Bandar Udara Internasional Syamsudin Noor

Bandar Udara Internasional Syamsudin Noor BDJ – Bandar Udara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru, Kalimantan Selatan

29/08/2025
Booking tiket pesawat murah tanpa calo.. Semua bisa kita cek dan booking sendiri dgn klik
13/01/2024

Booking tiket pesawat murah tanpa calo..
Semua bisa kita cek dan booking sendiri dgn klik

tiket pesawat, tiket kereta, tiket pelni, tiket hotel, promo, murah, cepat, hemat, terpercaya

Pangkalan udara Ulin Banjarmasin (Sekarang Syamsudin Noor) merupakan pangkalan udara pada awal perkembangannya telah iku...
07/02/2022

Pangkalan udara Ulin Banjarmasin (Sekarang Syamsudin Noor) merupakan pangkalan udara pada awal perkembangannya telah ikut mewarnai pelaksanaan perjuangan dalam rangka merebut dan mempertahankan kemerdekaan negara Republik Indonesia.

Pangkalan Udara Banjarmasin dibangun pada masa pemerintahan pendudukan Jepang pada tahun 1944 dan terletak disebelah selatan Jlan A. Yani Km 25 Landasan Ulin Banjarbaru. Tepatnya pada posisi 03 270 S 114 450 E, serta memiliki ukuran landasan panjang 2.220 meter dan lebar 45 meter.

Dalam masa pendudukan Jepang pada tahun 1944 telah dibangun kembali sebuah landasan pesawat udara sebagai pengganti landasan disebelah selatan jalan Jend A. Yani akibat rusak berat oleh pemboman tentara sekutu, kemudian pada tahun 1948 pembangunan landasan tersebut diteruskan kembali oleh pemerintahan pendudukan Belanda ( NICA ) membuat landasan udara dengan pengerasan batu setebal 10 cm.
Saat pengakuan kedaulatan RIS, pengelolaan lapangan terbang Ulin dilakukan oleh Pemerintah Daerah / Dinas Pekerjaan Umum, dan pada Pemerintahan RI tahun 1961, pengelolaan ini dilimpahkan kepada Kementrian Perhubungan Jawatan Penerbangan Sipil.
Dalam masa pembangunan mengisi kemerdekaan maka pada tahun 1974 landasan pacunya telah mampu didarati oleh pesawat udara jenis Fokker F-28, dan pada tahun 1977 diresmikan landasan pacu yang baru terletak sekitar 80 meter sebelah utara landasan pacu yang lama dengan kemampuan DC-9 terbatas.

Dengan perkembangan yang begitu pesat maka pada tahun 1975 telah ditetapkan bahwa pangkalan udara Syamsudin Noor sebagai lapangan terbang sipil yang dikuasai sepenuhnya oleh Departemen Perhubungan melalui keputusan bersama Menteri Pertahanan Keamanan / Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, Menteri Perhubungan RI dan Menteri Keuangan RI Nomor : Kep / 30 / IX / 1975, No KM / 598 / 5 / Phb-75 dan No Kep. 927.a / MK / IV / 8 / 1975.

source : tni-au.mil.id/sejarah-pangkalan-udara-ulin-banjarmasin/

"LETNAN UDARA SJAMSUDDIN NOOR"Letnan Udara Sjamsudin Noor, Perjuangannya dan Nama BandaraMuhammad Sjamsudin Noor nama le...
07/02/2022

"LETNAN UDARA SJAMSUDDIN NOOR"

Letnan Udara Sjamsudin Noor, Perjuangannya dan Nama Bandara
Muhammad Sjamsudin Noor nama lengkapnya
Dia dijuluki pelopor Airways Indonesia
Anak Desa yang Lahir di Alabio, Amuntai, Hulu Sungai Utara, Kalsel
Gugur di usia muda sebagai pejuang TNI Angkatan Udara

Tidak banyak anak muda yang memilih menjadi penerbang pesawat tempur sebagai profesi di jaman masih sekarat tahun 1940-an. Dari yang sedikit, nama Muhammad Sjamsudin Noor terpatri dengan indah. Lahir di Alabio, Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalsel tanggal 5 November 1924, Muhammad Sjamsudin Noor besar di lingkungan keluarga yang taat beragama.

Ayahnya H.Abdul Gaffar Noor dikenal sebagai salah satu ulama di Alabio pada tahuan 1900-an. Ibunya Hj. Putri Ratna Willis, juga aktif dikegiatan keagamaan. Ketokohan keduanya, mengantarkan mereka sebagai sosok yang aktif di pergerakan dan organisasi perjuangan. Tahun 1940-an di masa transisi terbentuknya Republik Indonesia Serikat (RIS), H. Abdul Gaffar Noor, dipercaya sebagai Kepala Federasi Kalimantan Tenggara.

“Ayah beliau (Sjamsudin Noor) tokoh ulama di Kalsel yang juga pernah menjabat Kepala Federasi Kalimantan,” jelas Letkol Pnb, M. Mukson, Danlanud Syamsudin Noor, Banjarmasin.

Jabatan publik yang di emban sang ayah, membuat Sjamsudin Noor menghabiskan waktu jauh dari kampung halamannya yang dikenal sebagai sentra perternakan itik terbesar. Di usia 8 tahun, jenjang pendidikan dimulai di HIS Batavia Jakarta. Setelah lulus tahun 1939, melanjutkan sekolah di MULO Bogor, Jawa Barat.

Usai mengenyam pendidikan di sekolah Belanda, sejak tahun 1942 hingga 1945, Sjamsudin Noor melanjutkan pendidikannya di AMS Jogjakarta. Kondisi Negara yang masih dalam tekanan penjajah, membuatnya terpanggil dengan masuk Akademi Militer di Jogjakarta. Setahun di Akademi Militer, dia memperdalam ilmunya dengan masuk Sekolah Kejuruan Penerbang.

Prestasi yang bagus, mengantarkan Sjamsudin Noor terpilih mengikuti program Pendidikan dan Latihan Penerbang di India dan Burma. Dari sinilah ilmu profesional sebagai penerbang pesawat tempur dan pesawat angkut dicapai. Tiga tahun menimba ilmu, Sjamsudin Noor langsung dipercaya menjadi pilot pesawat penerbangan Indonesia Airways.

Dedikasi dan loyalitasnya sebagai penerbang, membuat TNI Angkatan Udara memanggilnya untuk memperkuat barisan penerbang pesawat tempur. Tahun 1950, sepulang dari Burma, Sjamsudin Noor yang berpangkat Letnan Udara Satu, dipercaya menerbangkan pesawat tempur Dakota 446 milik TNI Angkatan Udara. Sejak itu, secara resmi Sjamsudin Noor dipercaya memiloti pesawat tempur untuk membela Negara.

Minggu, tanggal 26 November 1950, sekitar pukul 17.00 WITA. Sjamsudin Noor menjalankan tugas negara menerbangkan pesawat Dakota dari Lapangan Andir Bandung (sekarang Bandara Husin Sastranegara) menuju landasan pacu Tasikmalaya Jawa Barat. Di perjalanan, badai dan memburuknya cuaca menjadi kendala. Kondisi ini diperparah dengan rusaknya mesin pesawat, membuat Dakota kehilangan kendali. Pesawat pun jatuh setelah menabrak tebing Gunung Galunggung, sekitar 15 Kilometer dari Malang B**g, Kecamatan Ciawi, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Angkatan Udara Indonesia berduka. Sjamsudin Noor wafat di usia muda. Di usia yang baru 26 tahun anak banua ini, dianugerahi gelar Pelopor Indonesia Airways. Prosesi pemakamannya dilakukan secara militer di Taman Makam Pahlawan Cikutra Bandung, pada tanggal 26 November 1950. Diikuti tembakan salvo ke udara, TNI AU kehilangan salah satu penerbang muda terbaik bangsa.

Guna mengenang jasa perjuangannya, tanggal 13 Januari 1970 melalui peran DPRD Kalsel, Pemerintah Daerah dan Pimpinan Pangkalan Udara mengusulkan agar Lapangan Udara Ulin diganti menjadi Pangkalan Udara Sjamsudin Noor. “Atas peran dan jasa-jasanya terhadap negara, makanya bandara ini dinamakan Lanud Syamsudin Noor,” tegas Letkol Pnb M.Mukson, Danlanud Syamsudin N0or Banjarmasin.

Dipilihnya Sjamsudin Noor sebagai nama Pangkalan Udara (Lanud), juga melalui proses panjang. Setidaknya ada 3 pilihan nama pahlawan baik sipil maupun militer yang diusulkan kala itu. Masing-masing Komodor Udara Supadio, Pangeran Antasari dan Sjamsudin Noor sendiri. Melalui SK DPRD Kalsel, diputuskan nama Sjamsudin Noor menggantikan Lanud Ulin pemberian nama dari Belanda dan Jepang.

02/02/2022
30/01/2022

Address

Landasan Ulin
Banjarbaru
70721

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Bandar Udara Internasional Syamsudin Noor posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category