03/05/2026
OJEK ADALAH JALAN BERTAHANKU
Langit menggantung kelabu, hujan tercium aromanya. Raka menatapnya sebentar sebelum kemudian memasang helm biru mudanya.
Perutnya belum terisi. Dompetnya tipis.
“Jalan dulu aja…” bisiknya dalam hati.
Ponselnya berbunyi.
Order Wuzz masuk.
“Jemput anak sekolah di Jalan Mawar, antar ke SD Pelita.”
Raka menarik senyum, lalu memutar gas motornya.
***
Di depan rumah sederhana, seorang ibu berdiri bersama anaknya.
“Mas driver ya?” suaranya terdengar sedikit cemas.
“Iya, Bu. Untuk ke SD Pelita, ya?”
“Iya… ini anak saya, Dito.”
Ia membungkuk sedikit, berbisik ke anaknya, “Hati-hati ya, Nak.”
Dito naik ke motor dengan berpegangan jaket biru Raka.
Di tengah perjalanan, suara kecil itu terdengar.
“Mas…”
“Iya?”
“Mas capek ya?”
Raka terdiam sejenak. Tidak menyangka anak sekecil itu menusuk langsung di pikirannya.
“Iya sih,” jawabnya jujur.
“Ayah juga dulu gitu… sebelum sakit. Sekarang ayah sudah meninggal.”
Raka menelan ludah.
Ia tak tahu harus menjawab apa.
Ternyata masalahnya belum seberat anak SD ini.
***
Sesampainya di sekolah, Dito turun dan menyempatkan satu kata.
“Terima kasih ya.”
Raka tersenyum mengangguk. “Belajar yang rajin!”
Dito berlari kecil masuk ke gerbang. Raka memperhatikan sebentar, lalu mengalihkan pandangannya. Dadanya terasa sesak tanpa alasan yang jelas.
***
Ponselnya kembali berbunyi.
“beli obat di apotek, lalu antar ke rumah pelanggan.”
Raka langsung menuju lokasi.
Setelah membeli obat, ia tiba di rumah tujuan.
Seorang bapak tua berdiri, tubuhnya sedikit gemetar saat menerima kantong obat.
“Terima kasih… saya dari tadi nahan sakit… nggak kuat jalan.”
Raka tersentuh. “Semoga cepat sembuh, Pak.”
Bapak itu seperti menatap anaknya.
“Kadang kita ini cuma butuh ditolong sedikit, ya, Nak… tapi rasanya seperti diselamatkan.”
Raka terpaku.
Kalimat itu sederhana, tapi menghantam lebih dalam dari yang ia kira.
***
Langit kini berubah gelap, akhirnya hujan pun jatuh.
Raka berhenti di pinggir jalan, tapi tidak berteduh.
Di tengah suara hujan, ia menunduk.
Raka mengusap wajahnya—entah air hujan, entah air mata.
Ia menarik napas dalam.
Lalu menyalakan kembali motornya.
“Masih ada yang butuh diantar.”