalan setapak yang rimbun tiba-tiba cahaya matahari muncul seolah-olah ada pintu atau lorong yang terbuka. Hamparan pasir putih seolah menyambut kedatangan wisatawan ke teluk yang indah ini.

"Banyak wisatawan yang kelelahan saat trekking merasa terbayarkan setelah berada di Teluk Ijo. Suasana damainya membuat mereka selalu kangen dengan pantai teluk ini," tambah Wahyu.

Selama trekking sepanjang jalan setapak, wisatawan juga disuguhkan dengan pepohonan heterogen yang tumbuh liar. MER juga memberikan papan nama pada setiap pohon yang tumbuh di sana.

"Ini edukasi bagi para wisatawan. Tidak jarang mereka tidak mengetahui jenis tumbuhan atau pohson di sekitarnya. Di perjalanan Teluk Ijo mereka bisa tahu," tandasnya.

Address

Jalan Cempaka No. 49/51
Pekanbaru
28151

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Fiji Tour posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share