02/08/2025
RUMAH YANG SELALU BASAH 2
Lia mengusap wajahnya yang basah, entah karena air hujan yang menetes dari atap atau air mata yang tak tertahan. Lampu redup lima watt itu berkelip-kelip seakan hendak padam. Bayangan dinding lembap tampak seperti sosok-sosok asing yang mengintainya.
Anaknya yang sulung, dengan polos bertanya lirih, "Bu, besok kita masih bisa sekolah, 'kan?"
Lia terdiam. Lidahnya kelu. Bagaimana menjawab pertanyaan bocah itu, bahkan untuk membeli sebungkus nasi pun ia sudah tak sanggup?
Ibunya kembali batuk, kali ini lebih keras, bercampur darah yang menodai kain lusuh di tangan. Lia merasa tubuhnya melayang, kepalanya pusing, seakan dunia benar-benar menolak keberadaannya.
Di luar, hujan mereda. Namun, suara-suara lain menggantikan: suara lelaki mabuk yang tertawa di warung sebelah, suara motor tua yang meraung di jalan sempit, suara tikus berlarian di loteng. Semuanya bercampur menjadi orkestra muram yang menertawakan kesengsaraan.
Pintu berderit. Lia tersentak. Sosok suaminya muncul. Bajunya basah, wajahnya kusut, tetapi matanya kosong. Ia tidak membawa apapun selain bau asap rokok dan keringat.
"Kau dari mana saja?" suara Lia pecah.
Suaminya melempar pandang ke arah
anak-anak lalu ke wajah istrinya. "Jangan cerewet. Aku capek!"
"Capek?" Lia menahan tangis. "Capek bersenang-senang, sementara aku dan anak-anak ...."
Tamparan itu datang lebih cepat daripada kata-kata. Pipinya perih, bukan hanya karena tangan suaminya, tetapi karena hatinya yang semakin hancur.
Anak-anaknya menangis. Si bungsu meraung di gendongannya, si sulung berusaha memeluk adiknya, sementara si tengah menatap ayahnya dengan ketakutan.
Lia berdiri gemetar. Hatinya penuh luka, tetapi di balik luka itu, ada bara kecil yang mulai menyala. Bara yang selama ini ia kubur dalam-dalam. Keinginan untuk lepas, untuk berlari, untuk tak lagi jadi boneka dalam rumah yang selalu basah ini.
Di luar, langit masih muram. Dalam kepala Lia sebuah rencana mulai terjalin. Bukan tentang membayar hutang, bukan tentang menyelamatkan rumah reyot ini, melainkan cara untuk meninggalkan semuanya.
Malam itu, saat suaminya terlelap tanpa rasa bersalah, Lia duduk di lantai yang dingin. Anak-anaknya tidur meringkuk di kakinya. Tangannya menggenggam sebotol cairan pembersih lantai. Di dalam hati dia berbisik,
“Besok aku akan pergi. Dan aku tak akan pernah kembali.”
Pagi itu, hujan sudah reda. Lia terbaring di lantai semen dengan tubuh kaku dan mulut berbusa. Matanya setengah terbuka menatap langit-langit bocor yang pernah jadi saksi setiap tetes air matanya. Daster lusuh yang melekat di tubuhnya basah kuyup, entah karena air hujan yang menetes semalaman atau karena keringat dingin kematian.
Ibunya menangis serak, batuk bercampur isak. Anak-anak Lia meringkuk di dekat jasad ibunya, kebingungan. Si bungsu yang masih tiga tahun menepuk-nepuk wajah Lia, berharap ibunya bangun seperti biasa. Tapi tubuh itu tak lagi bergerak.
Kabar kematian Lia menyebar cepat. Tetangga-tetangga berdatangan. Mereka yang selama ini hanya melintas tanpa peduli, kini masuk ke rumah reyot itu dengan wajah pura-pura sedih.
"Kasihan sekali ya … padahal dia orang baik," bisik mereka. Ada yang sibuk menyalahkan suaminya, ada yang menyalahkan rentenir, ada yang menyalahkan kemiskinan. Sayangnya, tak satu pun dari mereka pernah memberi Lia segenggam beras atau selembar uang seribu saat dia masih hidup.
Suaminya datang paling akhir. Matanya merah, entah karena benar-benar menangis atau hanya mabuk semalam. Lelaki itu meratap di hadapan jasad istrinya, menepuk-nepuk lantai seakan ingin ikut ditelan bumi.
"Lia, maafkan aku … aku janji akan jadi ayah yang baik ….” Tangis itu pecah, tetapi semua orang tahu, janji itu tidak akan pernah ditepati.
Rentenir juga muncul dengan wajah pura-pura prihatin. Dia berdiri di depan rumah, melipat tangan di dada. "Sungguh tragis. Andai hutangnya cepat dilunasi, mungkin dia tidak akan seperti ini." Kata-katanya menusuk, seakan kematian Lia hanyalah angka di buku catatan piutangnya.
Orang-orang mulai sibuk. Ada yang membawa kain kafan, ada yang mengatur penggalian liang lahat, ada yang menyumbang sekedar untuk biaya pemakaman. Semua tampak berlomba menjadi pahlawan kesiangan, mereka ingin terlihat peduli, meski kepedulian itu datang terlalu terlambat.
Di sudut rumah, anak sulung Lia menatap semua itu dengan mata kosong. Ibunya mati bukan karena sakit atau lapar. Ibunya mati karena dunia terlalu sibuk untuk benar-benar melihat.
"Kasihan sekali … masih muda, sudah mati,” bisik seorang ibu sambil mengusap sudut matanya.
"Ya, suaminya itu yang tak becus," sahut yang lain. "Kalau saja dia lebih bertanggung jawab, Lia mungkin tidak seputus asa itu."
Suami Lia duduk di pojok ruangan, wajahnya tertunduk, tubuhnya berguncang menahan tangis. Sesekali ia menepuk-nepuk dahinya sendiri, seolah ingin menghukum diri. Namun di antara isakannya, ada yang mencibir pelan. “Menangis sekarang? Saat istrinya sudah mati? Dulu ke mana?”
Anak-anak Lia masih belum sepenuhnya mengerti. Si sulung, yang baru delapan tahun, berusaha kuat. Ia duduk di samping ibunya yang terbujur kaku, mencoba mengelus tangan dingin itu, sambil membisikkan doa-doa pendek yang ia hafal dari sekolah. Anak tengah, lima tahun, merengek tanpa henti, memanggil-manggil ibunya yang tak lagi menjawab. Sementara si bungsu masih mencoba membangunkan Lia dengan menepuk-nepuk wajahnya, bingung kenapa ibu tak lagi tersenyum.
Ibunya Lia—nenek anak-anak itu—menangis parau. Suaranya bercampur batuk, serak seperti seruling tua yang pecah nadanya. Ia merasa hancur, kehilangan anak, dan kini harus menggendong cucu-cucu yang tak tahu masa depan mereka.
Jenazah Lia dimandikan. Air mengalir di tubuh kurusnya yang penuh lebam samar, bekas tangan kasar suaminya, yang selama ini ia tutupi dengan diam. Perempuan-perempuan kampung berdesakan, sebagian berdoa, sebagian bergosip lirih.
"Dia sebenarnya sakit hati, ya?”
"Katanya suaminya s**a main perempuan.”
"Ah, biar bagaimanapun, Lia orang sabar."
Saat tubuh itu dikafani, suaminya meraung keras, terjatuh di lantai. Tangannya ingin menyentuh wajah Lia, tapi orang-orang menahannya. “Sudahlah, cukup! Biarkan dia pergi dengan tenang.” Ada yang menghibur, ada p**a yang menilai tangisnya hanyalah sandiwara terakhir.
Pemakaman berlangsung sederhana. Liang lahat digali di pemakaman umum dekat masjid kampung. Orang-orang berbondong-bondong ikut mengantar, bahkan mereka yang jarang peduli sebelumnya. Ada pejabat RT yang baru kali itu menampakkan diri, berpidato panjang lebar tentang pentingnya kepedulian sosial. Ada ustaz yang menasihati jamaah, bahwa kemiskinan bukan alasan untuk berputus asa. Semua berbicara, seolah kematian Lia adalah cermin yang memantulkan kebaikan mereka.
Padahal, saat Lia masih hidup, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar datang mengetuk pintu rumahnya membawa beras, atau sekadar menanyakan kabarnya.
Di tepi liang lahat, anak-anak Lia berdiri terpaku. Mereka menggenggam tangan neneknya erat-erat. Mata mereka kosong, menatap tanah yang menelan tubuh ibu mereka. Anak sulung berbisik lirih, “Bu, aku janji … aku akan jaga adik-adik. Aku nggak akan biarin mereka ambil kami.”
Tanah merah ditimbun. Doa dipanjatkan. Orang-orang menepuk bahu suami Lia, menepuk bahu ibunya, menepuk kepala anak-anaknya—lalu satu per satu pergi. Tinggal keluarga itu sendiri, dikelilingi tanah basah dan udara dingin.
Malam kembali turun. Rumah yang selalu basah itu terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Ember-ember plastik masih berjajar, menampung air dari atap bocor. Tikus-tikus masih berlarian, got masih bau, hujan masih menetes. Bedanya, Lia tidak ada lagi. Di luar rumah, dunia berjalan seperti biasa. Hanya satu nama yang mulai hilang pelan-pelan, Lia. Seolah-olah, perempuan yang hidupnya hancur dan matinya sunyi itu hanyalah catatan kecil yang lewat, bukan luka besar yang pernah benar-benar sembuh.
---
Hari-hari setelah Lia dikuburkan, rumah yang selalu basah itu menjadi saksi baru, bukan lagi suara batuk ibunya, atau isak tangis Lia, melainkan tangisan tiga anak kecil yang ditinggalkan tanpa arah.
Anak sulung, Delan, hanya delapan tahun, tetapi dipaksa menjadi orang dewasa. Ia bangun lebih pagi dari biasanya, menyalakan kompor minyak yang hampir habis, mencoba merebus air untuk adik-adiknya. Tangannya gemetar, hampir terbakar api kecil yang menyala tak stabil. Dia bertahan karena dia tahu, kalau dia tidak bergerak, tak ada lagi yang akan mengurus mereka.
Anak tengah, Mila, sering menangis dalam tidur. Rambutnya yang kusut dipenuhi kutu, matanya sembab. Ia sering bertanya, “Bang, ibu balik lagi nggak? Aku mimpi ibu senyum sama aku.” Delan hanya bisa memeluknya, meski hatinya hancur oleh pertanyaan yang tak bisa dia jawab.
Si bungsu, Rehan, masih tiga tahun. Ia paling sering menatap pintu rumah, menunggu ibunya muncul membawa nasi bungkus. Setiap kali pintu terbuka oleh angin, ia bersorak kecil, lalu kecewa lagi. “Ibu lama sekali,” ucapnya polos, membuat siapa pun yang mendengar ingin menangis.
Nenek mereka, ibu Lia, mencoba sekuat tenaga menjaga cucu-cucunya. Namun, tubuhnya rapuh, paru-parunya sakit. Setiap kali dia batuk, darah segar menodai kain penutup mulutnya. Dia tahu, umurnya tak akan lama. Dan ketakutan terbesarnya adalah siapa yang akan menjaga tiga cucu itu ketika dia juga dipanggil pergi?
Orang-orang kampung mulai sibuk menjadi hakim kehidupan. Ada yang bilang anak-anak itu sebaiknya diasuh panti asuhan. Ada yang menyarankan mereka diberikan ke saudara jauh. Ada p**a yang hanya bergunjing, “Kasihan, kalau tetap di rumah itu, bisa mati kelaparan.”
Suami Lia—ayah mereka—tidak berubah. Ia tetap p**ang larut, tetap mabuk, tetap kasar. Hanya saja kini, setiap kali lelaki itu masuk rumah, Delan berdiri di depan adik-adiknya, melindungi dengan tubuh kecilnya. "Jangan pukul adik-adik, Yah. Kalau mau marah, marah sama aku.” Mata bocah itu menyala dengan keberanian yang tak seharusnya ada di usia sekecil itu.
Suatu sore, rentenir itu datang lagi. Langkah beratnya menggema di lantai semen, suara napasnya terdengar seperti amukan.
"Mana bapakmu?” tanyanya dengan sorot mata tajam.
Delan maju, berdiri tegak meski tubuhnya gemetar. “Ayah nggak ada. Kami nggak punya uang!"
Rentenir itu terdiam sejenak. Ia melirik ke dalam rumah, melihat ember-ember bocor, anak-anak kurus, dan nenek tua yang batuk di pojok. Senyum miring muncul di wajahnya. "Kalau begitu, hutang itu harus dibayar dengan cara lain. Adik-adikmu bisa jadi jaminan.”
Mila menjerit. Rehan menangis keras-keras. Delan memeluk mereka erat, tubuh kecilnya berdiri di hadapan monster itu.
“Tidak ada yang boleh ambil adik saya!” teriaknya.
Tetangga-tetangga mulai keluar rumah, melihat keributan itu. Mereka berbisik-bisik, sebagian pura-pura prihatin, sebagian hanya menonton. Sayangnya, tak ada satu pun yang benar-benar maju membantu.
Batam, 02 Agustus 2025
RUMAH YANG SELALU BASAH 2
Lia mengusap wajahnya yang basah, entah karena air hujan yang menetes dari atap atau air mata yang tak tertahan. Lampu redup lima watt itu berkelip-kelip seakan hendak padam. Bayangan dinding lembap tampak seperti sosok-sosok asing yang mengintainya.
Anaknya yang sulung, dengan polos bertanya lirih, "Bu, besok kita masih bisa sekolah, 'kan?"
Lia terdiam. Lidahnya kelu. Bagaimana menjawab pertanyaan bocah itu, bahkan untuk membeli sebungkus nasi pun ia sudah tak sanggup?
Ibunya kembali batuk, kali ini lebih keras, bercampur darah yang menodai kain lusuh di tangan. Lia merasa tubuhnya melayang, kepalanya pusing, seakan dunia benar-benar menolak keberadaannya.
Di luar, hujan mereda. Namun, suara-suara lain menggantikan: suara lelaki mabuk yang tertawa di warung sebelah, suara motor tua yang meraung di jalan sempit, suara tikus berlarian di loteng. Semuanya bercampur menjadi orkestra muram yang menertawakan kesengsaraan.
Pintu berderit. Lia tersentak. Sosok suaminya muncul. Bajunya basah, wajahnya kusut, tetapi matanya kosong. Ia tidak membawa apapun selain bau asap rokok dan keringat.
"Kau dari mana saja?" suara Lia pecah.
Suaminya melempar pandang ke arah
anak-anak lalu ke wajah istrinya. "Jangan cerewet. Aku capek!"
"Capek?" Lia menahan tangis. "Capek bersenang-senang, sementara aku dan anak-anak ...."
Tamparan itu datang lebih cepat daripada kata-kata. Pipinya perih, bukan hanya karena tangan suaminya, tetapi karena hatinya yang semakin hancur.
Anak-anaknya menangis. Si bungsu meraung di gendongannya, si sulung berusaha memeluk adiknya, sementara si tengah menatap ayahnya dengan ketakutan.
Lia berdiri gemetar. Hatinya penuh luka, tetapi di balik luka itu, ada bara kecil yang mulai menyala. Bara yang selama ini ia kubur dalam-dalam. Keinginan untuk lepas, untuk berlari, untuk tak lagi jadi boneka dalam rumah yang selalu basah ini.
Di luar, langit masih muram. Dalam kepala Lia sebuah rencana mulai terjalin. Bukan tentang membayar hutang, bukan tentang menyelamatkan rumah reyot ini, melainkan cara untuk meninggalkan semuanya.
Malam itu, saat suaminya terlelap tanpa rasa bersalah, Lia duduk di lantai yang dingin. Anak-anaknya tidur meringkuk di kakinya. Tangannya menggenggam sebotol cairan pembersih lantai. Di dalam hati dia berbisik,
“Besok aku akan pergi. Dan aku tak akan pernah kembali.”
Pagi itu, hujan sudah reda. Lia terbaring di lantai semen dengan tubuh kaku dan mulut berbusa. Matanya setengah terbuka menatap langit-langit bocor yang pernah jadi saksi setiap tetes air matanya. Daster lusuh yang melekat di tubuhnya basah kuyup, entah karena air hujan yang menetes semalaman atau karena keringat dingin kematian.
Ibunya menangis serak, batuk bercampur isak. Anak-anak Lia meringkuk di dekat jasad ibunya, kebingungan. Si bungsu yang masih tiga tahun menepuk-nepuk wajah Lia, berharap ibunya bangun seperti biasa. Tapi tubuh itu tak lagi bergerak.
Kabar kematian Lia menyebar cepat. Tetangga-tetangga berdatangan. Mereka yang selama ini hanya melintas tanpa peduli, kini masuk ke rumah reyot itu dengan wajah pura-pura sedih.
"Kasihan sekali ya … padahal dia orang baik," bisik mereka. Ada yang sibuk menyalahkan suaminya, ada yang menyalahkan rentenir, ada yang menyalahkan kemiskinan. Sayangnya, tak satu pun dari mereka pernah memberi Lia segenggam beras atau selembar uang seribu saat dia masih hidup.
Suaminya datang paling akhir. Matanya merah, entah karena benar-benar menangis atau hanya mabuk semalam. Lelaki itu meratap di hadapan jasad istrinya, menepuk-nepuk lantai seakan ingin ikut ditelan bumi.
"Lia, maafkan aku … aku janji akan jadi ayah yang baik ….” Tangis itu pecah, tetapi semua orang tahu, janji itu tidak akan pernah ditepati.
Rentenir juga muncul dengan wajah pura-pura prihatin. Dia berdiri di depan rumah, melipat tangan di dada. "Sungguh tragis. Andai hutangnya cepat dilunasi, mungkin dia tidak akan seperti ini." Kata-katanya menusuk, seakan kematian Lia hanyalah angka di buku catatan piutangnya.
Orang-orang mulai sibuk. Ada yang membawa kain kafan, ada yang mengatur penggalian liang lahat, ada yang menyumbang sekedar untuk biaya pemakaman. Semua tampak berlomba menjadi pahlawan kesiangan, mereka ingin terlihat peduli, meski kepedulian itu datang terlalu terlambat.
Di sudut rumah, anak sulung Lia menatap semua itu dengan mata kosong. Ibunya mati bukan karena sakit atau lapar. Ibunya mati karena dunia terlalu sibuk untuk benar-benar melihat.
"Kasihan sekali … masih muda, sudah mati,” bisik seorang ibu sambil mengusap sudut matanya.
"Ya, suaminya itu yang tak becus," sahut yang lain. "Kalau saja dia lebih bertanggung jawab, Lia mungkin tidak seputus asa itu."
Suami Lia duduk di pojok ruangan, wajahnya tertunduk, tubuhnya berguncang menahan tangis. Sesekali ia menepuk-nepuk dahinya sendiri, seolah ingin menghukum diri. Namun di antara isakannya, ada yang mencibir pelan. “Menangis sekarang? Saat istrinya sudah mati? Dulu ke mana?”
Anak-anak Lia masih belum sepenuhnya mengerti. Si sulung, yang baru delapan tahun, berusaha kuat. Ia duduk di samping ibunya yang terbujur kaku, mencoba mengelus tangan dingin itu, sambil membisikkan doa-doa pendek yang ia hafal dari sekolah. Anak tengah, lima tahun, merengek tanpa henti, memanggil-manggil ibunya yang tak lagi menjawab. Sementara si bungsu masih mencoba membangunkan Lia dengan menepuk-nepuk wajahnya, bingung kenapa ibu tak lagi tersenyum.
Ibunya Lia—nenek anak-anak itu—menangis parau. Suaranya bercampur batuk, serak seperti seruling tua yang pecah nadanya. Ia merasa hancur, kehilangan anak, dan kini harus menggendong cucu-cucu yang tak tahu masa depan mereka.
Jenazah Lia dimandikan. Air mengalir di tubuh kurusnya yang penuh lebam samar, bekas tangan kasar suaminya, yang selama ini ia tutupi dengan diam. Perempuan-perempuan kampung berdesakan, sebagian berdoa, sebagian bergosip lirih.
"Dia sebenarnya sakit hati, ya?”
"Katanya suaminya s**a main perempuan.”
"Ah, biar bagaimanapun, Lia orang sabar."
Saat tubuh itu dikafani, suaminya meraung keras, terjatuh di lantai. Tangannya ingin menyentuh wajah Lia, tapi orang-orang menahannya. “Sudahlah, cukup! Biarkan dia pergi dengan tenang.” Ada yang menghibur, ada p**a yang menilai tangisnya hanyalah sandiwara terakhir.
Pemakaman berlangsung sederhana. Liang lahat digali di pemakaman umum dekat masjid kampung. Orang-orang berbondong-bondong ikut mengantar, bahkan mereka yang jarang peduli sebelumnya. Ada pejabat RT yang baru kali itu menampakkan diri, berpidato panjang lebar tentang pentingnya kepedulian sosial. Ada ustaz yang menasihati jamaah, bahwa kemiskinan bukan alasan untuk berputus asa. Semua berbicara, seolah kematian Lia adalah cermin yang memantulkan kebaikan mereka.
Padahal, saat Lia masih hidup, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar datang mengetuk pintu rumahnya membawa beras, atau sekadar menanyakan kabarnya.
Di tepi liang lahat, anak-anak Lia berdiri terpaku. Mereka menggenggam tangan neneknya erat-erat. Mata mereka kosong, menatap tanah yang menelan tubuh ibu mereka. Anak sulung berbisik lirih, “Bu, aku janji … aku akan jaga adik-adik. Aku nggak akan biarin mereka ambil kami.”
Tanah merah ditimbun. Doa dipanjatkan. Orang-orang menepuk bahu suami Lia, menepuk bahu ibunya, menepuk kepala anak-anaknya—lalu satu per satu pergi. Tinggal keluarga itu sendiri, dikelilingi tanah basah dan udara dingin.
Malam kembali turun. Rumah yang selalu basah itu terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Ember-ember plastik masih berjajar, menampung air dari atap bocor. Tikus-tikus masih berlarian, got masih bau, hujan masih menetes. Bedanya, Lia tidak ada lagi. Di luar rumah, dunia berjalan seperti biasa. Hanya satu nama yang mulai hilang pelan-pelan, Lia. Seolah-olah, perempuan yang hidupnya hancur dan matinya sunyi itu hanyalah catatan kecil yang lewat, bukan luka besar yang pernah benar-benar sembuh.
---
Hari-hari setelah Lia dikuburkan, rumah yang selalu basah itu menjadi saksi baru, bukan lagi suara batuk ibunya, atau isak tangis Lia, melainkan tangisan tiga anak kecil yang ditinggalkan tanpa arah.
Anak sulung, Delan, hanya delapan tahun, tetapi dipaksa menjadi orang dewasa. Ia bangun lebih pagi dari biasanya, menyalakan kompor minyak yang hampir habis, mencoba merebus air untuk adik-adiknya. Tangannya gemetar, hampir terbakar api kecil yang menyala tak stabil. Dia bertahan karena dia tahu, kalau dia tidak bergerak, tak ada lagi yang akan mengurus mereka.
Anak tengah, Mila, sering menangis dalam tidur. Rambutnya yang kusut dipenuhi kutu, matanya sembab. Ia sering bertanya, “Bang, ibu balik lagi nggak? Aku mimpi ibu senyum sama aku.” Delan hanya bisa memeluknya, meski hatinya hancur oleh pertanyaan yang tak bisa dia jawab.
Si bungsu, Rehan, masih tiga tahun. Ia paling sering menatap pintu rumah, menunggu ibunya muncul membawa nasi bungkus. Setiap kali pintu terbuka oleh angin, ia bersorak kecil, lalu kecewa lagi. “Ibu lama sekali,” ucapnya polos, membuat siapa pun yang mendengar ingin menangis.
Nenek mereka, ibu Lia, mencoba sekuat tenaga menjaga cucu-cucunya. Namun, tubuhnya rapuh, paru-parunya sakit. Setiap kali dia batuk, darah segar menodai kain penutup mulutnya. Dia tahu, umurnya tak akan lama. Dan ketakutan terbesarnya adalah siapa yang akan menjaga tiga cucu itu ketika dia juga dipanggil pergi?
Orang-orang kampung mulai sibuk menjadi hakim kehidupan. Ada yang bilang anak-anak itu sebaiknya diasuh panti asuhan. Ada yang menyarankan mereka diberikan ke saudara jauh. Ada p**a yang hanya bergunjing, “Kasihan, kalau tetap di rumah itu, bisa mati kelaparan.”
Suami Lia—ayah mereka—tidak berubah. Ia tetap p**ang larut, tetap mabuk, tetap kasar. Hanya saja kini, setiap kali lelaki itu masuk rumah, Delan berdiri di depan adik-adiknya, melindungi dengan tubuh kecilnya. "Jangan pukul adik-adik, Yah. Kalau mau marah, marah sama aku.” Mata bocah itu menyala dengan keberanian yang tak seharusnya ada di usia sekecil itu.
Suatu sore, rentenir itu datang lagi. Langkah beratnya menggema di lantai semen, suara napasnya terdengar seperti amukan.
"Mana bapakmu?” tanyanya dengan sorot mata tajam.
Delan maju, berdiri tegak meski tubuhnya gemetar. “Ayah nggak ada. Kami nggak punya uang!"
Rentenir itu terdiam sejenak. Ia melirik ke dalam rumah, melihat ember-ember bocor, anak-anak kurus, dan nenek tua yang batuk di pojok. Senyum miring muncul di wajahnya. "Kalau begitu, hutang itu harus dibayar dengan cara lain. Adik-adikmu bisa jadi jaminan.”
Mila menjerit. Rehan menangis keras-keras. Delan memeluk mereka erat, tubuh kecilnya berdiri di hadapan monster itu.
“Tidak ada yang boleh ambil adik saya!” teriaknya.
Tetangga-tetangga mulai keluar rumah, melihat keributan itu. Mereka berbisik-bisik, sebagian pura-pura prihatin, sebagian hanya menonton. Sayangnya, tak ada satu pun yang benar-benar maju membantu.
Batam, 02 Agustus 2025