Sedekah Beras Nusantara

Sedekah Beras Nusantara Lembaga yang menerima Sedekah Beras untuk disalurkan ke DHUAFA

01/06/2021

Sedekah Beras Nusantara

09/04/2021

Tulisan ini membuat berkaca-kaca 🥺
MasyAllah
---------------

HARGA TEMAN

Pagi ini aku melirik tempat beras, hampir kosong. Sungkan rasanya mau berhutang ke warung, karena baru kemarin sudah hutang buat beli sabun cuci sasetan dan kental manis.

Jadi kuputuskan berasnya dimasak bubur, lauk telor dadar yang dicampur tepung dan dipotong kecil-kecil. Dalam hati aku terus berdoa semoga dagangan banyak yang laku.

Kuabaikan suara nit nit nit dari meteran listrik yang berbunyi. Biarlah. Anggap saja musik jenis baru, nat nit nit nut.

“Ibuuu, aku lapar….”

“Iya nak, buburnya sebentar lagi matang.”

“Kok bubur bu? Memangnya ada yang sakit sekarang?”

“Lho, ini bubur istimewa, spesial buat Rita loh.”

Anakku tersenyum girang, kedua tangannya bertepuk-tepuk semangat.

“Hmmm baunya enak, aku bangunin dik Ami sama dik Dani ya bu!”

Bubur hangat dengan telor dadar ekstra tepung -satu-satunya telur yang kami punya pagi itu- tersaji di meja.
Tak lupa kental manis yang satu sasetnya dibagi dua.

Anak-anak berkumpul, mereka tersenyum riang. Padahal yang tersaji adalah kental manis, bukannya susu segar atau susu bubuk yang lebih layak. Telur yang mengandung gluten, bubur yang dibuat karena kekurangan beras.

“Alhamdulillah, hari ini kita bisa makan enak. Ini enak banget buburnya bu!” Anak sulungku berteriak gembira dan menghabiskan buburnya dengan lahap.

Aku tertawa melihat mereka, kami makan bersama-sama seadanya. Benar-benar seadanya. Tapi meski begitu, semua terasa ringan dan menyenangkan.

Bermula dari uang kiriman suamiku dari hasil kuli mulai macet, ditambah perusahaan tempat aku bekerja bangkrut, keuangan rumah tanggaku menurun drastis.

Aku mencoba berjualan online, mengandalkan wifi tetangga. Iya, jangankan beli beras dengan cukup, bahkan buat membeli kuota saja aku tak sanggup.

Padahal saat aku dan suami masih bekerja, kami sempat merasakan langganan tivi berbayar, mandi pun pakai sabun cair. Sekarang ini, sampo sasetan dan sabun batangan jadi langganan. Itupun sabunnya dipotong jadi dua, saking ngiritnya. Hahaha!

Untunglah tetangga yang baik hati memberiku izin untuk numpang koneksi internet. Tiap daganganku laku, tak lupa kuberi sedikit bingkisan atau kue buatan sendiri.

Dua hari ini daganganku benar-benar sepi. Aku mencoba bertahan dengan sisa logistik yang ada di dapur. Jika sudah mulai kehabisan, aku berjalan ke kebun tak bertuan di pinggir jalan raya, dimana ada pohon bayam dan pepaya. Daunnya kupetik untuk makan.

Harapanku kini tinggal gas dan listrik. Sebab jika keduanya habis, maka mau tak mau aku harus berhutang lagi. Padahal selama ini aku sangat menghindari hutang.

“Tin aku mau yang ini, stoknya masih?”
Sebuah pesan WhatsApp masuk ke ponselku.

Teman lama semasa sekolah tetiba pesan dagangan. Kubalas pertanyaan satu persatu, sambil menemani anak-anak bermain.

Menjadi reseller adalah pengalaman yang sangat baru untukku. Tapi aku bersyukur, dari hasil berjualan online, aku masih bisa membayar gas, listrik dan beras.

“Aku pesan satu ya. Ini alamatku,” ujar Nanda, teman sekolahku.

Alhamdulillah, batinku dalam hati. Keuntungannya meski tak seberapa, cukup buat beli gas dan beras setengah kilo.

Listrik urusan nanti, biar nit nit nit dulu, kalau padam pakai lilin, pikirku.

Usai memberikan nomor rekening, tak berapa lama kemudian Nanda mengirimkan bukti transfer.

Aku terbelalak melihat nominalnya. “Maaf Nan, ini kebanyakan transfernya, aku transfer balik ya.”
“Nggakpapa, itu harga teman,” ucap Nanda.

“Alhamdulillah terimakasih sekali ya Nanda, semoga rezekimu makin lancar,” balasku.

Ya Allah, aku segera sujud dan menangis tanpa henti. Hari itu aku merasakan betapa besar kasih sayang Allah yang mencukupi kehidupan kami.

Allah memberikan kami rezeki dari sebuah 'harga teman'.
Aku bergegas pergi ke warung untuk melunasi hutang, beli gas, beras dan membeli pulsa listrik.

Pulang dari warung, kulihat suamiku duduk di depan rumah, termenung dengan tatapan kosong.

“Udah p**ang mas?” tanyaku.

“Dek, maaf banget. Mas di PHK.”

Aku tersenyum, dan mengelus punggung kekarnya. Kubuatkan segelas kopi hangat untuk pria yang selama ini berjuang menafkahi keluarga.

“Mas, Gusti Allah akan mencukupi kita, Insyaallah.”

Aku bercerita tentang kegiatanku berjualan online, lalu tiba-tiba ada seorang kawan lama yang beli dagangan dengan 'harga teman'.

Suamiku tersenyum mendengarnya, aku lega. Binar matanya yang sempat meredup, kini terlihat hidup kembali.

“Kita dagang bareng aja ya dek, mas bantu adek jualan.”

“Bismillah mas.”

“Ibuuuuuukk aku lapaaarr,” anak sulungku, Rita menyusul ke teras rumah.

“Iya, hari ini kita makan ayam krispi!”

“Alhamdulillah ayam krispiiii, yeeaayy akhirnya kita makan ayam krispiiii,” anak-anak tertawa gembira.

Aku dan suami saling berpandangan, hari ini 'harga teman', sebuah langkah yang sangat sederhana dari kawan lama, membuat hidup kami sangat bahagia dan penuh harapan.

16/02/2021

Tiga Karung Beras
Ini adalah makanan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kisah ini adalah kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak laki-laki. Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggalah ibu dan anak laki-lakinya untuk saling menopang.
Ibunya bersusah payah seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung tersebut belum memiliki listrik. Saat membaca buku, sang anak tersebut diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuk sang anak.Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas.
Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja disawah.
Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kg beras untuk dibawa kekantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibuya tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut.
Dan kemudian berkata kepada ibunya: ” Ma, saya mau berhenti sekolah dan membantu mama bekerja disawah”. Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata : “Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi daftarkan kesekolah nanti berasnya mama yang akan bawa kesana”.
Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan kesekolah, mamanya menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang anak ini dipukul oleh mamanya.
Sang anak akhirnya pergi juga kesekolah. Sang ibunya terus berpikir dan merenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh.
Tak berapa lama, dengan terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa Ibunya datang kekantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya.
Pengawas yang bertanggung jawab menimbang beras dan membuka kantongnya dan mengambil segenggam beras lalu menimbangnya dan berkata : ” Kalian para wali murid selalu s**a mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, disini isinya campuran beras dan gabah. Jadi kalian kira kantin saya ini tempat penampungan beras campuran”. Sang ibu ini pun malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.
Awal Bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk kedalam kantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari kantong tersebut dan melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan berkata: “Masih dengan beras yang sama”. Pengawas itupun berpikir, apakah kemarin itu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan kemudian berkata : “Tak perduli beras apapun yang Ibu berikan kami akan terima tapi jenisnya harus dipisah jangan dicampur bersama, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak bisa matang sempurna. Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanya” .
Sang ibu sedikit takut dan berkata : “Ibu pengawas, beras dirumah kami semuanya seperti ini jadi bagaimana? Pengawas itu pun tidak mau tahu dan berkata : “Ibu punya berapa hektar tanah sehingga bisa menanam bermacam- macam jenis beras”. Menerima pertanyaan seperti itu sang ibu tersebut akhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi.
Awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali kesekolah. Sang pengawas kembali marah besar dengan kata-kata kasar dan berkata: “Kamu sebagai mama kenapa begitu keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama. Bawa p**ang saja berasmu itu !”.
Dengan berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebut dan berkata: “Maafkan saya bu, sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis”. Setelah mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sang ibu tersebut akhirnya duduk diatas lantai, menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak.
Sang ibu tersebut menghapus air mata dan berkata: “Saya menderita rematik stadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocok tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja disawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah lagi.”
Selama ini dia tidak memberi tahu sanak saudaranya yang ada dikampung sebelah. Lebih-lebih takut melukai harga diri anaknya. Setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan tongkat pergi kekampung sebelah untuk mengemis. Sampai hari sudah gelap pelan-pelan kembali kekampung sendiri. Sampai pada awal bulan semua beras yang terkumpul diserahkan kesekolah.
Pada saat sang ibu bercerita, secara tidak sadar air mata Pengawas itupun mulai mengalir, kemudian mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata: “Bu sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa diberikan sumbangan untuk keluarga ibu.” Sang ibu buru- buru menolak dan berkata: “Jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk sekolah anaknya, maka itu akan menghancurkan harga dirinya. Dan itu akan mengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibu pengawas, tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini.”
Akhirnya masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara diam- diam kepala sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak tersebut selama tiga tahun. Setelah Tiga tahun kemudian, sang anak tersebut lulus masuk ke perguruan tinggi qing hua dengan nilai 627 point.
Dihari perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang ibu dari anak ini duduk diatas tempat duduk utama. Ibu ini merasa aneh, begitu banyak murid yang mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa hanya ibu ini yang diundang. Yang lebih aneh lagi disana masih terdapat tiga kantong beras.
Pengawas sekolah tersebut akhirnya maju kedepan dan menceritakan kisah sang ibu ini yang mengemis beras demi anaknya bersekolah.
Kepala sekolah pun menunjukkan tiga kantong beras itu dengan penuh haru dan berkata : “Inilah sang ibu dalam cerita tadi.”
Dan mempersilakan sang ibu tersebut yang sangat luar biasa untuk naik keatas mimbar.
Anak dari sang ibu tersebut dengan ragu-ragu melihat kebelakang dan melihat gurunya menuntun mamanya berjalan keatas mimbar. Sang ibu dan sang anakpun saling bertatapan. Pandangan mama yang hangat dan lembut kepada anaknya. Akhirnya sang anak pun memeluk dan merangkul erat mamanya dan berkata: “Oh Mamaku…… ……… …
Moral of Story :
Pepatah mengatakan: “Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang jaman dan sepanjang kenangan” Inilah kasih seorang mama yang terus dan terus memberi kepada anaknya tak mengharapkan kembali dari sang anak. Hati mulia seorang mama demi menghidupi sang anak berkerja tak kenal lelah dengan satu harapan sang anak mendapatkan kebahagian serta sukses dimasa depannya. Mulai sekarang, katakanlah kepada mama dimanapun mama kita berada dengan satu kalimat: ” Terimakasih Mama.. Aku Mencintaimu, Aku Mengasihimu. .. selamanya”

Info Sedekah:
wa.me/6285255429189

Distribusi beras
08/02/2021

Distribusi beras

Distribusi Beras dari para Donatur  Info Sedekahwa.me/6285255429189
04/02/2021

Distribusi Beras dari para Donatur

Info Sedekah
wa.me/6285255429189

Saat mengisi pengajian di rumah seorang warga, acara sempat tertunda dimulai karena Qori tidak membawa Mushaf Al Qur'an ...
03/02/2021

Saat mengisi pengajian di rumah seorang warga, acara sempat tertunda dimulai karena Qori tidak membawa Mushaf Al Qur'an dan si tuan rumah al Qur'an yang dimilikinya sudah sobek dan ada beberapa halaman yang sudah hilang.

Ada banyak umat Islam yang di rumahnya tidak ada al Qur'an.

Ayo berwakaf al Qur'an.
Satu buah Mushaf senilai Rp. 90.000 sudah termasuk biaya distribusi dan pembinaan.

wa.me/6285255429189

Distribusi beras dari  Terimakasih untuk para Donaturwa.me/6285255429189
02/02/2021

Distribusi beras dari
Terimakasih untuk para Donatur

wa.me/6285255429189

Distribusi Beras dari  Terimakasih kepada seluruh Donatur
02/02/2021

Distribusi Beras dari
Terimakasih kepada seluruh Donatur

Donasi untuk Sedekah Beras
02/02/2021

Donasi untuk Sedekah Beras

Pagi-pagi bergerak menebar kebaikan. Menyalurkan Amanah dari Donatur dalam program  Dibagi pagi hari agar bisa dimasak d...
04/01/2021

Pagi-pagi bergerak menebar kebaikan. Menyalurkan Amanah dari Donatur dalam program

Dibagi pagi hari agar bisa dimasak di siang hari. Semoga bisa meringankan sedikit kebutuhan saudara-saudara kita.

Info Sedekah
wa.me/6285255429189

"BERILAH AKU SEGELAS BERAS"Tadi saya baca kisah yang lewat di beranda saya, rasanya sayang kalo ngga saya share di sini,...
03/01/2021

"BERILAH AKU SEGELAS BERAS"

Tadi saya baca kisah yang lewat di beranda saya, rasanya sayang kalo ngga saya share di sini, karena insyaAllah bermanfaat buat yang belum baca.


Suatu ketika mobil pengangkut beras tiba di sebuah toko.. orang-orangpun datang berebut untuk membelinya.. terjadilah antrian panjang di toko pedagang beras.

Tibalah giliran seorang wanita tua miskin, dengan tangan gemetar ia menyodorkan gelas plastik yang dibawanya kepada si penjual beras.

Wanita tua itu berkata : "aku tidak mampu membeli berasmu, sudikah engkau bersedekah untukku dengan segelas beras saja.?"

dengan suara keras, penjual beras berkata .. "Tidak, aku tidak bisa memberimu segelas beras!!."

Tetapi kemudian penjual beras itu menyuruh pembantunya untuk membawa sekarung beras dan mengantarkannya ke rumah wanita tua itu.. wanita tua tersebut menerima-nya dengan mata berkaca-kaca karena tidak percaya apa yang telah terjadi.. air mata bahagia mengalir deras di p**i keriput-nya.

Seorang pembeli yang tadinya antri di belakang wanita tua bertanya pada si penjual beras .. "Pak..bukankah yang diminta wanita tua itu hanya segelas beras, mengapa bapak memberinya sekarung beras..?"

Dengan lembut, penjual beras berkata ..
"Itu karena dia meminta sesuai dengan KEBUTUHANNYA, sedangkan aku memberi sesuai KEMAMPUANKU... Aku melakukan itu karena begitu p**a yang ALLAH lakukan kepadaku selama ini... Setiap kali aku MEMINTA kepadaNYA apa yang kuinginkan, Ia selalu MEMBERIKU berdasarkan KUASA-NYA.."

"Dan pemberian-NYA bukan hanya sekedar cukup, melainkan SELALU LEBIH dari cukup... ALLAH memberi apa yang aku BUTUHKAN, LEBIH dari sekedar apa yang aku INGINKAN.."


__________
Terima kasih
Endah

PAHALA MEMBERI MAKANDi dalam hadits Qudsi disebutkan orang yang memberi makan akan bertemu Allah SWT di sisi orang yang ...
03/01/2021

PAHALA MEMBERI MAKAN

Di dalam hadits Qudsi disebutkan orang yang memberi makan akan bertemu Allah SWT di sisi orang yang lapar. “Wahai anak Adam, Aku minta makan kepadamu, tetapi kamu tidak mau memberikan makan kepada-Ku”. Orang itu bertanya, “Wahai Tuhan, bagaimana caranya aku memberi makan kepada-Mu, sedang Engkau Tuhan penguasa alam semesta?”

Allah menjawab, “Ketahuilah, apakah kamu tidak peduli terhadap seorang hamba-Ku, yakni si fulan. Ia telah datang meminta makan kepadamu, namun kamu tidak memberinya makan. Ketahuilah, sekiranya kamu mau memberinya makan, maka kamu akan mendapati-Ku di sisinya.” (HR. Muslim). Pertanyaannya, sudahkah kita membuat kenyang orang yang lapar hari ini?



Info Sedekah.
wa.me/6285255429189

Wardah ToyotaID PLN 123 Tribun Timur Berita Online Makassar Makassar Pesantren DaQu

Address

Jalan Ir. Sutami No. 34 RT. 02 RW. 04 Kel. Parangloe
Makassar

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sedekah Beras Nusantara posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Sedekah Beras Nusantara:

Share