18/02/2022
Reni, panggilan akrabnya. Usianya kini 8 tahun. Seharusnya Reni sudah menginjak kelas 2 Sekolah Dasar sama seperti saudara kembarnya, Rena. Namun apa daya, saat ini Reni harus terbaring di tempat tidurnya akibat sakit tumor di kepalanya. Kini, Reni kesulitan untuk melihat dan bergerak normal.
Tumor di kepala nya bermula saat Reni masih berusia 5 tahun. Kala itu, Reni berangkat mengaji bersama teman-temannya. Saat berjalan, Reni tidak sengaja terjatuh. Semenjak kejadian tersebut Reni mengalami demam disertai muntah. Reni sempat menjalani pengobatan di Puskesmas dan didiagnosa gejala asam lambung. Beberapa waktu kemudian, muncul benjolan di kepala Reni. Tak hanya itu, Reni pun mengalami kehilangan penglihatan.
Reni sempat menjalani pengobatan rutin. Meski penglihatannya belum pulih, kala itu Reni masih bisa bergerak seperti biasa dan juga ceria sebagaimana anak seumurannya. Namun, baru-baru ini, penyakit Reni semakin parah. Hal ini terjadi usai keluarganya mengalami sejumlah musibah beruntun.
Musibah itu berawal saat ibu Reni, Tarwati, mengalami kecelakaan dengan bus yang mengakibatkan kaki kanannya patah. Tak berselang lama, kakak Reni, Ahmad, juga mengalami kecelakaan yang mengakibatkan luka-luka di wajahnya.
Musibah yang bertubi-tubi tersebut menyebabkan keluarga Reni terpaksa menjual motornya. Selain itu, pendampingan pengobatan Reni pun akhirnya terganggu. Hal inilah yang menyebabkan penyakit Reni semakin parah seperti baru-baru ini.
Reni kemudian tak bisa bergerak dengan normal karena tubuhnya lemas. Benjolan di kepalanya pun semakin membesar. Setelah melalui beberapa pemeriksaan, Reni diketahui menderita tumor di bagian belakang kepala sebelah kiri. Reni pun kemudian menjalani operasi pemasangan selang untuk mengurangi cairan di benjolan kepalanya.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya ayah kandung Reni, Caryono, bekerja sebagai buruh potong kayu yang diberi upah Rp50.000,- hingga Rp70.000,- setiap harinya. Jika tidak ada yang memintanya memotong kayu, Pak Caryono bekerja sebaga penambang pasir di sungai yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Penghasilan dari mencari pasir tersebut pun tak seberapa.
Saat ini, pengobatan Reni masih menggunakan BPJS. Namun, keluarga Reni kesulitan untuk memenuhi kebutuhan transport guna pengobatan dan kontrol rutin Reni. InsyaAllah tim ACT Pekalongan dan MRI Batang akan berupaya maksimal untuk mendampingi Dek Reni.