21/09/2022
Allah menjadikan Kota Makkah negeri haram yang aman, di Mekah dilarang menumpahkan darah, memotong pepohonan dan tumbuhan, memburu hewan buruan, dan mengambil barang temuan kecuali untuk diumumkan
Rasulullah shallallahu álaihi wasallam bersabada:
إِنَّ مَكَّةَ حَرَّمَهَا اللَّهُ وَلَمْ يُحَرِّمْهَا النَّاسُ، فَلاَ يَحِلُّ لاِمْرِئٍ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ أَنْ يَسْفِكَ بِهَا دَمًا، وَلاَ يَعْضِدَ بِهَا شَجَرَةً، فَإِنْ أَحَدٌ تَرَخَّصَ بِقِتَالِ رَسُولِ اللهِ rفِيهَا، فَقُولُوا لَهُ: إِنَّ اللَّهَ أَذِنَ لِرَسُولِهِ، وَلَمْ يَأْذَنْ لَكُمْ، وَإِنَّمَا أَذِنَ لِي فِيهَا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ، وَقَدْ عَادَتْ حُرْمَتُهَا الْيَوْمَ كَحُرْمَتِهَا بِالأَمْسِ، وَلْيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ.
“Sesungguhnya Kota Makkah Allah lah yang menjadikannya haram (tanah suci) dan bukan manusia. Maka tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir menumpahkan darah di Mekah dan memotong pohon-pohonnya. Jika seseorang berargumentasi (untuk menumpahkan darah di Mekah) dengan sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berperang di Mekah (tatkala Fathu Makkah), maka katakanlah, “Sesungguhnya Allah telah mengizinkan untuk Rasul-Nya, tapi tidak mengizinkannya untuk kalian”. Sesungguhnya telah diizinkan kepadaku di suatu waktu dari siang hari, dan keharamnya telah kembali pada hari ini sebagaimana haramnya kemarin, maka hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.