Rekomen cerbung mengharukan

Rekomen cerbung mengharukan kisah Ayya, gadis desa yang terus berjuang mempertahankan rumah tangganya. Bahkan. dia rela berbagi ranj*Ng dengan madunya.

09/03/2023

Salah Melamar (1)

“Dijah, kamu segera siap-siap ya. Nanti malam ada yang melamarmu,” ucap emak sambil memamerkan senyum di wajah keriputnya. Binar matanya indah, menyiratkan betapa bahagianya saat ini.



“Me-la-mar, Mak?” tanyaku tak percaya.



“Iya. Sudah hentikan bacaanmu. Kamu segera mandi, ini sudah jam 5 sore juga. Anak perawan kok males mandi,” ucap Emak dengan kecepatan kilat sambil menarik paksa buku yang kupegang. Sebuah novel roman yang baru saja kubeli beberapa saat lalu.



Aku Dijah, anak pertama dari seorang janda tua sederhana. Bapakku sudah meninggal beberapa tahun lalu, dan aku hanya tinggal berdua bersama Emakku yang super bawel. Meskipun begitu, aku sangat menyayanginya. Sebenarnya aku masih punya saudara, Namanya Dinda, dia adikku satu-satunya, yang mau tak mau menjadi teman berantemku. Sayang, saat ini ia sedang kuliah di kota, mengejar mimpinya. Sedangkan aku? Aku lebih memilih tinggal bersama ibu, karena tak tega meninggalkan ia. Terlebih lagi aku tak ingin membebani emak dengan biaya kuliah yang mencapai puuhan juta. Hingga tinggallah Dijah, yang hanya sebatas tamatan sekolah menengah atas.



“Dijah! Kenapa masih di kamar? Cepat segera mandi,” teriak emak dengan tinggi nada yang semakin keatas.



Kalau ucapannya sudah bervolume diatas standar, mau tidak mau aku harus nurut. Dari pada daun telinga ini menjadi korban atas keganassannya, atau bisa jadi sapu dan kemoceng akan melayang ke setiap bagian tubuhku.



Dijah, nama yang sangat kuno bukan? Aku dilahirkan pada tahun 90 an, tapi namaku seperti pada era kemerdekaan. Nama yang selalu menjadi sasaran empuk buat teman-temanku untuk membullyku. Meskipun sebenarnya nama pemberian dari almarhum bapak ini, adalah nama yang indah. Lengkapnya Khadijah. Nama yang cantik bukan? Bapak pernah berharap, aku memiliki kelembutan hati seperti istri seorang nabi. Tapi, sayangnya, di umurku yang terbilang sudah cukup dari kata matang belum juga ada lelaki yang hendak mempersuntingku.

Bukan tanpa alasan. Aku adalah wanita biasa, hidupku juga sangat biasa. Aku tak cantik, juga tak cerdas, aku juga tak memiliki keahlian apapun, terlebih aku bukanlah perempuan berada. Entahlah, mungkin saat pembagian rejeki, aku hanya dapat bagian sedikit saja. Lain halnya dengan adikku Dinda. Meskipun kami dilahirkan dari Rahim yang sama, nyatanya rejekinya berbeda. Dia terlahir sebagai wanita cantik, hidungnya mancung, tubuhnya semampai dengan kulit tubuh yang putih dan bersih. Bibirnya kecil, namun selalu berwarna kemerahan, berikut dengan alis warna hitam meskipun tanpa tersentuh oleh eye brow. Jika kami sedang berdiri bersama, tentu akan terlihat perbedaan mencolok diantara kami, terlebih lagi tinggiku sudah tersaing oleh tubuh sempurnanya.



“Dijah, masih belum keluar kamar juga?” tanya emak dengan nada yang semakin meninggi, dengan cepat aku membuka pintu kamar dan menampakkan diri.



“Emak, tadi Dijah ambil handuk dulu,” ucapku sambil memerkan benda bertekstur halus yang melingkari leherku.



Emakk tersenyum.



“Sebenarnya siapa yang mau melamar dijah, Mak?” tanyaku ragu.

Sebenarnya siapapun yang datang, aku tak mungkin menolak. Karena bagaimanapun, aku yakin kalau pilihan emak adalah jodoh yang terbaik, itulah yang aku percayai. Lebih memilih pasrah dengan jodoh yang akan ditakdirkan tuhan kepadaku.



“Nak Ammar.”



“Ammar?” tanyaku yang diikuti dengan menelan saliva dengan kasar.



“Jangan bilang kamu menolak. Kamu sudah janji kan, menyerahkan urusan jodoh kepada Emak.’



“Gih, Mak,” ucapku yang segera berlalu ke kamar mandi dengan menahan senyum di hatiku.



“Ammar?” ucapku tak percaya sambil menatap wajahku di cermin kamar mandi.

Ya, di ruangan yang tak besar ini aku memang meletakkan pecahan kaca yang memiliki sisi tak beraturan ke dinding. Aku mempunyai kebiasaan menatap wajahku sebelum dan sesudah mandi. Alasannya sih supaya tahu bagaimana perubahan wajahku dari jelek menjadi cantik, tapi nyatanya tak ada yang berubah. Entah aku mandi ataupun tidak, rasanya tak ada bedanya, karena itulah aku jadi wanita yang malas mandi.



Ammar, dia adalah salah satu pemuda idaman di kampung ini. Lebih tepatnya idamanku. Dia anak dari seorang imam masjid tempat ini. Lain dari kakak-kakaknya yang selalu terlihat rapi dan agamis. Ammar memiliki penampilan yang beda. Jika kedua kakaknya lebih sering memakai sarung dan baju koko, Ammar lebih s**a dengan celana levis dan atasan kaos. Jika kedua kakaknya s**a ikut berjamaah di saf depan bersama bapak mereka, lain halnya dengan Ammar yang selalu datang terlambat dan berada di saf sholat paling belakang. Ia terlihat lebih urakan dari saudaranya yang lain, tapi tetap saja wajah tampannya itu menghipnotis kaum hawa.



‘Amar melamarku?’ batinku yang masih tak percaya. Beberapa kali kuusap kasar wajahku sendiri, memastikan jika semua bukanlah mimpi.



***

Detikan jam terus berjalan, bersamaan dengan hatiku yang dag dig dug tak karuan. Menghadirkan sandi rumput yang entah bagaimana cara membacanya.



Apalagi ketika kulihat rombongan dengan 2 mobil terparkir. Jantungku seakan hendak copot dari tempatnya. Emak memintaku untuk berdiam di kamar, menatap rombongan itu masuk dari balik jendela. Sedangkan wanita keramat yang telah melahirkanku, menjamu tamunya dengan wajah sumringah.



“Khadijah,” teriak bulekku bersamaan dengan ketukan pintu.



Kalau sudah seperti ini, mau tidak mau aku harus keluar menampakkan batang hidungku yang terkesan pas-pasan. Kulihat kembali wjaahku di cermin, berikut dengan pakaian yang menyelimutiku saat ini. Aku berdiri di depan kaca besar yang menempel di pintu almari, mengenakan kebaya warna biru dengan make up seadanya. Tidak lupa kututupi mahkotaku dengan warna senada.



“Eh, lupa,” ucapku bermonolog sambil mengambil parfum murahan yang berada di atas meja, kusemprotkan benda tersebut, hingga wangi itu menguar ke seluruh ruangan.



“Tarik nafas, hembuskan. Tatik nafas, hembuskan,” ucapku sendiir sambil emlakukan perintah dari bibir. Seperti inilah caraku menenagkan diri dari rasa tegang.

Perlahan kupegang gagang pintu, dan memutarnya. Kugeser benda kayu itu, hingga terdengar suara berderit ketika pintu kayu berbenturan dengan lantai. Kini, semua mata menatap kearahku, karena pintu kamar langsung berhadapan ke ruang tamu.



Kedua orang tua Ammar duduk di sofa panjang, dengan ketiga anaknya yang saling berdampingan dengan pasangan masing-masing. Tak terlihat Amar layaknya sebuah pesta lamaran di tiktok ataupun facebook. Karena di desa ini, masih sangat mengikuti budaya local. Dimana sang lelaki yang melamar, tak akan turut serta untuk datang. Apalagi sampai bertukar cincin layaknya selebriti. Bahasa jawanya, orang tua akan nembung kepada pihak perempuan, meminta ijin jika anak perempuannya akan diunduh mantu. Setelahnya, sang wanita ditanyai oleh pihak lelaki, apakah bersedia dinikahi oleh anaknya yang bernama fulan. Ketika aku menjawab iya, semuaa prosesi usai. Ya, sangat sederhana.



Setelah melakukan prosesi lamaran usai. Baik keluarga Ammar dan keluarga besarku saling musyawarah tentang hari pernikahan. Sekilas akupun mendengar, jika hari pernikahanku tinggal hitungan hari. Hingga di hari H, aku mendapati kenyataan jika yang hendak dilamar oleh Ammar adalah Dinda, adikku.

**
Bab. 2

Salah Melamar (2)

“Wah, Dijah mangklingi ya kalau didandani seperti ini,” ucap salah satu saudara yang mengintipku dari balik pintu. Tanpa menoleh ke arahnya pun aku sudah tahu kalau itu bulek.

Aku tersenyum, menatap wajahku dalam pantulan cermin rias. Seorang wanita berjilbab dengan riasan full itu benar-benar berbeda dengan wajahku. Pipinya terlihat lebih tirus, hidungnya terlihat lebih mancung, serta wajahnya yang kini berseri. Sejujurnya wajah berseri itu bukan nampak dari polesan yang tersapu ke wajahnya, melainkan betapa bahagianya aku yang akan dipersunting dengan lelaki yang memang aku idamkan. Aku benar-benar tak menyangka jika Ammar adalah jodohku. Mungkinkah ini suatu keajaiban dari sebuah doa? Nama yang kupanjatkan dalam setiap sujudku.

Sebuah senyum tercipta, membayangkan kehidupanku ke depannya yang akan sangat indah. Merasakan sebuah pacaran setelah nikah, layaknya sebuah pernikahan di novel roman yang pernah kubaca. Saling malu-malu dan akhirnya saling mau-mau.

“Assalamualaikum,” ucapan salam itu terdengar, berikut dengan tubuh semampai yang kini mengenakan tas dan jaket berbahan jeans. Jilbabnya warna merah yang dikenakannya sedikit berantakan, hingga ujung benda persegi empat itu sudah tak terbentuk dan menutupi sebagian dari wajah cantik adikku.

“waalaikumsalam, Dinda,” ucapku yang kini langsung bangkit dan merengkuh tubuhnya. Kupeluk ia berikut dengan ransel yang masih menempel di punggungnya.

“Kenapa baru datang, Dek? sebentar lagi mbak sudah mau hijab,” ucapku yang kini melepas pelukan.

Dinda menunduk, terlihat murung di balik kerudung yang dikenakannya. Wajah dengan kulit putih bersih itu kini terlihat redup, berikut dengan kantung mata yang membengkak, layaknya habis nangis berhari-hari.

“Dek, kamu kenapa?” tanyaku kepada gadis kecil yang baru saja pulang dari kuliahnya. Sebenarnya aku memberitahu Dinda tentang hari pernikahanku seusai keluarga Ammar datang. Aku juga meminta ia yang akan menjadi pager ayuku ketika resepsi dilaksanakan. Sayang, tugas kuliah Dinda menumpuk. Bahkan ia baru bisa datang tepat di hari pernikahan sepeti ini, di waktu yang sangat mepet dengan ijab.

“Dek, jawab pertanyaan Mbak.”
Alih-alih Dinda menjawab pertanyaanku, justru yang ada ia menangis sejadinya. Awalnya lirih, lalu mulai terdengar isak tangis itu, hingga semua berakhir dengan tangisnya yang tersedu-sedu. Benar-benar membuatku keheranan dan memunculkan pertanyaan besar.

“Dek, kamu kenapa nangis? Jawab pertanyaan mbak,” tanyaku yang terus mengulang kalimat yang sama.

“Mbak Dijah nikah. Dinda gak punya teman berantem lagi. Selain itu pasti mbak tinggal dirumah Mas Ammar, tentu waktu kita berkumpul akan sangat kurang.”

“Ya elah, Dek. mbak kira ada apa. Untung Mbakmu gak punya riwayat penyakit jantung lemah. Bisa sekarat nanti, gak jadi nikah,” ucapku sambil melengkungkan bibir.

“Mbak khawatir ya dengan Dinda? Emang mbak kira dinda kenapa?”

“Mbak pikir kamu habis dirampok gitu. Kan perjalananmu kesini cukup panjang.”

“Biasanya juga diajak berantem. Tumbenan dikhawatirin. Emang sayang sama Dinda?”

“Lah, harus ditanyakan? Ya pasti sayanglah, adekku yang cantik,” ucapku sambil mencubit hidung mancung miliknya. Hidung yang berbanding terbalik dengan milikku, pesek.

“Kalau sayang sama Dinda, boleh tidak kita bertukar nasib? Dinda yang nikah dengan Mas Ammar?”

Aku terdiam, bahkan untuk menelan salivapun sangat kesusahan. Mendadak kerongkongan ini mengering begitu saja.

“Mbak Dijah serius sekali. lagian, siapa juga yang mau nikah muda? Sama mas ammar lagi? Kan Dinda sudah pernah cerita kalau dinda itu sudah punya pacar,” ucapnya yang kini meringis menampakkan jejeran gigi seri yang putih dan rapi.

Aku tersenyum, prank dari dinda, benar-benar membuatku terhanyut. Bahkan rasa ngiluku itu masih terasa meskipun aku tahu semua sekedar candaan saja.

“Mbak Dijah, Dinda ke kamar dulu ya. mau ganti baju. Masa mbak nya nikah, pakai pakaian preman kayak gini,” ucapnya sambil menatap tubuhnya yang terbalut oleh celana jeans dan jaket berbahan sama.

Aku tersenyum, “jangan lama-lama, dandannya juga cantik-cantik. Nanti pengantin wanitanya kalah,” godaku.

Perlahan tubuh Dinda hilang dari pandangan, bersamaan dengan kandung kemihku yang kembali terisi penuh. Entahlah, ini pipis keberapa kali semenjak bangun tadi. Rasa grogi, benar-benar membuat organ itu terus terisi.

“Mbak, Dijah ijin lagi ya?” ucapku sambil meringis menatap tukang rias. Ia hanya menggelengkan kepala dan membiarkanku berlalu begitu saja.

“Sudahlah, Mas Ammar. Dinda sudah berbesar hati dengan semuanya.” Nama mas ammar benar-benar terdengar begitu jelas ketika aku melewati kamar Dinda. Kudekatkan tubuh ini mendekati pintu, dimana kayu berbentuk persegi panjang usang itu sedikit membuka, tak tertutup dengan sempurna.

“Kita bisa jelaskan semua kepada orang tua kita, Din. Yang ingin aku nikahi itu kamu. Kamu yang aku lamar, bukan Mbak mu,” terdengar suara lelaki dengan penegasan.

Rasa penasaran itu semakin membuncah dalam hatiku. Terlebih dua suara itu begitu kukenal, berikut dengan nama-nama yang terucap.

“Jelaskan? Maksudmu kamu mau menghina mbakku?”

“Aku tidak berniat sepeti itu. Aku hanya ingin ...”

“Sudahlah Mas Ammar. Aku mohon.”

“Din, kita bisa bicarakan ini baik-baik dengan keluarga kita.”

“Tidak. Itu semua akan menyakiti hati Mbak Dijah. Sama saja kamu mencoreng wajahnya di depan khalayak umum. Dinda sudah menerima pernikahan kalian, dan aku harap Mas Ammar pun begitu. Bisa menerima kehadiran Mbak dijah di kehidupan Mas.”
Aku menutup mulutku yang menganaga ketika kulihat 2 orang lawan jenis itu sedang beradu mulut tentang pernikahan ini. Bahkan, aku baru tersadar jika selama ini yang diinginkan ammar adalah Dinda. Bukannya aku.

“Pacar dinda itu Ammar?” tanyaku lirih dengan perasaan yang bercampur aduk. Beberapa Kali dinda memang menceritakan tentang lelaki yang dicintainya, meskipun ia terus merahasiakan nama lelaki itu.
Hati ini bagai terhunus belati mendapati kenyataan yang menyakitkan. Perih. Pedih. Semua bercampur jadi satu. Inikah alasan dari wajah muram Dinda? Bahkan sekilas menatap wajahnya akan tampak residu tangisan yang tergores di wajah seputih susu itu.

“Dijah, kamu disini?” tanya emak sambil gelengan kepala. “sudah tahu mau nikah, malah keluyuran. Ayo ditungguin pak penghulu dari tadi.” Aku digandeng emak begitu saja, membawanya keluar menuju tempat akad.
Disana sudah ramai oleh beberpaa kelurga inti, juga dari keluaga Ammar. Kedua orang tuanya juga saudara-saudaranya. Wajah mereka terlihat kaku, seakan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

“Ini juga pengantin prianya belum tiba. Pipis dari tadi gak balik-balik,” ucap emak sambil menatap sekeliling.

“Mak, Dijah mau bilang sesuatu,” ucapku yang kini memegang punggung tangan emak yang dipenuhi beberapa keriput. Aku ingin menjelaskan kepada beliau tentang salah lamaran yang dilakukan oleh keluarga Ammar. Aku tahu mungkin ini berat, terlebih lagi aku juga menautkan rasa dengan pria yang sama dengan adikku.

“Nanti, ngomongnya habis nikah. Diem saja disitu.” Emak langsung melenggang pergi begitu saja, tanpa mendengarkan penjelasanku sedikitpun.
Hingga dimenit kemudian, muncullah ammar yang tengah berdiri di sebelah emak, menatap ke arahku. Mungkinkah ia akan membatalkan dan menjelaskan semuanya?

Bersambung ...

----
Bab. 3

Salah Melamar (3)

“Sah?”

“Sah, sah, sah.” Kalimat itu saling bersaut satu sama lain, menggema di seluruh ruangan tamu seusai kalimat ijab terdengar dari bibir Ammar.
Mata emak berbinar, dengan senyum yang tak hentinya mengembang. Berikut dengan Dinda yang dipaksakan untuk tersenyum. Sebuah kamuflase itu terlihat jelas di mataku. Ya, kini ia duduk di sebelah emak, turut menyaksikan lelaki yang disayangnya mengucapkan kalimat ijab untuk kakak kandungnya.

Prosesi terus berjalan, dimana aku dan Ammar diminta sungkem dengan orang tua yang telah melahirkan kita. Bahu lelaki itu ditepuk oleh bapaknya, berikut dengan suara yang dibisikkan di dekat telinganya. “Bagaimanapun, sekarang kamu adalah seorang suami. Bahagiakan istrimu,” ucapnya lirih yang masih terdengar olehku. Ibu Ammar pun turut mengelus pundakku, juga memberikan sebuah doa pengantar pernikahan kami. “semoga bahagia, Nduk. Semoga jadi keluarga sakinah, mawadah, warohmah.”

Aku tersenyum kecil, berharap pernikahan yang tak didasari oleh cinta ini akan menjadi seperti apa yang diucapkan ibu mertua.

“Dijah, kamu sekarang sudah jadi seorang istri. Nurut sama perkataan suamimu, jangan kebanyakan bantah seperti sama emak,” ucap emakku kala aku bergantian sungkem di tubuh tuanya.
Senyumnya indah, menggambarkan betapa bahagianya beliau saat ini. Berbanding berbalik dengan wajah Dinda yang kini ditutup oleh kabut kelam. Bahkan make up merona yang tertempel di wajahnya tak mampu menutupi kepedihan hatinya.

“Mbak Dijah, selamat berbahagia. Until jannah ya, Mbak,” ucap adik kecilku yang kini kupeluk. Aku tahu ia menyimpan luka, dan menutupi semua dari kita.

“Makasih ya, Dek.”
Aku kini melepas pelukan, dimana aku mulai menyadari manik mata adikku saling bertaut dengan lelaki di sebelahku.

“Mas Ammar, jaga Mbak Dijah ya,” ucapnya yang kini terdengar parau. Bahkan mata indah dengan bentuk bulat itu nampak berkaca-kaca, dimana sekali kedip, tumpah juga apa yang telah dibendungnya.

“Dek, kamu nangis?” tanyaku.

“Iya, Mbak Dijah. Maaf adikmu ini melow. Dinda hanya takut ditinggalMBak Dijah,” ucapnya yang terdengar meyakinkan.

“Kami akan selalu berkunjung kesini menghampirimu,” ucap Ammar yang turut menjawab.

Mereka seakan memainkan drama dengan begitu apik. Mungkin mereka tak tahu, jika aku telah mengetahui apa yang mereka bicarakan di kamar tadi.

Belum juga apa-apa, bibit cemburu mulai timbul. Layaknya daun kering yang kini diremas begitu saja, remuk, lenyap. Bahkan ketika angin menyapanya, semua akan sirna. Ya, pernikahan ini seakan tak berarti, dimana tak adanya pondasi cinta di dalamnya. Terlebih aku tahu, jika wanita yang ditambatkan oleh hati lelakiku adalah adikku sendiri. Pantaskah aku untuk cemburu?

Dinda tersenyum, berikut dengan Ammar yang juga tersenyum. Membiaskan rasa sakit yang dari tertahan. Jika Dinda telah merelakan kekasihnya untukku, kenapa ia tak mampu memposisikan dirinya sebagai adik ipar Ammar? Ia telah dewasa, dan harusnya ia bisa membawa dirinya sendiri, terlebih lagi, ia seorang pelajar yang berpendidikan.

Proses demi proses kami lewati, mulai dari mencuci kaki Ammar yang telah menginjakkan kakinya ke telur, melempar sepucuk bunga satu sama lain, juga mengadahkan tangan menerima butiran beras yang dituang dari tangan Ammar.
Aku masih mengenakan pakaian pernikahan dengan asesoris berat dikepala, menerima tamu yang dari tadi pagi serasa tak ada henti-hentinya. Ya, ini adalah kali pertama emak memiliki “gawe” dalam bahasa jawanya jadi banyak tetangga yang bakalan datang memberikan selamat, juga memberikan sebagian rejeki kepada kami, baik itu hasil panenan, maupun berupa uang.

Ammar sudah tak kelihatan batang hidungnya. Sejak adan duhur tadi, setelah keluarga besarnya pamit pulang. Ia turun dari panggung bergebyok ukiran dengan janur melengkung di depannya. Ya, ia berdalih capek, dan kurang sakit hingga meninggalkan acara sepenting ini sebelum acara usai.

Detik waktupun terus berjalan, hingga mentari yang tadinya menyengat dengan teriknya, kini perlahan turun, meyisakan sinar jingga yang indah. Akupun turut ke bawah, masuk ke dalam kamar, melepas pernak pernik yang menempel di pakaian dan jilbabku.
Kupandangi wajahku, mengusap make up dengan kapas putih yang sudah kubasahi dengan remover. Mengangkat topeng wajah, yang kini berganti dengan wajah alamiku.
Dalam pantulan cermin di depanku, menampakkan tubuh lelakiku yang sedang duduk di bibir ranjang. Jarinya asyik memainkan ponsel yang ia pegang, berikut dnegan bibirnya yang turut bergerak ke atas dan ke bawah, layaknya membaca jejeran huruf di dalamnya.

“Mas Ammar, Dijah mandi dulu ya,” ucapku.

Usia Ammar tak berbeda jauh denganku. Bahkan bisa dibilang seumuran. Hanya saja saat ini ia menjadi kepala keluargaku, aku harus memanggilnya Mas sebagai bentuk hormat.

Lelaki dengan tubuh tinggi dan rambut hitam lurus itu sedikit menoleh kearahku, “hm ...” lalu kembali fokus dengan benda menyala yang dipegangnya
Tak ada kalimat yang keluar dari bibir tipis itu selain kata deheman yang terdengar hambar.

‘Sabar, Dijah. Sabar,’ batinku sambil kuhela nafas panjang. Setelahnya aku membersihkan diri sekaligus mengusir penat setelah seharian duduk di kursi pelaminan.

**
“Mas Ammar, sudah masuk shalat marib. Yuk jamaah!” ucapku setelah usai membersihkan diri, mengenakan gamis panjang, dengan mekena warna putih yang masih berada di tanganku.

Ammar masih terfokus dengan ponsel yang dipegangnya. Duduknyapun masih tak berubah. Ia menoleh dan sekilas menatapku. “Aku sudah mendirikan shalatku. Kamu shalat sendiri ya,” ucapnya yang terdengar begitu dingin.

Aku meneguk salivaku. Belum apa-apa, aku harus menghadapi sifat Ammar yang begitu cuek, jauh berbeda dari novel roman yang pernah kubaca.
Aku menjalankan rakaatku, setelahnya langsung berjalan mendekat ke arah Ammar, dan duduk di sebelahnya. Menjalankan pernikahan tanpa mengenalnya di awal , benar-benar membuatku kikuk.
Ia tak mengindahkan kehadiranku, masih terfokus dengan ponsel yang dipegangnya. Terbesit rasa curiga, mungkinkah ia sedang membaca pesan dari Dinda? Atau .. mereka sedang melakukan rencana untuk bertemu diam-diam? Ah, isi kepalaku terus dipenuhi dengan pikiran buruk.

“Dijah.”
Ammar meletakkan ponselnya, dan kini menoleh ke arahku. Menghadirkan rasa yang begitu sulit kumengerti. Jantungku berdetak tak karuan, memompa darah dengan cepat hingga menegangkan semua urat syarafku. Tubuhku terdiam, namun hati ini seperti berdetak layaknya sandi rumput yang tak mudah kuartikan.

“Iya, Mas Ammar.”
Kedua manik itu mencengkram pandanganku. Seakan menyelam masuk jauh ke dalam hatiku. Ini kali pertama, aku berdekatan dengan lelaki sedekat ini, saling berpandangan dengan lawan jenis selama ini.

“Dijah, perlu kamu tahu. Pernikahan ini bukanlah yang kuinginkan. Wanita yang hendak kupersunting bukanlah kamu. Namun, Dinda adikmu,” ucapnya dengan tegas, yang langsung menyambar hatiku. Baru saja aku merajut cinta dan harapan untuk pernikahan ini, semua harus kembali tercerai berai.

“Aku menikahimu karena permintaan Dinda.” Lelaki itu tampak menarik nafasnya yang berat. “Jangan pernah meminta hakmu kepadaku, akupun akan melakukan hal yang sama. Kita tidur di ranjang yang terpisah.”

----
Di kbm app sudah tamat.
Silahkan klik link nya.

Bos Arogan Itu Mantan Pacarku Bab.1Aku menatap ruang kepala itu dengan penuhrasa harap. Berharap pemimpin perusahaan ini...
09/10/2022

Bos Arogan Itu Mantan Pacarku

Bab.1
Aku menatap ruang kepala itu dengan penuh
rasa harap. Berharap pemimpin perusahaan ini bersedia menerimaku jadi sekertaris untuknya.
Mengingat bagaimana kesehatan ibu di rumah serta biaya sekolah Alisa yang menunggak, aku tak ingin gagal dalam peluang ini.

Kembali kuperhatikan tubuhku dari bawah, memakai sepatu hitam bekas, yang kugunakan saat menjadi SPG kala itu, memakai atasan casual terbaik dan celana kain warna hitam. Kuambil nafas panjang, agar rasa grogi ini mulai memudar.

“Vi, kamu bisa!”

Aku menyemangati diriku sendiri, sambil memejamkan mata. Tiba-tiba ucapan Pak De ku kala itu menghantui pikiran, ia salah satu staf di sini.

“Vi, bos ku lagi butuh sekertaris untuknya. Gajinya lumayan, lebih dari cukup untuk sekedar biaya berobat dan cuci darah ibumu, termasuk juga biaya sekolah adikmu. Apa kamu tertarik? Cuma ya itu ...” Sejenak pak De terdiam.

“Kenapa, Pak De?”

“Dia arogan dan s**a marah-marah, sudah sebulan ini ia ganti sekertaris 3kali, mereka gak kuat dengan hinaan dari Pak kepala.”

“Hinaan seburuk apapun itu. Aku yakin aku sanggup, De!”

Aku membuang nafas kasar, lalu berjalan mendekat, kuketuk pintu itu perlahan, hingga terdengar suara dari dalam mempersilahkan masuk.

Kuputar gagang pintu itu, sambil menarik nafas panjang, lalu masuk ke dalam ruangan yang cukup besar ini. Ruangan ini begitu dingin, bahkan ketika kaki ini masuk, kurasakan hembusan mengenai tulangku. Aku mencoba fokus dengan pandangan yang hanya tertuju kepada bapak direktur. Ia masih duduk di kursinya dengan tatapan tajam ke buku yang dipegangnya, sama sekali tak menoleh ke arahku sedikitpun.

“Silahkan duduk.”

Aku menurut, menjatuhkan tubuhku di atas kursi di depan pak kepala. Pandanganku terus fokus ke arahnya, meskipun pandangan matanya tak pernah berpaling dari buku yang dipegang.

“Namamu siapa?”

“Vivian, Pak,” jawabku pasti.
Meskipun degupan jantungku begitu cepat, ditambah aliran darahku yang mengalir lebih kencang dari biasanya, aku mencoba setenang mungkin, menutupi rasa grogi dengan jawaban yang tegas.

“Apa niatmu mencari kerja di sini?”

“Saya mencari uang,” jawabku simpel tanpa bertele-tele. Dapat bocoran dari Pak De, pak kepala s**anya to do point’ dan paling malas meladeni karyawan yang terlalu bertele.

Lelaki bertubuh sempurna itu, kini melepas bukunya, mengarahkan pandangan ke arahku.

“Reynan,” ucapku lirih yang nyaris tak terdengar, hanya gerakan bibir saja yang membentuk nama tersebut.

Lain halnya dengan aku, Reynan tak terkejut sama sekali melihatku. Dia hanya tersenyum miring menatapku.

“Vivian Diandra, sungguh kehormatan kamu mau mencari pekerjaan di sini.”
Reynan bertepuk tangan, dengan tatapan penuh benci.

Bayangan tentang lima tahun lalu berputar begitu saja di otakku.

“Vi, aku gak mau berpisah denganmu. Aku tidak sanggup jika harus melupakanmu, tak akan pernah bisa, tak akan pernah mampu.”

Tanpa rasa peduli, dan belas kasihan, aku meninggalkannya begitu saja
Bahkan tanpa ada penjelasan sama sekali.

“Masih ingat aku, Vivian?” tanya Reynan yang kini bangkit dari duduknya, perlahan ia melangkah maju dan mendekat, tatapannya terus fokus ke arahku, dengan pandangan tajam penuh murka.

“Masih, Pak!”
Aku meneguk salivaku, kini kurasakan kerongkongan mengering bersamaan dengan kerja jantung yang memompa lebih cepat. AC yang tadinya terasa dingin saat pertama kali aku masuk, kini tak lagi kurasakan, justru peluh di dahiku semakin bermunculan.

“Salut kepada keberanianmu yang masih duduk di sini.”
Ia kembali tersenyum sinis sambil memicingkan alisnya. Wajah oriental jelas terlihat dengan rahang tegas yang terus menatapku dengan tajam.

“Saya butuh pekerjaan, Pak!”

“Dan saya menolak kamu.”
Ucapan tegas dari lelaki di depanku benar-benar membuat duniaku hancur, peluang besar yang begitu kuimpikan ini tak mungkin bisa ku lepas begitu saja. Bayangan ibu dan Alisa yang menungguku pulang penuh harap, tak mungkin aku mengecewakannya kembali untuk kesekian kalinya.

“Saya lulus seleksi dari HRD, tidak mungkin kamu bisa menolak begitu saja, Rey. Eh maaf, Pak!”

“Saya direktur di tempat ini, dan saya memiliki hak penuh untuk memilih siapa staf saya, apalagi asisten saya.”

“Saya mohon, Pak! Sebagai atasan bijaklah dalam mengambil keputusan. Bukan berdasar pada masalah pribadi.”

“Siapa kamu atur saya? Ha?”

Reynan membuang muka, lalu berdiri membelakangiku.

“Ini tak adil untuk saya, Pak!”

“Lalu yang kamu lakukan lima tahun lalu, adil untuk saya? Pergi begitu saja tanpa penjelasan yang berarti.”
Aku hanya terdiam, memandang punggung gagah yang terbalut jas hitam mahal. Harta mampu merubah segalanya, termasuk hati. Reynan yang dulu lembut dan penyayang ternyata bisa berubah begitu berbeda dalam waktu singkat.

“Angkat kaki sekarang juga dari ruanganku. Pintu keluar masih berada di tempat yang sama.”
Reynan duduk di meja kerjanya sambil menunjuk pintu, tanpa menatapku sama sekali.

Bayangan Ibu dan Alisa terus berada di pikiranku. Melihat kondisi ibu yang mulai melemah dan membutuhkan cuci darah. Aku tak mampu jika pulang dengan harapan kosong.

“Aku mohon, Pak. Terima saya di perusahaan bapak. Saya siap dengan hinaan dan perkataan kasar bapak, apapun itu. Saya bersedia.”
Aku duduk bersimpuh di depannya, dengan tangan yang meraih sepatu mengkilat miliknya.

Reynan tampak terkejut, hingga akhirnya ia terlihat menikmati pemandangan di depannya.

“Sejak kapan kamu kehilangan harga dirimu, Vi? Mana harga diri yang dari dulu kamu agung-agungkan itu?”

Aku hanya diam, tak peduli berapapun kata umpatan yang keluar dari bibirnya. Aku hanya ingin pekerjaan ini, dan segera membawa ibu ke rumah sakit.

“Baiklah, sepertinya menarik juga tawaranmu. Aku terima kamu.”

“Terima kasih, Pak!” kusunggingkan senyumku, dan pamit berlalu.

Berjalan perlahan ke luar dari ruangan dengan hati yang bahagia. Tergambar jelas senyum ibu dan Alisa yang akan mendengar, aku diterima di perusahaan ini.

“Tunggu, Viv.”

Aku menengok ke belakang dan menundukkan sedikit kepala.
“Iya, Pak.”

“Jangan pernah lagi bersujud kepada siapapun!”

------------
Bab.2

“Bagaimana hasil tes wawancaranya, Kak? Apa diterima?” Alisa yang duduk di sebelah ibu menatapku dengan mata berbinar.

“Iya. Bagaimana, Nduk?” tanya ibu yang ikut bersuara dengan nada pelan.

“Menurut kalian?” Aku mengangkat alis ke atas sambil tersenyum.

“Diterima, Kak?” jawab Alisa sambil memelukku.

“Alhamdulillah.” Ibu menangkupkan tangan di wajahnya.

“Bosnya gimana, Kak? Beneran galak? Kakak dimaki?” pertanyaan Alisa sontak membuat kening ibu berkerut, pasalnya wanita yang telah melahirkan kami itu tak mendengar percakapan antara aku dan Pak De. Setahu beliau, aku hanya sedang ikut wawancara di perusahaan besar.

“Biasa aja. Lagian siapa yang bisa menolak pesona Vivian Diandra.”
Aku tersenyum simpul, mencoba menutupi kenyataan. Bagaimanapun aku kedepannya, hinaan seberat apapun, aku pasti sanggup. Ada ibu dan Alisa yang begitu membutuhkan.

Tersungging senyum di bibir ibu, hingga akhirnya kita berpelukan bersama, sepeti kartun teletubies. Sayang, semua tak lagi lengkap setelah bapak meninggal. Serangan jantung merenggut nyawanya sesaat setelah mendengar berita tentangku saat itu.

“Kak Viv, kamu nangis?”
Alisa tampak menyadari kesedihan ini, meskipun sekuat tenaga aku telah membendung pertahanan agar air mata tidak luruh.

“Enggak. Kakak cuman bahagia, nantinya kita bisa makan enak lagi, seperti saat masih ada bapak.”

Ibu tersenyum, begitupun dengan Alisa, kami kembali berpelukan dengan air mata haru.

**
“Sempurna, Vi. Semangat.” Aku menatap tubuhku dalam cermin usang yang tertempel di almari kamar, wanita dengan rambut rapi mengenakan kemeja putih dan celana coklat itu tengah tersenyum, ada binar dimatanya, untuk menutupi ekspresi kesedihan.

Cukup aku yang menderita, tidak untuk ibu dan adikku. Itulah prinsip yang kupegang teguh saat ini. Bagaimanapun juga aku ingin memberikan mereka kebahagiaan untuk mereka. Tak peduli seberapa terjal jalan yang kutempuh, selama jalan itu bisa dilalui, akan aku terjang.

“Kak Viv, kamu cantik sekali!” ucap Alisa sesaat setelah menyibak korden yang terpasang di celah pintu.
Untuk sekedar memperbaiki pintu yang rusak pun tak mampu, hingga gorden berwarna hijau dengan motif bunga menjadi jalan ninja, menjadi sekat antara kamarku dengan ruang lain.

“Terima kasih, Sa.”

“Kak, yang kemarin itu ...”
Alis terdiam, dan kini menunduk.

“Iya. Kemarin kenapa?”

“Kakak bohong kan? Kakak pasti dihina oleh bos kakak?”

“Kata siapa?”

“Aku melihat sendiri saat kakak diantar Abang ojek pulang, menyeka sudut mata kakak.”

“Itu air mata haru kali, Sa.” Aku masih mencoba menutupi kenyataan.

“Aku kenal kak Viv, tidak sebentar. Mungkin ibu masih bisa kakak bohongi, tapi tidak dengan Lisa.”
Gadis kecil itu menghambur dipelukanku. Direngkuhnya tubuhku begitu erat. Aku dongakkan wajahnya, ada air di sudut mata indah itu.

“Kenapa kakak gak biarin Alis putus sekolah saja, Alis bisa kerja dan bantu pengobatan ibu.”
“Kamu masih kecil, Sa. Kamu tamatin dulu sekolah menengah atasmu, kan sayang tinggal setahun lagi.”

“Kak Viv terlalu banyak berkorban untuk Lisa, makasih banyak ya!” Alisa kembali memelukku erat hingga akhirnya suara motor pak De terdengar. Bergegas aku pamit dengan adik kecilku, serta kepada, kucium tangan ibu yang menua dengan penuh rasa khidmat, dan kudapati banyak doa yang keluar dari bibirnya.

Aku naik motor diboncengkan Pak De, menyusuri jalan kota yang padat kendaraan melintas. Kantor yang berada di pusat keramaian, tak mungkin bisa menghindari kemacetan.

“Semangat ya, Viv!” Pak De yang berumur 20 tahun diatasku itu memberikan semangat, ia masuk ke dalam ruangannya yang berada di lantai bawah, sedangkan aku masih harus naik ke lantai 3 untuk mendapati meja tempatku kerja. Berada tepat di ruangan Reynan. Maksudku Pak Renan, dan aku harus membiasakan memanggil itu.

Kutekan tombol lift agar membuka, jarum jam yang melingkari lenganku seakan tak memberiku waktu lebih lama untuk menunggu.
Grekk ...

Pintu terbuka, dan kuayunkan langkah untuk masuk. Aku sedikit tersentak ketika terdengar suara langkah dikuti bahuku yang tersenggol, hingga aku sedikit kehilangan keseimbangan hingga hampir terjatuh. Lelaki itu tampak tak peduli, dan masuk lift begitu saja, dan aku hanya mengekori dan ikut masuk ke dalamnya.

Tak ada percakapan, maupun sapaan. Sama seperti orang asinh yang saling tak mengenal satu sama lain, kedekatan selama 2tahun sebagai sepasang kekasih tak berarti sama sekali.

Pintu terbuka, dan kudapati beberapa staf yang hendak masuk ke lift menundukkan tubuhnya hormat ketika melihat Reynan hendak lewat. Sedangkan lelaki di sebelahku, tampak tak peduli sama sekali, jangankan menjawab atau senyum, menengok ke arah mereka pun enggak. Ia terus berjalan lurus seakan tak pernah ada orang di sekitarnya.

Aku terus mengekori, karena ruangan kita melewati koridor yang sama. Di sepanjang perjalanan kulihat staf saling tunduk hormat ketika Reynan lewat dan lagi-lagi lelaki di depanku, seperti tak melihat itu semua.

“Kamu terlambat 15 menit. Harusnya gajimu dipotong 10%.”

Aku ternganga, kulihat jam yang melingkari lenganku. Aku hadir tepat waktu, hanya berlebih sekitar 30 detik, dan Reynan menganggapku terlambat 15menit. Lalu apa yang aku dengar tadi? Gajiku dipotong? 10%?

Mulutku menganga, dengan pikiran yang terus terusik.

“Tapi, Pak. Ini masih jam ....”

“Kamu sekertaris ku, merangkap jadi asistenku. Jadi kamu harus berangkat 15menit lebih awal dariku. Kamu paham?”

“Tapi, Pak!”

“Paham atau saya pecat sekarang juga?”

“Paham, Pak!”

“Bagus. Siapkan jadwal ku hari ini, ingat ada peresmian kantor cabang baru yang harus aku kunjungi.”

“Baik, Pak.”

Lelaki super arogan itu melengkah hendak masuk ke ruangannya. Hingga sepersekian detik menoleh ke belakang. “Kamu juga harus menunduk hormat ketika aku lewat, tak ada perkecualian.”

“Baik, Pak.”

Lelaki itu kembali menoleh, hingga punggung kekar terbalut jas itu tak lagi terlihat.

Aku duduk di kursi tempatku kerja, menarik nafas panjang yang tadi sempat tertahan
Tak pernah ku bayangkan menjadi assten dari Reyhan, dan terus dijadikan kacung olehnya.
Memori jaman sekolah kembali terlintas begitu saja.
“Viv, ini bakso pangsit yang kamu minta, tanpa daun bawang, tanpa sambal dan saos, kuahnya diberi sedikit lebih banyak. Persis seperti pintamu.” Reynan berjalan mendekat, membawa sebuah mangkok berisi bakso yang kupesan, seulas senyum mengembang indah di bibirnya.

Aku melirik ke arah bakso yang diletakkan di atas meja di depanku. Senyum kecut dan membuang pandangan. “Aku dah gak pengen, terlalu lama. Gak lapar.” Kumanyunkan bibirku khas wanita ngambek.

“Viv, kan memang antri belinya. Lihat saja kantin penuh, Sayang.”

Aku menatap jejeran para siswa itu mengantri hanya untuk mendapatkan bakso pangsit Mang Herman, bakso buatannya memang terkenal lebih enak dari para penjual kantin lainnya.

“Gak peduli. Aku pengennya tadi, sekarang sudah gak pengen.”

Aku bangkit, dan meninggalkan Reynan yang terus menatapku.

“Kerja itu fokus. Jangan melamun.”

Aku terkejut ketika terdengar gebrakan di atas meja di depanku. Seorang lelaki tengah berdiri menatapku dengan murka, wajah dan telinga memerah penuh amarah.

🥀🥀🥀🥀

Bab.3

“Pak Reynan,” ucapku lirih dan bangkit dari tempat dudukku. Aku menundukkan tubuhku dengan hormat.

“Aku membayarmu bukan untuk melamun,” teriaknya dengan suara yang menggelegar. Terlihat para staf lain menatap kami, karena sekat antara ruang ini dengan staf lainnya adalah dinding kaca. Dan ketika Reynan menoleh, mereka kembali sok sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

“Ma-maaf, Pak!”

“Mana jadwal yang aku minta?” tanya Reynan sambil mengarahkan tangan ke arahku.

Mati aku, aku belum menyiapkan apapun, bahkan untuk menyalakan laptop di depanku pun belum.

Aku menggigit bibir bawahku, dengan tangan yang terus mengucek ujung kemeja yang kupakai.

“Belum siap, Pak!” jawabku ragu.

“Belum siap?”

Terdengar kembali gebrakan meja, yang membuat para staf kembali menoleh, dan lagi ketika Reynan menatap ke arah mereka, para staf kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

“Kamu tak pernah berubah. Selalu menganggap keperluan orang lain itu tidak penting,” ucapnya dengan ketus.

Ia kembali mengingatkan masa di mana aku masih menjalin hubungan dengannya, masa abu-abu dan berlanjut di bangku kuliah semester empat. Cukup lama memang kita menjalin hubungan.

“Jam 8 aku ada klien penting, pastikan semua data yang disajikan tampil sempurna. Setelah itu kita kunjungi cabang baru perusahaan ini.”

Aku mengangguk mengerti.

Pukul delapan berjalan lebih cepat, untung saja data-data sudah aku cek dan semua sudah tertata rapi, hanya tinggal presentasi saja.

Semua berkumpul dalam satu ruang, di mana meja besar melingkar itu menjadi meja bersama kami, sedang aku duduk tak jauh dari Reynan berada, menatap ke laptop yang terhubung langsung ke papan, untuk menampilkan slide demi slide dalam presentasi.
Rapat pun berjalan begitu lancar, klien Reynan begitu antusias dan tertarik bekerja sama dengan perusahaan ini, terlihat senyum indah tersungging di bibir Reynan. Senyum tulus, yang baru kujumpai setelah 5 tahun ini.

“Syukur semua berjalan lancar ya, Pak!” ucapku saat memasuki lift bersama.
Mencoba memecah kebisuan yang terjalin sangat lama.

“Jangan sok akrab, kita itu beda kasta” jawabnya ketus sambil memperhatikan jam yang melingkari lengannya.

Aku kembali mengingat memori masa lalu. Dimana bapak masih berjaya dengan perusahaannya, apapun yang aku mau, pasti bisa kumiliki. Ditambah dengan parasku yang cantik di atas rata-rata, membuat semua kaum bernama lelaki bertekuk lutut kepadaku.

Sifat Aroganku mulai muncul, aku juga lebih memilih-milih teman, semua kugolongkan dengan kasta masing-masing, dimana aku tak mau berhubungan dengan kasta di bawahku, terkecuali Reynan. Ya, aku sendiri tak tahu alasannya, kenapa aku bisa menjalin hubungan lelaki berwajah oriental itu

“Ma-maaf, Pak.”

Aku menunduk hormat, lalu berjalan mengekori ia menuju parkiran gedung besar ini.

“Bapak gak bawa supir?” tanyaku ketika ia membuka pintu mobil depan.

“Bukan urusanmu.”

Aku mengikuti ia yang masuk mobil. Duduk di jok belakang dengan pandangan lurus mengarah ke jalan.

“Viv, aku bukan supirmu,” bentak Reynan dengan pandangan lurus ke depan. Tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.

“Ma-maaf, Pak.”

Aku keluar mobil, dan masuk jok depan, sejajar dengan Reynan. Mungkin kebiasaanku dari dulu yang menjadi orang kaya bak putri raja, hingga terbiasa duduk di belakang, dan tak ingin sejajar dengan kasta di bawahku.

Reynan tampak menginjak gas mobil hingga kendaraan roda empat ini perlahan berjalan. Tak ada percakapan, tak ada musik yang terdengar, hanya bisu dan saling menghadap ke depan dengan pikiran masing-masing.

Sedikit kulirik ke arahnya. Lelaki bertubuh kekar dengan tangan kokoh itu memegang kemudi tampak serius menatap jalanan, jas hitam dan jam mahal yang melingkari lengannya seakan menjadi pertanda kalau ia naik ke kasta tertinggi. Berbeda denganku, yang kini di titik terendah. Bahkan untuk sekedar makan sehari-hari pun kami harus berhemat. Semesta tak lagi berpihak , sifat arogan, posesif, tak mau mengalah, kini harus berbanding terbalik dengan sifatku yang sekarang. Bahkan harga diri yang selalu ku junjung tinggi di atas segalanya, harus kalah dengan namanya uang.

Lalu bagaimana Reynan bisa mencapai di posisi ini? Setahu aku dia bukanlah orang kaya, dia kasta menengah, yang mendapatkan kehormatan bisa mengenalku.

Sejam, dua jam, waktu terus berjalan. Namun, selama itu juga kami terus terdiam tanpa ada sepatah katapun terucap dari bibir kami. Kurasakan perut mulai melilit karena tadi tidak sempat sarapan, lebih tepatnya menunda sarapan karena memang keterbatasan uang belanja.

Tiba-tiba laju mobil berhenti di sebuah gedung besar dengan banyak orang yang saling berkumpul, karpet merah menyambut, Reynan turun dan berjalan begitu saja, sedangkan aku yang belum siap, sedikit tergopoh untuk mengikuti. Berjalan sedemikian rupa, berharap sepatu yang mulai jebol di salah satu sisinya tak semakin parah rusaknya. Tidak etis juga kan ada drama sepatu rusak di acara penting seperti ini.

Semua menunduk hormat ketika Reynan lewat, lalu jalannya terhenti ketika berada tepat di depan pita merah bersimpul kupu-kupu. Seorang lelaki paruh baya berjabat tangan dan memberikan sebuah gunting yang dihias indah, dan beberapa menit kemudian pita tersebut terputus oleh gunting yang dipegang bos aroganku.

Tepuk tangan meriah terdengar, begitupun aku yang turut menyumbang suara dengan kedua tanganku. Senyum tersungging di bibir masing-masing tak terkecuali dengan Reynan. Seorang CEO muda yang memiliki beberapa cabang di beberapa kota.

Sebentar saja kita di tempat ini, setelah acara peresmian dan sambutan-sambutan. Kami harus kembali ke kantor, ada banyak list yang menunggu untuk dikerjakan, dan seperti biasanya aku harus mengekori lelaki di depanku.

Duduk bersama tanpa obrolan sama sekali, membuat cacing di perut semakin kepanasan meminta jatah, tak mungkin juga aku meminta bos Aroganku ini untuk berhenti sejenak dan menungguku makan.

Tak selang lama, Reynan menoleh ketika mendengar perutku berbunyi.
Sedikit ia melirik ke arahku, lalu kembali fokus menatap jalan. “Kamu lapar, Viv?”

“Iya, Pak. Maaf.”

Beberapa saat ia terdiam. Namun, tak ada tanda-tanda ia berhenti untuk mengisi perut.

“Tasku di jok belakang, ambillah. Ada roti yang bisa kamu makan.”

Aku terpaku. Benarkah? Sedingin apapun Reynan, ia ternyata masih memiliki sosok hangat.

Bergegas kuraih tas hitam miliknya, merk mahal di sudut benda itu membuatku terus ternganga. Dari mana Reynan bisa berubah secepat ini?

“Ini, Pak. Tas nya.”

“Buka saja.”

Aku membuka resleting tas, dan terdapat banyak tumpukan berkas di dalamnya, hingga akhirnya mataku tertuju kepada sebuah roti yang bertuliskan salah satu merk terkenal. Mataku berbinar, bahkan sudah kubayangkan bagaimana roti pisang itu terasa lembut di mulutku.

“Pak, ini kenapa ada bekas gigitan?” Aku menatap roti yang kini kupegang, roti sisa dengan sedikit bekas gigitan.

“Hanya berkurang sedikit, yang penting bisa mengganjal perutmu.”

“Tapi, Pak. Ini si – sisa,” ucapku ragu.

“Bukankah dulu aku selalu makan sisamu? Lalu, kenapa? Kamu tidak mau makan bekasku?”

____

Bab.4

“Tapi, Pak. Ini si – sisa,” ucapku ragu.

“Bukankah dulu aku selalu makan sisamu? Lalu, kenapa? Kamu tidak mau makan bekasku?”

Dengan ragu akhirnya aku memakannya, setidaknya roti pisang coklat ini sedikit mengenyangkan ku. Ditambah lagi aroma wangi roti yang menguar di indraku, seakan merayuku untuk lekas memakannya.

“Terima kasih, Pak!” ucapku.
Tak pernah kusangka, aku mengucapkan terima kasih hanya karena roti sisa. Dimana harga diriku dulu?

Reynan menatap ke arahku, lalu tersimpul senyum tipis di bibirnya.
Ya, aku tahu kali ini dia balas dendam, tapi biarlah, prioritas utamaku adalah kesembuhan ibu dan sekolah Alisa. Bagaimanapun aku harus kuat.

Reynan membuka mobil dan berlalu seperti biasa, menyisakan aku yang tergopoh belum siap ke luar. Kuambil tas kecil milikku, serta stopmap yang berisi data-data penting yang harus kukerjakan.

“Selamat sore, Pak!”

“Selamat sore, Pak!”

Salam terus terdengar ketika Reynan melewati para staf, dan lagi-lagi dengan angkuhnya ia tak membalas. Bahkan sekedar menolehpun tidak.

“Viv, kerjaanku sudah selesai. Ayo kita pulang.”
Aku bertemu dengan Pak De saat dilantai bawah, sudah berkemas dengan menenteng tas di tangannya.

“Kerjaanku masih banyak, De. Masih banyak laporan yang belum selesai, dan besok harus sudah tersaji untuk Pak Reynan.”

Pak De terdiam.

“De, pulang saja dulu. Nanti Vivi bisa pulang lewat ojol.”

“Kamu gak papa pulang sendiri?”

“Gak papalah, de. Vivian kan sudah gede.”

“Lalu kamu punya uang untuk membayarnya?”

Aku terdiam, kembali mengingat berapa isi dompetku saat ini. 20ribu, dan itu rencananya pun mau kubelikan mie instan untuk malam.

“Ini, nanti untuk bayar ojolnya,” ucap Pak De sambil memberikan uang selembar 100ribuan.

“Tapi, De.”

“Gak usah sungkan. Anggap saja kamu pinjam, kalau punya uang lebih bisa dikembalikan. Pak De ada acara sama anak-anak, jadi maaf tidak bisa menunggumu.”

“Gak apa, De. Bantuan pak De selama ini lebih dari cukup.”

Akhirnya kuterima selembar uang itu, dan berjanji akan mengembalikannya saat gajian nanti.
Kurasakan getaran dalam saku celanaku, bergegas aku meraihnya, dan mendapati nama bos arogan masuk dalam tampilan depanku.

“Bentar, De. Vivian angkat telfon dulu.”

Pak De mengangguk, lali aku menggeser layar yang kupegang.

“Hal ...”

“Kemana saja, Viv? Aku butuh laporan data darimu. Jangan ninggalin meja kerja tanpa alasan jelas,” terdengar bentakan dari ponselku, hingga tak sadar aku menjauhkan benda tersebut dari telinga.

“Sudah, sana kembali ke mejamu,” ucap Pak De yang sepertinya memahami.

Aku langsung berjalan cepat menuju lift, bergegas kembali ke meja kerjaku.
Aku mengernyitkan dahi ketika mendapati Reynan duduk di atas mejaku dengan wajah masam, diketuknya pensil yang ia pegang ke meja yang diduduki, seirama dengan detikan jam yang berjalan.

“Kamu terlambat 3menit 48detik. Harusnya dari lantai bawah dan naik kesini itu membutuhkan 5menit, jika naik tangga 10 menit, dan sekarang waktu berjalan hingga 13 menit 48detik.”

Aku mendelik kearahnya, hanya terlambat waktu sekian menit saja menjadi masalah.

“Aku ini bos, Viv. Bisa tidak lebih sopan sedikit.”

“Ma-maaf, Pak!” ucapku sambil menunduk hormat.

“Bagus. Jangan ulangi lagi.”

“Tapi, Pak. Boleh tidak saya ijin untuk ...!”

“Tidak boleh. Selesaikan tugasmu baru boleh ijin. Aku menunggu laporannya 10 menit dari sekarang. Kutunggu di ruanganku.”
Lelaki arogan itu berlalu begitu saja.

Kusentuh perutku yang semakin perih. “Sabar ya, Cing. Nanti kalau laporan sudah selesai kuisi lagi perut kalian. Jangan nakal di sana,” ucapku sambil mengelus perut. Berharap parasit di perutku itu mau kuajak berkompromi.

Sesaat kemudian, laporan telah selesai. Tak terlalu lama memang, karena aplikasi yang dipakai perusahaan cukup membantu, hanya perlu mengecek saja agar data pasiva dan aktiva imbang.
Kubuka sedikit gorden di sisiku, mentari telah berlalu, hingga bintang kembali menebar cahayanya.

Sruut...
Terdengar printer yang usai bekerja, sebuah kertas berisi data itu keluar darinya. Bergegas kuambil kertas tersebut dan kusatukn dengan beberapa data yang lain, memasukkan ke dalam map dan berlalu menuju ke ruang Pak bos Aroganku.

“Telat 12 detik,” ucap Reynan saat kakiku menginjak ruangannya.

Ia berdiri di depan meja dengan mata yang terpaku dengan jam tangan yang melingkar di lengan kekarnya. Apa ia tidak memiliki tugas selain menatap detikan jam yang berjalan.

“Ma-maaf, Pak,” ucapku sambil menunduk.
Sebenarnya jengkel juga berada di posisi ini, tapi bagaimanapun aku harus kuat, ada ibu dan Alisa dirumah dengan penuh harapan.

Reynan tampak mengangguk ketika melihat lembaran laporan yang kuterima, senyum indah mengembang di bibirnya. Keuangan kantor aman, dan pendapatan melejit, itulah sekilas data yang kulihat tadi.

“Sepatumu kenapa, Viv?”

Aku terperanjat ketika melihat sepatu yang kukenakan, jempol kaki keluar dari batasnya. Kututup wajahku malu, berada di kasta terendah memang menyebalkan.

“Ma-maaf, Pak!”

“Kamu sengaja memakai sepatu rusak untuk memalukan perusahaan?”

“Tidak, Pak. Hanya ini sepatu yang kupunya,” jawabku ragu.
Sungguh ada rasa sakit di hati, saat jujur tentang kekuranganku di depan orang lain.

Reynan menatap heran, Lalu diambilnya beberapa lembar kertas uang dari dompetnya, dihamburkan begitu saja.
“Ambil itu, ini masih jam 8 malam, mall masih banyak yang buka.”

Mendapati penghinaan seperti ini terasa menyakitkan, harga diriku pergi bersamaan perginya bapak yang meninggalkanku. Bagaimanapun aku harus kuat.

“Baik, Pak!” Aku menunduk hormat, lalu mengambil uang yang berceceran di lantai.

“Itu tidak gratis. Akan kupotong dari gajimu.”

_____&

Bab.5

Kuhitung lembaran uang ratusan itu, tepatnya ada 15 lembar, sangat lebih dari cukup jika aku gunakan membeli sepatu.
Bergegas kuisi perut terlebih dulu, aku tak ingin sakit hanya karena telat makan, bagaimana nasib ibu dan Alisa?

**

“Kak, larut sekali pulangnya?”
Alisa yang tengah duduk di kursi tamu itu bergegas bangkit setelah melihatku datang.
Diterimanya martabak telur dan roti bakar yang sengaja kubelikan. Rasanya sudah lama sekali aku tidak jajan untuk mereka.

“Ibu mana?”

“Sudah tidur, Kak.”

“Itu makan dulu, mumpung masih anget.”

Aku duduk di kursi sambil meletakkan tas dan kantong kresek yang berisi sepatu baru, menyelonjorkan kaki dan memijitnya perlahan.

“Mbak Vi capek?”
Alisa memasukkan potongan martabak itu ke mulutnya, hingga terlihat pipinya membulat, lalu menghampiriku.
Ia duduk dibawah dan memegang kakiku, dipijitnya kaki itu dengan senyum yang mengembang.

“Gak usah, Sa. Kamu juga pasti capek ngurus ibu dan rumah. Kamu habisin aja dulu jajannya.”

Aku akui Alisa juga tak kalah capek dari aku. Biaya sekolahnya dibiayai karena prestasi, hingga dia wajib mempertahankan nilainya, hidupnya hanya dihabiskan untuk belajar dan mengurus ibu, tidak lupa urusan rumah dia yang memegang semua, karena aku lebih bnyak menghabiskan waktu di luaran mencari uang.

“Kak Viv, apa sudah gajian? Masa iya kerja baru sehari sudah gajian?”

Aku tersenyum mendapati adikku yang kritis itu.

“Bukannya bos kakak juga arogan dan galak, gak mungkin juga kan dia seroyal ini? Atau jangan-jangan?”
Gadis kecil itu menutup mulutnya, yang justru membuatku tertawa.

“Jangan pikiran enggak-enggak. Semiskin apapun kita, kakak gak mungkin jual diri.”

Gadis itu tersenyum.

**
[ Viv, maaf hari ini kita gak bisa berangkat bareng. Pak De pindah ke kantor cabang. ]

Mataku membulat sempurna ketika membaca pesan dari Pak De ku. Baru saja kemarin aku berpikir bisa mengirit transport, saat ini harus menambah anggaran bulanan. Kulihat jam di sudut ponselku, waktu sudah pukul 6 pagi.
Bergegas kupercepat dandanku, tak banyak yang kupakai memang, hanya bedak dan lipstik, tanpa foundation, maskara, dan alat perang lainnya.

“Kak, sudah mau berangkat? Pak De kan belum datang?” Alisa yang sedang menyiapkan makan untuk ibu menatapku heran.

“Pak de pindah ke cabang, jadi Kakak harus berangkat awal dan nunggu angkutan.”

Bergegas kuraih tangan ibu yang sedang duduk dan menunggu makanan yang disiapkan Alisa, kukecup punggung tangan yang mulai mengerut itu, dan banyak doa keluar dari wanita yang telah melahirkanku.

“Kak Viv, Alisa sudah siapkan bekal untuk kakak.”
Gadis kecil itu memberikan kotak makan kepadaku, lalu kubalas dengan senyuman. Diraihnya punggung tanganku dan diciumnya dengan khidmat.

“Terima kasih.”
Kuusap lembut rambutnya lalu sedikit berlari menuju tepi jalan raya.

Rumah yang berada di tengah kampung, membuatku harus berjalan sekitar 100m an untuk menjumpai jalan raya, disana lah aku baru menunggu kendaraan yang lewat.
Dengan nafas yang terengah, aku menjulurkan tangan ketika sebuah angkutan datang. Menaiki kendaraan beroda empat itu, bersamaan para pengguna jasa angkutan yang lainnya.

Betok, betok, betok

Suara ayam betina itu saling bersaut, menambah sesak di dalamnya. Salah satu dari pengguna jasa ini adalah penjual ayam, aku bahkan harus menutup sedikit hidungku agar bau khas binatang tersebut tak masuk indraku. Dari kecil aku memang kurang s**a dengan binatang.

Ponselku berdering, dan aku bergegas meraih benda tersebut di sakuku. Bos arogan tertulis di layarnya. Kuusap layar tersebut, hingga aku masuk ke dalam panggilanya.

“Selamat Pagi, pak.”

“Hari ini Santoso kupindah di cabang. Jangan telat, Viv. Ingatkan kalau telat gaji kupotong, ditambah lagi hutang yang baru saja kuberikan kemarin.”
Suara arogan dari lelaki itu, beserta tertawa puasnya membuat otakku mendidih. Sepertinya ia memang sengaja meminta Pak De pindah, tidak profesional sekali.

“Saya pasti ingat dengan hutang saya, Pak Bos yang terhormat. Saya pasti bayar dan tidak mungkin melalaikannya.”

Aku matikan telfon begitu saja, lalu mengatur nafas yang tak karuan.

“Pak berhenti.”

Roda mobil mulai berhenti perlahan, dan kuberikan ongkos sebelum aku turun.
Kulihat jam yang melingkari lenganku, pukul 7 kurang 5 menit.
Bergegas aku berlari dan ... Lift itu penuh, hingga akhirnya aku memilih tangg menjadi alternatif.

“Lari pagi, Viv?”

Lelaki bertubuh kekar dengan jas hitam itu tengah berdiri di depan meja menatapku.

“Iya, Pak. Lumayan kan, gak perlu ikut gym.”

Lelaki itu tersenyum miring, menatap puas dengan wajah kelelahanku. Aku yakin bedak murahan yang kupakai saat inipun telah luntur bersamaan keringat yang terus mengalir.

Aku berjalan menuju mejaku, melewati tubuh Aroganku itu begitu saja.

“Viv!” Matanya membulat menatapku

“Iya,” jawabku jengah.

Lelaki itu menutup hidungnya, sambil mengerutkan dahi.

“Viv, baumu!”

Bersambung ...
Selanjutnya bisa dibaca di aplikasi KBM

https://read.kbm.id/book/detail/5464b708-1d29-4944-b6ba-f5b7ae44b7f7?af=83099b4f-e424-269b-4ebf-37d6b5bd2ae9

Address

Demak
59511

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Rekomen cerbung mengharukan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share