14/09/2026
“Jaga hatimu agar tidak iri dengan nikmat orang lain.”
Terdengar bijak.
Tapi benarkah sesederhana itu?
Bayangkan seseorang yang bertahun-tahun menanti kehadiran seorang anak (mandul).
Lalu di hadapannya, seseorang berkali-kali mempertontonkan kebahagiaan bersama bayinya.
Foto. Video. Cerita. Berulang-ulang.
Kemudian ketika orang itu merasa sesak, kita berkata:
“Jangan iri. Jaga hatimu.”
Pertanyaannya...
Siapa yang harus lebih bijak?
Orang yang sedang menanti kehadiran anak namun Allah takdirkan mandul, atau orang yang sedang diberi nikmat keturunan?
Jadi, menjaga hati dari hasad memang kewajiban.
Tetapi jangan berhenti di situ.
Karena orang yang mendapat nikmat juga perlu belajar menjadi bijak.
Syukur tidak berarti semua nikmat harus dipertontonkan.
Dan sesuatu yang halal bukan berarti harus selalu dipamerkan.
Ada nikmat yang cukup disyukuri tanpa harus diumbar.
Maka jangan hanya berkata:
“Jaga hatimu dari nikmatku.”
Belajarlah juga berkata:
“Aku juga harus menjadi bijak ketika menampakkan nikmatku.”
Jangan hanya bertanya:
“Kenapa dia iri dengan nikmatku?”
Sesekali tanyakan kepada diri sendiri:
“Kenapa aku begitu tidak peka mempertontonkan nikmat di hadapannya?”
Menjaga hati adalah kewajiban.
Menjaga adab adalah akhlak.
Semoga Allah menjadikan kita orang yang ketika diberi nikmat, bukan hanya pandai bersyukur, tetapi juga semakin rendah hati dan semakin peka terhadap keadaan orang lain.