10/01/2026
Pendidikan sejatinya lahir untuk membangunkan akal, bukan menidurkannya. Ia seharusnya melatih seseorang berpikir jernih, menimbang alasan, dan berani meragukan sesuatu yang dianggap wajar. Ketika belajar hanya berisi hafalan dan kepatuhan, maka yang tumbuh bukan manusia merdeka, melainkan pengikut yang patuh tanpa kesadaran.
Masalah muncul saat proses belajar diarahkan hanya untuk menerima, bukan memahami. Murid diajarkan jawaban, tapi jarang diajak mendiskusikan pertanyaan. Akhirnya, pengetahuan menjadi sesuatu yang turun dari atas, bukan hasil pencarian yang jujur dari pikiran sendiri.
Contohnya bisa dilihat di ruang kelas ketika guru berkata bahwa suatu kebijakan selalu benar karena dibuat oleh pihak berwenang. Murid yang mencoba bertanya alasan atau dampaknya justru diminta diam agar pelajaran bisa lanjut tanpa gangguan.
Pola seperti ini perlahan membentuk kebiasaan mental. Orang terbiasa menganggap kekuasaan sebagai sesuatu yang tidak boleh disentuh oleh nalar kritis. Lama-kelamaan, logika digantikan oleh rasa takut salah, takut berbeda, dan takut dianggap melawan.
Di kehidupan sehari-hari, hal ini tampak saat seseorang mengeluh tentang aturan yang merugikan, tetapi memilih diam karena merasa itu bukan urusannya. Ia tahu ada yang tidak beres, namun tidak terbiasa menguji atau mempertanyakannya secara terbuka.
Pendidikan yang sehat justru melatih keberanian berpikir, bukan sekadar kepatuhan. Ia menumbuhkan kesadaran bahwa kekuasaan pun perlu diuji dengan akal dan nurani. Dari sanalah lahir warga yang tidak mudah dikendalikan, karena mereka paham alasan di balik setiap keputusan.