Teratai Biru

Teratai Biru Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Teratai Biru, Travel and transport, Bengkong, Batam.

Hari ini aku ikut bantu panitia maulid di masjid. Padahal, baru sekali aku datang ke sana sejak beberapa bulan tinggal d...
05/09/2025

Hari ini aku ikut bantu panitia maulid di masjid. Padahal, baru sekali aku datang ke sana sejak beberapa bulan tinggal di sini. Jalannya? MasyaAllah… naik bukit curam kayak mau ziarah ke puncak gunung Himalaya. Baru lima langkah, dengkul udah minta pensiun dini. Begitu sampai, napas tinggal satu-satu, persis handphone jadul sisa baterai 1%. Rasanya kayak ikut ujian fisik TNI, padahal cuma mau bantuin nyiapin makanan.

03/09/2025

Selamat datang di Festival Payung Indonesia XII 🎉
📅 5–7 September 2025
📍 Taman Balekambang, Solo

Mari kita sambut bersama ruang penuh warna, kreasi, dan harmoni.
Saatnya mengisi kegiatan ini dengan semangat kebersamaan menari, berkarya, berkreasi, dan saling berbagi inspirasi. 🌸🎶

Di tengah masa-masa yang penuh tantangan, festival ini hadir sebagai ruang sejuk untuk menguatkan hati, menumbuhkan harapan, dan merayakan keberagaman.

💫 Solo tetap aman, penuh kehangatan, dan siap menyambut Anda dengan suasana festival yang tak terlupakan.

30/08/2025

Hari Ini, 30 Agustus 2025

Hari ini,
rakyat kecil kembali turun ke jalan.
Bukan untuk gagah-gagahan,
tetapi demi harga beras yang makin sulit dijangkau,
demi anak-anak yang berdiri di depan pintu sekolah
dengan tangan kosong.

Hari ini,
di tengah teriakan itu,
seorang anak muda bernama Affan
tak lagi p**ang.
Ia menjadi korban negeri
yang lebih sigap menjaga kursi
ketimbang menjaga nyawa warganya sendiri.

Korban sudah berjatuhan.
Apalagi yang harus dikorbankan?
Apakah suara rakyat hanya akan dianggap nyata jika sudah tercampur darah?

Di atas sana,
meja kekuasaan masih penuh pesta,
anggaran mengalir ke saku yang tak pernah puas, sementara rakyat kecil menahan lapar
sambil menagih janji yang tak pernah ditepati.
Luka sudah menganga dari pesta serakah di atas penderitaan rakyat.

Batam, 30 Agustus 2025

Masjid Agung Engku Raja Hamidah Malam ini begitu syahdu. Angin berhembus lembut, membawa aroma kakao dari pabrik yang be...
27/08/2025

Masjid Agung Engku Raja Hamidah

Malam ini begitu syahdu. Angin berhembus lembut, membawa aroma kakao dari pabrik yang berdiri tak jauh dari. Aku duduk di pelataran Masjid Agung Engku Raja Hamidah, lampu-lampunya berpendar terang, seakan menjadi penawar bagi jiwaku yang tengah keropos oleh luka. Dari kejauhan, kulihat siluet jamaah masuk beriringan, sementara suamiku melangkah ringan, meninggalkan sejenak sesak dunia untuk sejenak bersujud.

Aku menunggu di sini, bersama Amira yang tak henti-hentinya tersenyum, berlarian kecil di pelataran masjid. Wajahnya berseri, seakan ia adalah bunga mungil yang mekar di tengah reruntuhan hatiku. Suaranya yang renyah bercampur dengan bacaan imam yang merdu, menyalakan rasa damai yang sudah lama hilang dari rongga dadaku.

Ada sesuatu yang tak bisa aku ungkapkan. Seperti ada perih yang menancap begitu dalam, tetapi terbalut lembut oleh kalam suci yang berkumandang. Lantunan ayat malam ini membuatku terdiam, menahan air mata agar tidak jatuh di hadapan anakku. Aku takut Amira melihat ibunya terlalu rapuh. Biarlah ia mengenang masjid ini sebagai tempat yang membuatnya tertawa, bukan tempat di mana ia melihat ibunya hancur.

Sesungguhnya, aku tengah porak-poranda. Ada badai yang tak seorang pun tahu, selain Allah yang Maha Mendengar. Ada luka yang tak bisa kuceritakan, bahkan pada orang yang duduk di sampingku setiap hari. Luka itu aku simpan, seperti karang yang diam memeluk ombak, meski terkikis sedikit demi sedikit.

Namun di pelataran masjid ini, aku merasa ada sesuatu yang merangkulku. Dinding-dinding tinggi yang kokoh, cahaya lampu yang hangat, dan suara imam yang menyeret hatiku untuk kembali mengingat, bahwa tiada daya dan upaya kecuali dengan izin-Nya. Aku mendongak ke langit, melihat bulan sabit nun jauh di sana. Aku ingin berbicara pada-Nya. Tentang betapa aku lelah. Tentang betapa aku ingin menyerah, tetapi tak bisa karena ada Amira, ada suamiku, dan ada hidup yang harus kujalani, meski terasa asing dan sunyi.

Amira menghampiriku, meraih tanganku dengan jari-jarinya yang mungil. “Ibu, indah ya masjidnya.” Suaranya membuat dadaku sesak. Aku mengangguk, tersenyum sambil menahan gemuruh di dalam hati. Ya, indah sekali. Bahkan terlalu indah untuk hati yang sedang retak seperti milikku.

Aku menatap pintu masjid yang masih terbuka. Suamiku sedang di dalam sana, tenggelam dalam rakaat-rakaatnya. Aku iri. Iri karena ia bisa begitu larut dalam sujud, sementara aku hanya mampu berdoa dalam diam, di pelataran, di balik segala keresahan yang tak berujung.

Malam ini, aku belajar lagi. Bahwa di balik porak-poranda, Allah masih menitipkan jeda untuk menenangkan. Bahwa di balik tangis yang tak terucap, masih ada suara merdu imam yang menenangkan. Dan di balik segala runtuh, masih ada Amira—yang membuatku bertahan.

Batam, 27 Agustus 2025


02/08/2025

RUMAH YANG SELALU BASAH 2

Lia mengusap wajahnya yang basah, entah karena air hujan yang menetes dari atap atau air mata yang tak tertahan. Lampu redup lima watt itu berkelip-kelip seakan hendak padam. Bayangan dinding lembap tampak seperti sosok-sosok asing yang mengintainya.

Anaknya yang sulung, dengan polos bertanya lirih, "Bu, besok kita masih bisa sekolah, 'kan?"
Lia terdiam. Lidahnya kelu. Bagaimana menjawab pertanyaan bocah itu, bahkan untuk membeli sebungkus nasi pun ia sudah tak sanggup?

Ibunya kembali batuk, kali ini lebih keras, bercampur darah yang menodai kain lusuh di tangan. Lia merasa tubuhnya melayang, kepalanya pusing, seakan dunia benar-benar menolak keberadaannya.

Di luar, hujan mereda. Namun, suara-suara lain menggantikan: suara lelaki mabuk yang tertawa di warung sebelah, suara motor tua yang meraung di jalan sempit, suara tikus berlarian di loteng. Semuanya bercampur menjadi orkestra muram yang menertawakan kesengsaraan.

Pintu berderit. Lia tersentak. Sosok suaminya muncul. Bajunya basah, wajahnya kusut, tetapi matanya kosong. Ia tidak membawa apapun selain bau asap rokok dan keringat.

"Kau dari mana saja?" suara Lia pecah.

Suaminya melempar pandang ke arah
anak-anak lalu ke wajah istrinya. "Jangan cerewet. Aku capek!"

"Capek?" Lia menahan tangis. "Capek bersenang-senang, sementara aku dan anak-anak ...."

Tamparan itu datang lebih cepat daripada kata-kata. Pipinya perih, bukan hanya karena tangan suaminya, tetapi karena hatinya yang semakin hancur.

Anak-anaknya menangis. Si bungsu meraung di gendongannya, si sulung berusaha memeluk adiknya, sementara si tengah menatap ayahnya dengan ketakutan.

Lia berdiri gemetar. Hatinya penuh luka, tetapi di balik luka itu, ada bara kecil yang mulai menyala. Bara yang selama ini ia kubur dalam-dalam. Keinginan untuk lepas, untuk berlari, untuk tak lagi jadi boneka dalam rumah yang selalu basah ini.

Di luar, langit masih muram. Dalam kepala Lia sebuah rencana mulai terjalin. Bukan tentang membayar hutang, bukan tentang menyelamatkan rumah reyot ini, melainkan cara untuk meninggalkan semuanya.

Malam itu, saat suaminya terlelap tanpa rasa bersalah, Lia duduk di lantai yang dingin. Anak-anaknya tidur meringkuk di kakinya. Tangannya menggenggam sebotol cairan pembersih lantai. Di dalam hati dia berbisik,
“Besok aku akan pergi. Dan aku tak akan pernah kembali.”

Pagi itu, hujan sudah reda. Lia terbaring di lantai semen dengan tubuh kaku dan mulut berbusa. Matanya setengah terbuka menatap langit-langit bocor yang pernah jadi saksi setiap tetes air matanya. Daster lusuh yang melekat di tubuhnya basah kuyup, entah karena air hujan yang menetes semalaman atau karena keringat dingin kematian.

Ibunya menangis serak, batuk bercampur isak. Anak-anak Lia meringkuk di dekat jasad ibunya, kebingungan. Si bungsu yang masih tiga tahun menepuk-nepuk wajah Lia, berharap ibunya bangun seperti biasa. Tapi tubuh itu tak lagi bergerak.

Kabar kematian Lia menyebar cepat. Tetangga-tetangga berdatangan. Mereka yang selama ini hanya melintas tanpa peduli, kini masuk ke rumah reyot itu dengan wajah pura-pura sedih.

"Kasihan sekali ya … padahal dia orang baik," bisik mereka. Ada yang sibuk menyalahkan suaminya, ada yang menyalahkan rentenir, ada yang menyalahkan kemiskinan. Sayangnya, tak satu pun dari mereka pernah memberi Lia segenggam beras atau selembar uang seribu saat dia masih hidup.

Suaminya datang paling akhir. Matanya merah, entah karena benar-benar menangis atau hanya mabuk semalam. Lelaki itu meratap di hadapan jasad istrinya, menepuk-nepuk lantai seakan ingin ikut ditelan bumi.

"Lia, maafkan aku … aku janji akan jadi ayah yang baik ….” Tangis itu pecah, tetapi semua orang tahu, janji itu tidak akan pernah ditepati.

Rentenir juga muncul dengan wajah pura-pura prihatin. Dia berdiri di depan rumah, melipat tangan di dada. "Sungguh tragis. Andai hutangnya cepat dilunasi, mungkin dia tidak akan seperti ini." Kata-katanya menusuk, seakan kematian Lia hanyalah angka di buku catatan piutangnya.

Orang-orang mulai sibuk. Ada yang membawa kain kafan, ada yang mengatur penggalian liang lahat, ada yang menyumbang sekedar untuk biaya pemakaman. Semua tampak berlomba menjadi pahlawan kesiangan, mereka ingin terlihat peduli, meski kepedulian itu datang terlalu terlambat.

Di sudut rumah, anak sulung Lia menatap semua itu dengan mata kosong. Ibunya mati bukan karena sakit atau lapar. Ibunya mati karena dunia terlalu sibuk untuk benar-benar melihat.

"Kasihan sekali … masih muda, sudah mati,” bisik seorang ibu sambil mengusap sudut matanya.

"Ya, suaminya itu yang tak becus," sahut yang lain. "Kalau saja dia lebih bertanggung jawab, Lia mungkin tidak seputus asa itu."

Suami Lia duduk di pojok ruangan, wajahnya tertunduk, tubuhnya berguncang menahan tangis. Sesekali ia menepuk-nepuk dahinya sendiri, seolah ingin menghukum diri. Namun di antara isakannya, ada yang mencibir pelan. “Menangis sekarang? Saat istrinya sudah mati? Dulu ke mana?”

Anak-anak Lia masih belum sepenuhnya mengerti. Si sulung, yang baru delapan tahun, berusaha kuat. Ia duduk di samping ibunya yang terbujur kaku, mencoba mengelus tangan dingin itu, sambil membisikkan doa-doa pendek yang ia hafal dari sekolah. Anak tengah, lima tahun, merengek tanpa henti, memanggil-manggil ibunya yang tak lagi menjawab. Sementara si bungsu masih mencoba membangunkan Lia dengan menepuk-nepuk wajahnya, bingung kenapa ibu tak lagi tersenyum.

Ibunya Lia—nenek anak-anak itu—menangis parau. Suaranya bercampur batuk, serak seperti seruling tua yang pecah nadanya. Ia merasa hancur, kehilangan anak, dan kini harus menggendong cucu-cucu yang tak tahu masa depan mereka.

Jenazah Lia dimandikan. Air mengalir di tubuh kurusnya yang penuh lebam samar, bekas tangan kasar suaminya, yang selama ini ia tutupi dengan diam. Perempuan-perempuan kampung berdesakan, sebagian berdoa, sebagian bergosip lirih.

"Dia sebenarnya sakit hati, ya?”
"Katanya suaminya s**a main perempuan.”
"Ah, biar bagaimanapun, Lia orang sabar."

Saat tubuh itu dikafani, suaminya meraung keras, terjatuh di lantai. Tangannya ingin menyentuh wajah Lia, tapi orang-orang menahannya. “Sudahlah, cukup! Biarkan dia pergi dengan tenang.” Ada yang menghibur, ada p**a yang menilai tangisnya hanyalah sandiwara terakhir.

Pemakaman berlangsung sederhana. Liang lahat digali di pemakaman umum dekat masjid kampung. Orang-orang berbondong-bondong ikut mengantar, bahkan mereka yang jarang peduli sebelumnya. Ada pejabat RT yang baru kali itu menampakkan diri, berpidato panjang lebar tentang pentingnya kepedulian sosial. Ada ustaz yang menasihati jamaah, bahwa kemiskinan bukan alasan untuk berputus asa. Semua berbicara, seolah kematian Lia adalah cermin yang memantulkan kebaikan mereka.
Padahal, saat Lia masih hidup, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar datang mengetuk pintu rumahnya membawa beras, atau sekadar menanyakan kabarnya.

Di tepi liang lahat, anak-anak Lia berdiri terpaku. Mereka menggenggam tangan neneknya erat-erat. Mata mereka kosong, menatap tanah yang menelan tubuh ibu mereka. Anak sulung berbisik lirih, “Bu, aku janji … aku akan jaga adik-adik. Aku nggak akan biarin mereka ambil kami.”

Tanah merah ditimbun. Doa dipanjatkan. Orang-orang menepuk bahu suami Lia, menepuk bahu ibunya, menepuk kepala anak-anaknya—lalu satu per satu pergi. Tinggal keluarga itu sendiri, dikelilingi tanah basah dan udara dingin.

Malam kembali turun. Rumah yang selalu basah itu terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Ember-ember plastik masih berjajar, menampung air dari atap bocor. Tikus-tikus masih berlarian, got masih bau, hujan masih menetes. Bedanya, Lia tidak ada lagi. Di luar rumah, dunia berjalan seperti biasa. Hanya satu nama yang mulai hilang pelan-pelan, Lia. Seolah-olah, perempuan yang hidupnya hancur dan matinya sunyi itu hanyalah catatan kecil yang lewat, bukan luka besar yang pernah benar-benar sembuh.

---

Hari-hari setelah Lia dikuburkan, rumah yang selalu basah itu menjadi saksi baru, bukan lagi suara batuk ibunya, atau isak tangis Lia, melainkan tangisan tiga anak kecil yang ditinggalkan tanpa arah.

Anak sulung, Delan, hanya delapan tahun, tetapi dipaksa menjadi orang dewasa. Ia bangun lebih pagi dari biasanya, menyalakan kompor minyak yang hampir habis, mencoba merebus air untuk adik-adiknya. Tangannya gemetar, hampir terbakar api kecil yang menyala tak stabil. Dia bertahan karena dia tahu, kalau dia tidak bergerak, tak ada lagi yang akan mengurus mereka.

Anak tengah, Mila, sering menangis dalam tidur. Rambutnya yang kusut dipenuhi kutu, matanya sembab. Ia sering bertanya, “Bang, ibu balik lagi nggak? Aku mimpi ibu senyum sama aku.” Delan hanya bisa memeluknya, meski hatinya hancur oleh pertanyaan yang tak bisa dia jawab.

Si bungsu, Rehan, masih tiga tahun. Ia paling sering menatap pintu rumah, menunggu ibunya muncul membawa nasi bungkus. Setiap kali pintu terbuka oleh angin, ia bersorak kecil, lalu kecewa lagi. “Ibu lama sekali,” ucapnya polos, membuat siapa pun yang mendengar ingin menangis.

Nenek mereka, ibu Lia, mencoba sekuat tenaga menjaga cucu-cucunya. Namun, tubuhnya rapuh, paru-parunya sakit. Setiap kali dia batuk, darah segar menodai kain penutup mulutnya. Dia tahu, umurnya tak akan lama. Dan ketakutan terbesarnya adalah siapa yang akan menjaga tiga cucu itu ketika dia juga dipanggil pergi?

Orang-orang kampung mulai sibuk menjadi hakim kehidupan. Ada yang bilang anak-anak itu sebaiknya diasuh panti asuhan. Ada yang menyarankan mereka diberikan ke saudara jauh. Ada p**a yang hanya bergunjing, “Kasihan, kalau tetap di rumah itu, bisa mati kelaparan.”

Suami Lia—ayah mereka—tidak berubah. Ia tetap p**ang larut, tetap mabuk, tetap kasar. Hanya saja kini, setiap kali lelaki itu masuk rumah, Delan berdiri di depan adik-adiknya, melindungi dengan tubuh kecilnya. "Jangan pukul adik-adik, Yah. Kalau mau marah, marah sama aku.” Mata bocah itu menyala dengan keberanian yang tak seharusnya ada di usia sekecil itu.

Suatu sore, rentenir itu datang lagi. Langkah beratnya menggema di lantai semen, suara napasnya terdengar seperti amukan.

"Mana bapakmu?” tanyanya dengan sorot mata tajam.

Delan maju, berdiri tegak meski tubuhnya gemetar. “Ayah nggak ada. Kami nggak punya uang!"

Rentenir itu terdiam sejenak. Ia melirik ke dalam rumah, melihat ember-ember bocor, anak-anak kurus, dan nenek tua yang batuk di pojok. Senyum miring muncul di wajahnya. "Kalau begitu, hutang itu harus dibayar dengan cara lain. Adik-adikmu bisa jadi jaminan.”

Mila menjerit. Rehan menangis keras-keras. Delan memeluk mereka erat, tubuh kecilnya berdiri di hadapan monster itu.
“Tidak ada yang boleh ambil adik saya!” teriaknya.

Tetangga-tetangga mulai keluar rumah, melihat keributan itu. Mereka berbisik-bisik, sebagian pura-pura prihatin, sebagian hanya menonton. Sayangnya, tak ada satu pun yang benar-benar maju membantu.

Batam, 02 Agustus 2025


RUMAH YANG SELALU BASAH 2

Lia mengusap wajahnya yang basah, entah karena air hujan yang menetes dari atap atau air mata yang tak tertahan. Lampu redup lima watt itu berkelip-kelip seakan hendak padam. Bayangan dinding lembap tampak seperti sosok-sosok asing yang mengintainya.

Anaknya yang sulung, dengan polos bertanya lirih, "Bu, besok kita masih bisa sekolah, 'kan?"
Lia terdiam. Lidahnya kelu. Bagaimana menjawab pertanyaan bocah itu, bahkan untuk membeli sebungkus nasi pun ia sudah tak sanggup?

Ibunya kembali batuk, kali ini lebih keras, bercampur darah yang menodai kain lusuh di tangan. Lia merasa tubuhnya melayang, kepalanya pusing, seakan dunia benar-benar menolak keberadaannya.

Di luar, hujan mereda. Namun, suara-suara lain menggantikan: suara lelaki mabuk yang tertawa di warung sebelah, suara motor tua yang meraung di jalan sempit, suara tikus berlarian di loteng. Semuanya bercampur menjadi orkestra muram yang menertawakan kesengsaraan.

Pintu berderit. Lia tersentak. Sosok suaminya muncul. Bajunya basah, wajahnya kusut, tetapi matanya kosong. Ia tidak membawa apapun selain bau asap rokok dan keringat.

"Kau dari mana saja?" suara Lia pecah.

Suaminya melempar pandang ke arah
anak-anak lalu ke wajah istrinya. "Jangan cerewet. Aku capek!"

"Capek?" Lia menahan tangis. "Capek bersenang-senang, sementara aku dan anak-anak ...."

Tamparan itu datang lebih cepat daripada kata-kata. Pipinya perih, bukan hanya karena tangan suaminya, tetapi karena hatinya yang semakin hancur.

Anak-anaknya menangis. Si bungsu meraung di gendongannya, si sulung berusaha memeluk adiknya, sementara si tengah menatap ayahnya dengan ketakutan.

Lia berdiri gemetar. Hatinya penuh luka, tetapi di balik luka itu, ada bara kecil yang mulai menyala. Bara yang selama ini ia kubur dalam-dalam. Keinginan untuk lepas, untuk berlari, untuk tak lagi jadi boneka dalam rumah yang selalu basah ini.

Di luar, langit masih muram. Dalam kepala Lia sebuah rencana mulai terjalin. Bukan tentang membayar hutang, bukan tentang menyelamatkan rumah reyot ini, melainkan cara untuk meninggalkan semuanya.

Malam itu, saat suaminya terlelap tanpa rasa bersalah, Lia duduk di lantai yang dingin. Anak-anaknya tidur meringkuk di kakinya. Tangannya menggenggam sebotol cairan pembersih lantai. Di dalam hati dia berbisik,
“Besok aku akan pergi. Dan aku tak akan pernah kembali.”

Pagi itu, hujan sudah reda. Lia terbaring di lantai semen dengan tubuh kaku dan mulut berbusa. Matanya setengah terbuka menatap langit-langit bocor yang pernah jadi saksi setiap tetes air matanya. Daster lusuh yang melekat di tubuhnya basah kuyup, entah karena air hujan yang menetes semalaman atau karena keringat dingin kematian.

Ibunya menangis serak, batuk bercampur isak. Anak-anak Lia meringkuk di dekat jasad ibunya, kebingungan. Si bungsu yang masih tiga tahun menepuk-nepuk wajah Lia, berharap ibunya bangun seperti biasa. Tapi tubuh itu tak lagi bergerak.

Kabar kematian Lia menyebar cepat. Tetangga-tetangga berdatangan. Mereka yang selama ini hanya melintas tanpa peduli, kini masuk ke rumah reyot itu dengan wajah pura-pura sedih.

"Kasihan sekali ya … padahal dia orang baik," bisik mereka. Ada yang sibuk menyalahkan suaminya, ada yang menyalahkan rentenir, ada yang menyalahkan kemiskinan. Sayangnya, tak satu pun dari mereka pernah memberi Lia segenggam beras atau selembar uang seribu saat dia masih hidup.

Suaminya datang paling akhir. Matanya merah, entah karena benar-benar menangis atau hanya mabuk semalam. Lelaki itu meratap di hadapan jasad istrinya, menepuk-nepuk lantai seakan ingin ikut ditelan bumi.

"Lia, maafkan aku … aku janji akan jadi ayah yang baik ….” Tangis itu pecah, tetapi semua orang tahu, janji itu tidak akan pernah ditepati.

Rentenir juga muncul dengan wajah pura-pura prihatin. Dia berdiri di depan rumah, melipat tangan di dada. "Sungguh tragis. Andai hutangnya cepat dilunasi, mungkin dia tidak akan seperti ini." Kata-katanya menusuk, seakan kematian Lia hanyalah angka di buku catatan piutangnya.

Orang-orang mulai sibuk. Ada yang membawa kain kafan, ada yang mengatur penggalian liang lahat, ada yang menyumbang sekedar untuk biaya pemakaman. Semua tampak berlomba menjadi pahlawan kesiangan, mereka ingin terlihat peduli, meski kepedulian itu datang terlalu terlambat.

Di sudut rumah, anak sulung Lia menatap semua itu dengan mata kosong. Ibunya mati bukan karena sakit atau lapar. Ibunya mati karena dunia terlalu sibuk untuk benar-benar melihat.

"Kasihan sekali … masih muda, sudah mati,” bisik seorang ibu sambil mengusap sudut matanya.

"Ya, suaminya itu yang tak becus," sahut yang lain. "Kalau saja dia lebih bertanggung jawab, Lia mungkin tidak seputus asa itu."

Suami Lia duduk di pojok ruangan, wajahnya tertunduk, tubuhnya berguncang menahan tangis. Sesekali ia menepuk-nepuk dahinya sendiri, seolah ingin menghukum diri. Namun di antara isakannya, ada yang mencibir pelan. “Menangis sekarang? Saat istrinya sudah mati? Dulu ke mana?”

Anak-anak Lia masih belum sepenuhnya mengerti. Si sulung, yang baru delapan tahun, berusaha kuat. Ia duduk di samping ibunya yang terbujur kaku, mencoba mengelus tangan dingin itu, sambil membisikkan doa-doa pendek yang ia hafal dari sekolah. Anak tengah, lima tahun, merengek tanpa henti, memanggil-manggil ibunya yang tak lagi menjawab. Sementara si bungsu masih mencoba membangunkan Lia dengan menepuk-nepuk wajahnya, bingung kenapa ibu tak lagi tersenyum.

Ibunya Lia—nenek anak-anak itu—menangis parau. Suaranya bercampur batuk, serak seperti seruling tua yang pecah nadanya. Ia merasa hancur, kehilangan anak, dan kini harus menggendong cucu-cucu yang tak tahu masa depan mereka.

Jenazah Lia dimandikan. Air mengalir di tubuh kurusnya yang penuh lebam samar, bekas tangan kasar suaminya, yang selama ini ia tutupi dengan diam. Perempuan-perempuan kampung berdesakan, sebagian berdoa, sebagian bergosip lirih.

"Dia sebenarnya sakit hati, ya?”
"Katanya suaminya s**a main perempuan.”
"Ah, biar bagaimanapun, Lia orang sabar."

Saat tubuh itu dikafani, suaminya meraung keras, terjatuh di lantai. Tangannya ingin menyentuh wajah Lia, tapi orang-orang menahannya. “Sudahlah, cukup! Biarkan dia pergi dengan tenang.” Ada yang menghibur, ada p**a yang menilai tangisnya hanyalah sandiwara terakhir.

Pemakaman berlangsung sederhana. Liang lahat digali di pemakaman umum dekat masjid kampung. Orang-orang berbondong-bondong ikut mengantar, bahkan mereka yang jarang peduli sebelumnya. Ada pejabat RT yang baru kali itu menampakkan diri, berpidato panjang lebar tentang pentingnya kepedulian sosial. Ada ustaz yang menasihati jamaah, bahwa kemiskinan bukan alasan untuk berputus asa. Semua berbicara, seolah kematian Lia adalah cermin yang memantulkan kebaikan mereka.
Padahal, saat Lia masih hidup, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar datang mengetuk pintu rumahnya membawa beras, atau sekadar menanyakan kabarnya.

Di tepi liang lahat, anak-anak Lia berdiri terpaku. Mereka menggenggam tangan neneknya erat-erat. Mata mereka kosong, menatap tanah yang menelan tubuh ibu mereka. Anak sulung berbisik lirih, “Bu, aku janji … aku akan jaga adik-adik. Aku nggak akan biarin mereka ambil kami.”

Tanah merah ditimbun. Doa dipanjatkan. Orang-orang menepuk bahu suami Lia, menepuk bahu ibunya, menepuk kepala anak-anaknya—lalu satu per satu pergi. Tinggal keluarga itu sendiri, dikelilingi tanah basah dan udara dingin.

Malam kembali turun. Rumah yang selalu basah itu terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Ember-ember plastik masih berjajar, menampung air dari atap bocor. Tikus-tikus masih berlarian, got masih bau, hujan masih menetes. Bedanya, Lia tidak ada lagi. Di luar rumah, dunia berjalan seperti biasa. Hanya satu nama yang mulai hilang pelan-pelan, Lia. Seolah-olah, perempuan yang hidupnya hancur dan matinya sunyi itu hanyalah catatan kecil yang lewat, bukan luka besar yang pernah benar-benar sembuh.

---

Hari-hari setelah Lia dikuburkan, rumah yang selalu basah itu menjadi saksi baru, bukan lagi suara batuk ibunya, atau isak tangis Lia, melainkan tangisan tiga anak kecil yang ditinggalkan tanpa arah.

Anak sulung, Delan, hanya delapan tahun, tetapi dipaksa menjadi orang dewasa. Ia bangun lebih pagi dari biasanya, menyalakan kompor minyak yang hampir habis, mencoba merebus air untuk adik-adiknya. Tangannya gemetar, hampir terbakar api kecil yang menyala tak stabil. Dia bertahan karena dia tahu, kalau dia tidak bergerak, tak ada lagi yang akan mengurus mereka.

Anak tengah, Mila, sering menangis dalam tidur. Rambutnya yang kusut dipenuhi kutu, matanya sembab. Ia sering bertanya, “Bang, ibu balik lagi nggak? Aku mimpi ibu senyum sama aku.” Delan hanya bisa memeluknya, meski hatinya hancur oleh pertanyaan yang tak bisa dia jawab.

Si bungsu, Rehan, masih tiga tahun. Ia paling sering menatap pintu rumah, menunggu ibunya muncul membawa nasi bungkus. Setiap kali pintu terbuka oleh angin, ia bersorak kecil, lalu kecewa lagi. “Ibu lama sekali,” ucapnya polos, membuat siapa pun yang mendengar ingin menangis.

Nenek mereka, ibu Lia, mencoba sekuat tenaga menjaga cucu-cucunya. Namun, tubuhnya rapuh, paru-parunya sakit. Setiap kali dia batuk, darah segar menodai kain penutup mulutnya. Dia tahu, umurnya tak akan lama. Dan ketakutan terbesarnya adalah siapa yang akan menjaga tiga cucu itu ketika dia juga dipanggil pergi?

Orang-orang kampung mulai sibuk menjadi hakim kehidupan. Ada yang bilang anak-anak itu sebaiknya diasuh panti asuhan. Ada yang menyarankan mereka diberikan ke saudara jauh. Ada p**a yang hanya bergunjing, “Kasihan, kalau tetap di rumah itu, bisa mati kelaparan.”

Suami Lia—ayah mereka—tidak berubah. Ia tetap p**ang larut, tetap mabuk, tetap kasar. Hanya saja kini, setiap kali lelaki itu masuk rumah, Delan berdiri di depan adik-adiknya, melindungi dengan tubuh kecilnya. "Jangan pukul adik-adik, Yah. Kalau mau marah, marah sama aku.” Mata bocah itu menyala dengan keberanian yang tak seharusnya ada di usia sekecil itu.

Suatu sore, rentenir itu datang lagi. Langkah beratnya menggema di lantai semen, suara napasnya terdengar seperti amukan.

"Mana bapakmu?” tanyanya dengan sorot mata tajam.

Delan maju, berdiri tegak meski tubuhnya gemetar. “Ayah nggak ada. Kami nggak punya uang!"

Rentenir itu terdiam sejenak. Ia melirik ke dalam rumah, melihat ember-ember bocor, anak-anak kurus, dan nenek tua yang batuk di pojok. Senyum miring muncul di wajahnya. "Kalau begitu, hutang itu harus dibayar dengan cara lain. Adik-adikmu bisa jadi jaminan.”

Mila menjerit. Rehan menangis keras-keras. Delan memeluk mereka erat, tubuh kecilnya berdiri di hadapan monster itu.
“Tidak ada yang boleh ambil adik saya!” teriaknya.

Tetangga-tetangga mulai keluar rumah, melihat keributan itu. Mereka berbisik-bisik, sebagian pura-pura prihatin, sebagian hanya menonton. Sayangnya, tak ada satu pun yang benar-benar maju membantu.

Batam, 02 Agustus 2025

01/08/2025

RUMAH YANG SELALU BASAH

Hujan itu bukan hanya di langit. Ia tinggal di rumah Lia. Menetes dari genteng yang berlumut, menyusup ke celah-celah kayu rapuh, lalu jatuh di lantai semen yang dingin. Malam ini, seperti malam-malam lainnya, Lia duduk di ruang tamu yang berbau lembap, menatap ember-ember plastik yang berjajar untuk menampung air hujan.

Di pojok ruangan, ibunya batuk, keras dan panjang, seolah paru-parunya hendak runtuh. Suara itu seperti jam kematian yang berdetak pelan. Ayahnya sudah meninggal sejak tujuh tahun lalu. Keadaan ibunya bagaikan beban yang menambatkan Lia di dasar laut. Ia ingin berenang tapi tetap tenggelam.

Lantai basah itu dingin, tapi mereka sudah terbiasa. Anak sulungnya baru delapan tahun, tengkurap di lantai sambil menulis di buku bekas yang sudut-sudutnya sobek. Anak tengahnya lima tahun, rambutnya panjangnya kusut dan banyak kutu, ia sedang memainkan air di ember plastik. Si bungsu, tiga tahun, sejak sore selalu merengek dalam gendongannya. Mata beningnya menatap Lia seperti menuntut jawaban atas pertanyaan, "kenapa kita lahir di sini, Bu?"

Hidup Lia bukan dongeng. Ia nyata. Hidupnya adalah lorong sempit dengan bau got, tikus-tikus sebesar kepalan tangan orang dewasa yang lalu lalang, dan dinding kusam yang bersaksi pada semua tangisnya.

Lalu suara itu datang—langkah berat yang Lia kenal di luar kepala. Rentenir. Bayangan lelaki tambun itu muncul di depan pintu tanpa permisi.

"Lia!" Suaranya seperti pisau tumpul yang menggores telinga. "Katanya semalam mau bayar seratus ribu dulu. Mana?"

Jantung Lia seperti buah busuk yang jatuh ke tanah. Tangannya meraba kantong dasternya yang basah. Uang receh tak sampai lima puluh ribu. Sisa penjualan cincin kawin minggu lalu.

"Pak ... saya ... belum ada uang,"bibir Lia gemetar. "Suami saya belum p**ang kerja. Mungkin besok ...."

Rentenir itu mendengus. Matanya menyapu isi rumah seperti sedang menilai barang rongsokan. "Besok, besok, besok! Dari kemarin ngomongnya besok! Kau kira saya ini lembaga amal?"

Anak Lia yang sulung terdiam di pojok, matanya membesar. Lia ingin menutupi telinga anaknya, tapi tangannya kaku.

“Kalau minggu ini tak bayar juga, aku ambil TV-mu,” ancamnya, padahal televisi itu sudah mati sejak tahun lalu. “Kalau tak ada yang bisa diambil, ya anakmu yang kubawa buat jaminan.”

Dunia Lia runtuh tanpa suara. Dadanya perih. Lelaki itu pergi sambil menendang sandal butut Lia di depan pintu, meninggalkan jejak lumpur di lantai basah.

Malam makin gelap. Suaminya belum p**ang. Ia mungkin sedang duduk di warung kopi, tertawa dengan temannya, pura-pura lupa punya rumah yang bocor dan anak-anak yang lapar. Pura-pura lupa kalau ada istri yang menunggu dalam gelap, bersama hutang yang menjerat leher.

Lia duduk di lantai, punggungnya bersandar pada dinding dingin. Matanya menatap atap yang berlubang, dan di benaknya terlintas satu tanya yang mengiris: Kalau aku pergi malam ini, siapa yang benar-benar akan mencari?

Hujan deras itu telah berganti rintik. Namun, di dalam dada Lia, badai sudah lama mengamuk.

05/12/2022

Address

Bengkong
Batam

Telephone

+85265524244

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Teratai Biru posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Teratai Biru:

Share