Wuzz Ojek Jember

Wuzz Ojek Jember Layanan antar yang amanah, transparan, dan bisa memilih driver muslimah.

14/06/2026
mau posting di grup tapi terhalang birokrasi entah apa. kasihan, mau kasih saran malah tertunda.
12/06/2026

mau posting di grup tapi terhalang birokrasi entah apa. kasihan, mau kasih saran malah tertunda.

Aroma aspal tersengat matahari ketika Raka memarkir motornya di basecamp Wuzz. Debu jalanan menebal di helm birunya yang...
11/05/2026

Aroma aspal tersengat matahari ketika Raka memarkir motornya di basecamp Wuzz. Debu jalanan menebal di helm birunya yang mulai kusam.

Admin menghampirinya.
“Ka, Ayah manggil.”

Raka heran. Tumben bos memanggilnya.

Raka masuk ke ruangan sederhana di belakang. Tidak mewah. Hanya meja kayu, termos kopi, kipas tua, dan tumpukan map laporan driver.

Ayah tersenyum begitu melihatnya.
“Duduk dulu, Ka.”

Raka duduk pelan. “Ada apa, Pak?”
Ayah membuka laci, lalu mengeluarkan amplop putih.

“Mulai besok motormu masuk bengkel. Servis mesin. Gratis.”
Raka mengernyit bingung. “Gratis?”

Ayah mengangguk. “Kamu Driver Inspiratif bulan ini.”
Raka tercekat. “Saya?”

“Kami dengar cerita tentang penumpang perempuan itu.”
Raka langsung tersenyum malu. “Itu kan cuma kebetulan.”

“Tidak.” Ayah menggeleng pelan. “Banyak driver bisa antar penumpang sampai tujuan. Tapi tidak semua orang kepikiran mau masuk ke masalah orang lain.”

Raka meraba amplop itu. Ia tahu isi dompet perusahaan mereka sebenarnya tidak besar. Setoran driver bahkan jauh lebih kecil dibanding aplikasi lain.

Raka akhirnya memberanikan diri bertanya.
“Pak... boleh tanya?”
“Apa?”

“Setoran kami kecil. Kadang saya malah mikir Wuzz ini terlalu baik sama driver. Kenapa Bos masih mau keluar biaya sebanyak ini?”

Ayah tersenyum kecil. Matanya lelah, tapi hangat.

“Ka... jangan pernah meremehkan yang kecil.”

Ia menunjuk ke luar jendela, ke arah belasan motor driver yang terparkir.

“Satu driver setor sedikit. Dua driver sedikit. Tapi kalau semuanya dikumpulkan, hasilnya bisa jadi besar sekali.”

Raka mengangguk. Mengira ini adalah bagi-bagi keuntungan.

“Masalah negeri ini kadang karena semua orang ingin mengambil sebanyak-banyaknya. Yang kuat menekan yang lemah. Yang punya modal ingin makin besar, sementara orang kecil makin sesak napas.”

Ia menoleh ke Raka. “Saya nggak mau Wuzz jadi seperti itu.” Suaranya seperti menancap. “Wuzz harus jadi tempat kerja yang tetap bikin orang merasa manusia.”

Ayah bangun dari duduk, sambil menghirup nafas lega. “Kalau driver pulang dengan hati tenang, penumpang juga akan merasa aman. Rezeki itu muter, Ka.”

Raka kini menemukan alasan, kenapa semua memanggilnya, Ayah.

ORDER TERAKHIRRaka bersiap di atas motornya dari warung kopi kecil. Langit sore hampir tenggelam. Ponselnya berbunyi—ord...
11/05/2026

ORDER TERAKHIR

Raka bersiap di atas motornya dari warung kopi kecil. Langit sore hampir tenggelam.

Ponselnya berbunyi—order Wuzz masuk.

Penjemputan di depan minimarket, tujuan hotel di pusat kota.

Sesampainya di sana berdiri seorang perempuan muda memakai hoodie dan masker putih. Gerak-geriknya tampak gelisah.

“Raka ya, Pak?”
“Iya, Mbak. Silakan.”

Perjalanan dimulai dalam diam.

Di tengah jalan, ponsel gadis itu berdering. Karena gugup, suaranya terlampau keras.

“Iya...! aku OTW... kamar udah dibooking?”

Telepon itu ditutup cepat-cepat. Dari kaca spion, Raka melihat wajah pucat yang sama sekali tidak tampak seperti gadis yang hendak bersenang-senang. Lebih seperti seseorang yang sedang terdesak keadaan.

Sesaat kemudian perempuan itu bertanya pelan, “Pak... pernah merasa mentok nggak?”

“Mbak capek ya?” tanya Raka simpatik.

Gadis itu serak, “Ibu sakit. Adik belum bayar sekolah. Cari kerja ke mana-mana susah.”

Raka diam. Ia merasakan juga.

Lampu merah membuat motor berhenti. Di tepi jalan ada toko roti yang masih terang di tengah hujan.

Mata Raka menangkap papan bertuliskan: “Lowongan Kerja.”

Begitu lampu hijau, Raka membelokkan motor.

“Pak... ini bukan ke hotel!” perempuan itu panik.

“Sebentar, Mbak. Motor saya bunyi aneh.”

Raka berhenti di depan toko roti. Ia pura-pura memeriksa motor, lalu masuk ke dalam toko. Beberapa menit kemudian ia keluar bersama seorang ibu pemilik toko.

“Ini anaknya?” tanya ibu itu.

Gadis itu bingung. Raka memberi isyarat kecil.

“Tadi Ibu ini memang lagi cari pegawai. Katanya Mbak lagi cari kerja.”

Perempuan itu perlahan mengerti. Matanya berkaca-kaca.

“Gajinya memang nggak besar,” kata si ibu lembut, “tapi kalau mau, bisa mulai malam ini.”

Tiba-tiba ponselnya berdering lagi. Nama di layar: “Om Damar.” Tangannya gemetar.

Raka harus menguatkannya. “Mbak... ini saatnya balik arah.”

Air mata perempuan itu akhirnya pecah. Ia mematikan panggilan tersebut dan menangis sesenggukan. Raka yang panik langsung mengarahkannya ke pelukan si ibu pemilik toko.

Malam itu, perempuan itu tidak jadi pergi ke hotel.

Itu adalah order terakhirnya.

wa.me/628987873000Save dulu nomernya Kak. Khusus wilayah Jember kota.
11/05/2026

wa.me/628987873000

Save dulu nomernya Kak. Khusus wilayah Jember kota.

OJEK ADALAH JALAN BERTAHANKU Langit menggantung kelabu, hujan tercium aromanya. Raka menatapnya sebentar sebelum kemudia...
03/05/2026

OJEK ADALAH JALAN BERTAHANKU

Langit menggantung kelabu, hujan tercium aromanya. Raka menatapnya sebentar sebelum kemudian memasang helm biru mudanya.

Perutnya belum terisi. Dompetnya tipis.

“Jalan dulu aja…” bisiknya dalam hati.

Ponselnya berbunyi.

Order Wuzz masuk.

“Jemput anak sekolah di Jalan Mawar, antar ke SD Pelita.”
Raka menarik senyum, lalu memutar gas motornya.

***

Di depan rumah sederhana, seorang ibu berdiri bersama anaknya.

“Mas driver ya?” suaranya terdengar sedikit cemas.

“Iya, Bu. Untuk ke SD Pelita, ya?”

“Iya… ini anak saya, Dito.”

Ia membungkuk sedikit, berbisik ke anaknya, “Hati-hati ya, Nak.”
Dito naik ke motor dengan berpegangan jaket biru Raka.

Di tengah perjalanan, suara kecil itu terdengar.
“Mas…”

“Iya?”

“Mas capek ya?”

Raka terdiam sejenak. Tidak menyangka anak sekecil itu menusuk langsung di pikirannya.

“Iya sih,” jawabnya jujur.

“Ayah juga dulu gitu… sebelum sakit. Sekarang ayah sudah meninggal.”

Raka menelan ludah.
Ia tak tahu harus menjawab apa.
Ternyata masalahnya belum seberat anak SD ini.

***

Sesampainya di sekolah, Dito turun dan menyempatkan satu kata.
“Terima kasih ya.”

Raka tersenyum mengangguk. “Belajar yang rajin!”

Dito berlari kecil masuk ke gerbang. Raka memperhatikan sebentar, lalu mengalihkan pandangannya. Dadanya terasa sesak tanpa alasan yang jelas.

***

Ponselnya kembali berbunyi.

“beli obat di apotek, lalu antar ke rumah pelanggan.”
Raka langsung menuju lokasi.

Setelah membeli obat, ia tiba di rumah tujuan.

Seorang bapak tua berdiri, tubuhnya sedikit gemetar saat menerima kantong obat.

“Terima kasih… saya dari tadi nahan sakit… nggak kuat jalan.”

Raka tersentuh. “Semoga cepat sembuh, Pak.”

Bapak itu seperti menatap anaknya.

“Kadang kita ini cuma butuh ditolong sedikit, ya, Nak… tapi rasanya seperti diselamatkan.”

Raka terpaku.

Kalimat itu sederhana, tapi menghantam lebih dalam dari yang ia kira.

***

Langit kini berubah gelap, akhirnya hujan pun jatuh.

Raka berhenti di pinggir jalan, tapi tidak berteduh.
Di tengah suara hujan, ia menunduk.
Raka mengusap wajahnya—entah air hujan, entah air mata.
Ia menarik napas dalam.
Lalu menyalakan kembali motornya.

“Masih ada yang butuh diantar.”

Address

Jember

Opening Hours

Monday 05:00 - 21:00
Tuesday 05:00 - 21:00
Wednesday 05:00 - 21:00
Thursday 05:00 - 21:00
Friday 05:00 - 21:00
Saturday 05:00 - 21:00
Sunday 05:00 - 21:00

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Wuzz Ojek Jember posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share