19/10/2018
Berkah itu Kini Menjadi Kutuk
Logika_ghoday
Oleh Riad faisal sera
Manusia. Mungkin salah satu mahluk paling unik di jagad ini. Kekuatan fisiknya lemah. Namun, berkat kerja sama dan kekuatan pikirannya, ia bisa menjadi begitu perkasa di planet bernama bumi ini.
Pikiran Manusia
Pikirannya begitu kompleks. Ia bisa mengingat apa yang sudah berlalu. Ia juga bisa membayangkan apa yang belum ada. Dengan pikirannya, ia bisa mendirikan organisasi yang mengubah wajah dunia.
Otaknya pun unik. Untuk ukuran mahluk mamalia, otak manusia termasuk besar. Bagian terbaru dari otaknya membuatnya mampu berpikir secara analitis dan diskursif. Artinya, ia bisa dengan sadar memikirkan dan membuat keputusan di dalam hidupnya.
Sebagai bentuk dari pikiran, ada dua produk pikiran yang membentuk peradaban manusia. Yang pertama adalah ingatan. Dengan ingatan, manusia bisa belajar dari masa lalunya, sehingga pengetahuan bisa terus berkembang. Dengan ingatan, manusia juga tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama, seperti para pendahulunya.
Yang kedua adalah imajinasi. Dengan imajinasi, manusia bisa membayangkan apa yang belum ada. Ia bisa mencipta masa depannya. Berbagai karya seni dan budaya adalah hasil dari imajinasi manusia.
Menjadi Kutuk
Ingatan dan imajinasi adalah berkah kehidupan. Namun, keduanya kini justru menjadi kutuk. Ingatan membuat manusia menyesali masa lalunya. Ia mengalami trauma, dan terus dihantui penyesalan dalam hidupnya.
Imajinasi pun juga sama. Ia membuat manusia membayangkan hal-hal yang buruk. Kecemasan dan ketakutan adalah buahnya. Ingatan dan imajinasi yang tak terkelola dengan baik mendorong manusia ke jurang depresi, bahkan bunuh diri.
Ini kiranya serupa dengan negara yang kaya akan berbagai sumber daya alam. Pada awalnya, itu adalah berkah. Namun, ia menjadi kutuk, karena membuat rakyat menjadi malas berkembang, serta menjadi korban dari kapitalisme global yang rakus. Berkah alam pun menjadi sumber petaka kehidupan.
Keluar dari Kutuk
Jalan keluar dari kutuk ini sebenarnya cukup sederhana. Ingatan cukup disadari sebagai ingatan. Penyesalan muncul, namun ini tetap disadari sebagai bagian ingatan. Ingatan adalah jejak masa lalu. Ia bukan kenyataan.
Begitu p**a dengan imajinasi. Ketika ia muncul, dan menciptakan kecemasan, cukup ia disadari sebagai imajinasi. Imajinasi juga bukanlah kenyataan. Ia pun lalu bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih baik, seperti mencipta karya seni, berpikir kreatif, dan sebagainya.
Ingatan dan imajinasi pun kembali menjadi berkah, asal ia berada dalam pengelolaan kesadaran. Pada titik ini, tidak ada lagi yang mampu membuat manusia menderita. Penderitaan hanya muncul dari kenangan masa lalu, maupun kecemasan akan masa depan. Keduanya adalah hasil dari ingatan dan imajinasi, bukan kenyataan itu sendiri.
Di dalam kenyataan, tidak ada penderitaan. Semua tampil apa adanya. Tidak baik. Tidak buruk.