10/02/2026
DARI RP 3,8 JUTA KE RP 1,5 MILIAR: TAPI INI BUKAN SOAL GAJI
Waktu baru lulus S1 di Indonesia, aku kerja sebagai asisten peneliti di LSM kecil di Pekanbaru. Gajiku Rp 3,8 juta sebulan. Cukup untuk kos, makan, dan sedikit bantu orang tua. Mimpi sekolah ke luar negeri terasa seperti bintang—terlihat, tapi jauh.
Aku tetap mencoba. Apply beasiswa ke mana-mana. Nabung dari proyek freelance. Sampai suatu hari, email itu datang: aku diterima S2 di University of Melbourne.
Aku berangkat dengan tabungan Rp 5 juta dan beasiswa yang hanya menutup tuition fee serta biaya hidup pas-pasan. Awal di Melbourne tidak romantis. Dingin. Sepi. Uang ketat.
Aku kerja apa saja yang legal dengan visa pelajar: jadi barista, bersih-bersih perpustakaan, jaga booth pameran properti. Penghasilan mungkin setara Rp 20–30 juta per bulan, tapi biaya hidup Melbourne juga tinggi. Hidup hemat. Masak sendiri. Cari diskon. Sambil tetap jaga IPK.
Setelah lulus, aku dapat Post-Study Work Visa. Magang 6 bulan tanpa dibayar di konsultan lingkungan. Berat, tapi perlu untuk bangun CV. Lalu aku diterima sebagai Junior Environmental Analyst.
Gaji pertamaku dalam setahun, jika dikonversi, sekitar Rp 600 juta. Aku menangis saat kirim transfer pertama ke orang tua di Pangkalan Kerinci.
Dua tahun kemudian, posisiku naik. Sekarang, di usia 27, penghasilanku setara sekitar Rp 1,5 miliar per tahun.
Tapi ternyata, gaji besar bukan yang paling berharga.
Yang paling berharga adalah ketika aku bisa menjadi jembatan.
Aku mulai bantu adik-adik dari kampung halaman: review motivation letter, sharing cara apply beasiswa, sampai tips kerja sampingan yang legal. Dari satu orang, jadi lima. Sekarang sudah 14 orang yang kubantu sampai mereka mandiri di sini.
Anak petani sawit. Anak nelayan. Pintar, tapi minim akses.
Ada yang sekarang kuliah di Adelaide sambil kerja dan sudah renovasi rumah orang tuanya. Ada yang membangun komunitas belajar agar sesama mahasiswa Indonesia tidak merasa sendirian.
Setiap kabar baik dari mereka terasa lebih besar daripada slip gaji mana pun.
Aku teringat pesan almarhum bapakku:
“Orang sukses itu bukan yang naik sendiri, tapi yang naik sambil mengulurkan tangan.”
Jadi ini caraku menjaga warisan itu.
Tangga yang kunaiki tidak kuangkat setelah sampai.
Tangga itu kubiarkan tetap ada. Bahkan kuperkuat.
Agar lebih banyak anak Pangkalan Kerinci bisa memanjatnya.
Di Melbourne yang kadang masih terasa asing, justru di sinilah aku menemukan rasa pulang.
Karena setiap kali satu anak kampung halaman berhasil, sepotong kecil rumah ikut tumbuh bersamaku.
Kalau cerita ini menguatkanmu, atau kamu juga sedang berjuang meraih mimpi yang terasa “terlalu jauh”, jangan berhenti di sini.
Follow akun ini untuk cerita nyata, strategi beasiswa, tips kerja di luar negeri, dan insight karier global—tanpa drama, tanpa ilusi, hanya pengalaman yang jujur dan bisa kamu praktikkan.
Siapa tahu, perjalananmu adalah kisah berikutnya yang akan menginspirasi banyak orang. 🌏✨