MITRA 3 NYALA

MITRA 3 NYALA Bengkel serba guna/stell-SS-Al, tank specialis, incenator, dryer, agitator, fabrication silo batchin

04/05/2026
_*MODUS OPERANDI : NEGARA MENGGRATISKAN BENSIN ELIT, RAKYAT DISURUH MALU*_​Menteri Bahlil Lahadalia baru saja mengeluark...
27/04/2026

_*MODUS OPERANDI : NEGARA MENGGRATISKAN BENSIN ELIT, RAKYAT DISURUH MALU*_

​Menteri Bahlil Lahadalia baru saja mengeluarkan pernyataan yang menyerang mentalitas rakyat : "Malu-lah menggunakan subsidi." Sebuah kalimat yang terdengar heroik, jika saja tidak datang dari seorang pejabat yang seluruh pergerakan rodanya dari rumah ke kantor hingga ke lobi hotel mewah dibayar lunas oleh pajak rakyat.

​Mari kita bedah anatomi kemunafikan ini dengan fakta yang menusuk jantung birokrasi.

​Anatomi "Subsidi Mewah" Sang Pejabat

​Di balik retorika penghematan anggaran, sistem birokrasi kita telah mengunci hak istimewa bagi para elit melalui DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran). Pejabat tidak perlu mengantre di SPBU dengan dompet tipis; mereka dibekali VVIP Fuel Card.

​Setiap liter Pertamax Turbo atau Dex yang mereka bakar adalah beban APBN yang membengkak. Ironisnya, kenaikan harga BBM dunia tidak pernah membuat para pejabat ini mengubah gaya hidup, karena pagu anggaran mereka akan otomatis menyesuaikan. Sementara itu, rakyat di kasta bawah harus memutar otak mencari jalan tikus demi menghemat satu tetes Pertalite.

​Perbandingan Kasta: Istana vs Jalanan

​Untuk memahami betapa tidak adilnya narasi "Malu" ini, kita harus melihat angka riil yang selama ini disembunyikan di balik istilah operasional:

​Jatah "Raja" di Atas Aspal: Seorang pejabat selevel Dirjen atau Kepala Badan memiliki jatah BBM operasional hingga 500 Liter per bulan. Dengan asumsi harga Pertamax Turbo di angka Rp16.000, negara memberikan "subsidi terselubung" sebesar Rp8.000.000 per bulan hanya untuk satu orang pejabat. Ini belum termasuk bensin untuk mobil pengawal (patwal) yang juga ditanggung negara.

​Nasib Kasta Jalanan: Bandingkan dengan kurir logistik atau pengemudi ojek online. Mereka menghabiskan 5 hingga 8 liter sehari untuk mencari nafkah. Bedanya, mereka membayar 100% dari kantong sendiri. Setiap kenaikan harga BBM adalah ancaman langsung terhadap jatah makan anak-anak mereka di rumah.

​Skandal Sewa Mewah: Kita tidak bisa melupakan anggaran sewa mobil Badan Gizi Nasional yang menembus Rp6,9 Miliar. Ini adalah level tertinggi dari ketidakmaluan: Negara menyewa mobilnya, negara membelikan bensinnya, dan rakyat menurut Bahlil harus menanggung "malunya".

​Diagnosa: Republik Salah Subsidi

​Sistem ini telah menciptakan kasta ekonomi yang sangat tajam. Pemerintah tidak sedang menertibkan subsidi agar "tepat sasaran". Mereka sedang mengamankan likuiditas untuk memastikan gaya hidup "gratisan" para birokrat tidak terganggu.

​Siapa yang seharusnya malu? Apakah rakyat yang menggunakan hak subsidinya untuk sekadar bisa bekerja? Ataukah pejabat yang bensinnya, sopirnya, bahkan hingga anggaran semir sepatunya dibayari oleh pajak si miskin?

​Pak Bahlil, kami tidak butuh diajari moral oleh orang-orang yang kaos kakinya saja masih masuk dalam komponen anggaran negara. Berhenti menggunakan kata "Malu" sebagai tameng untuk menutupi fasilitas mewah kalian.

Seekor lumba-lumba totol (Stenella attenuata) terekam dalam sebuah foto saat sedang melakukan lompatan setinggi 4,5 mete...
14/04/2026

Seekor lumba-lumba totol (Stenella attenuata) terekam dalam sebuah foto saat sedang melakukan lompatan setinggi 4,5 meter di atas permukaan laut. Spesies ini dikenal memiliki kemampuan atletis yang sangat baik, sehingga sering mendapatkan julukan 'Air Dolphin' karena frekuensi dan ketinggian lompatannya. Jika dibandingkan dengan skala tubuh manusia, kekuatan lompatan tersebut setara dengan seseorang yang mampu melompati ring basket hanya dengan satu kali tolakan tenaga.

Secara fisik, lumba-lumba ini memiliki dimensi tubuh yang relatif ramping dengan panjang rata-rata sekitar 2 meter dan berat badan kurang lebih 113 kilogram. Kemampuan untuk mencapai ketinggian lompatan yang signifikan tersebut bersumber dari kekuatan otot pada bagian ekor atau flukes yang berfungsi sebagai pendorong utama di dalam air. Struktur tubuh yang hidrodinamis memungkinkan hewan ini meminimalisir hambatan air sehingga dapat melesat keluar dari permukaan dengan kecepatan tinggi.

Fenomena ini menunjukkan efisiensi biologis yang dimiliki oleh penghuni samudera dalam memanfaatkan kekuatan otot untuk mobilitas yang ekstrem. Lompatan tinggi ini bukan sekadar unjuk kekuatan, melainkan bagian dari perilaku alami spesies tersebut dalam berkomunikasi, menghindari predator, atau membuang parasit yang menempel pada kulit. Data teknis mengenai proporsi tubuh dan daya dorong ekornya memperkuat posisi lumba-lumba totol sebagai salah satu mamalia laut dengan kemampuan fisik paling fungsional di habitatnya.

13/04/2026

Hiburan choi

02/04/2026

Patok ayam..

“Saya pergi ke luar angkasa dan menemukan sebuah kebohongan besar.”Mantan astronot Ron Garan mengungkap “kebohongan besa...
23/03/2026

“Saya pergi ke luar angkasa dan menemukan sebuah kebohongan besar.”

Mantan astronot Ron Garan mengungkap “kebohongan besar” tentang perpecahan global setelah menyaksikan kerapuhan biosfer Bumi dari International Space Station.

Ron Garan menghabiskan hampir enam bulan mengorbit Bumi, sebuah perjalanan yang secara permanen mengubah cara pandangnya terhadap dunia kita. Dari Stasiun Luar Angkasa Internasional, ia mengalami Overview Effect, yaitu perubahan cara berpikir yang mendalam di mana batas-batas politik dan perbedaan sosial seakan menghilang. Saat melihat planet dari ketinggian sekitar 250 mil, Garan terkejut melihat betapa tipisnya atmosfer Bumi—lapisan gas yang rapuh namun menjadi satu-satunya pelindung dari kehampaan mematikan di luar angkasa. Dari sudut pandang ini, konsep negara-negara terpisah tergantikan oleh kenyataan bahwa Bumi adalah satu kesatuan yang rapuh, melayang di tengah kegelapan kosmos.

Perspektif ini membuat Garan menyimpulkan bahwa banyak tantangan terbesar manusia, mulai dari perubahan iklim hingga hilangnya keanekaragaman hayati, sebenarnya merupakan gejala dari sebuah “kebohongan” yang kita yakini: bahwa kita terpisah dari lingkungan. Alih-alih melihat ekonomi yang bersaing atau konflik politik, ia melihat satu biosfer yang saling terhubung dan menopang hampir seluruh kehidupan. Ia berpendapat bahwa kelangsungan hidup manusia bergantung pada perubahan cara berpikir secara kolektif, yaitu memandang planet ini bukan sebagai sumber daya untuk dibagi-bagi, melainkan sebagai sistem penopang kehidupan yang langka dan terbatas, yang membutuhkan perlindungan global secara mendesak.

📚 Sumber: Big Think (2024). I went to space and discovered an enormous lie: Astronaut Ron Garan on the Overview Effect. Big Think Media.@

26/02/2026

Studi internal yang dilakukan Center of Economic and Law Studies (CELIOS) mengungkap potensi kerugian negara akibat makanan terbuang dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) bisa mencapai Rp 1,27 triliun setiap pekan. Temuan ini memunculkan dorongan agar pemerintah melakukan moratorium sementara program tersebut guna melakukan reformasi tata kelola secara menyeluruh.

Peneliti CELIOS, Isnawati Hidayah, menyampaikan bahwa persoalan MBG terus memunculkan keresahan, terutama dari kalangan orang tua siswa.

“Kalau kita membicarakan MBG memang tidak ada habisnya. Banyak sekali keresahan terutama dari para orang tua. Makanannya itu banyak yang dibuang dan belum ada yang bisa meng-capture sebenarnya loss-nya itu seberapa,” ujar Peneliti CELIOS Isnawati Hidayah dalam konferensi pers, Senin (23/2).

Perhitungan Dua Skenario Kerugian

CELIOS melakukan kalkulasi dengan dua pendekatan skenario, yakni minimal dan maksimal, untuk memperkirakan potensi uang negara yang terbuang akibat makanan yang ditolak atau tidak dikonsumsi anak-anak.

Isnawati menjelaskan, penolakan makanan dipengaruhi beberapa faktor, antara lain:

Rasa makanan yang tidak sesuai selera anak-anak

Kebersihan yang dinilai kurang higienis

Kualitas gizi yang dianggap belum memadai

Dalam skenario minimal, diperkirakan sebanyak 62 juta porsi makanan terbuang setiap minggu. Estimasi kerugian negara dalam kondisi ini mencapai Rp 622 miliar per minggu.

Sementara dalam skenario maksimal, potensi kerugian bisa melonjak hingga Rp 1,27 triliun per minggu apabila tingkat penolakan makanan lebih tinggi.

“Kalau kita menggunakan asumsi penolakan maksimal, itu bisa mencapai Rp 1,27 triliun setiap minggunya,” kata Isnawati.

Dibandingkan dengan Anggaran APBN dan Iuran BPJS

Pada kuartal pertama tahun ini, pemerintah berencana membelanjakan APBN sebesar Rp 62 triliun untuk program MBG. Adapun pada tahun lalu, realisasi belanja sepanjang tahun tercatat mencapai Rp 51,5 triliun.

Menurut perhitungan CELIOS, dalam skenario minimal, dana yang terbuang setiap bulan setara dengan pembayaran iuran BPJS Kesehatan bagi sekitar 15,5 juta jiwa selama satu bulan penuh.

Sedangkan dalam skenario maksimal, nilai tersebut setara dengan pembayaran iuran BPJS Kesehatan bagi sekitar 31,6 juta jiwa selama satu bulan.

“Jadi sebenarnya uang yang terbuang sebanyak itu dalam perminggunya, kalau kita asumsikan satu bulan saja, bisa untuk membayar BPJS masyarakat secara gratis,” ujarnya.

Rekomendasi Moratorium dan Reformasi Total

Atas temuan tersebut, CELIOS merekomendasikan moratorium sementara program MBG. Langkah ini dinilai penting untuk membuka ruang evaluasi menyeluruh terhadap sistem distribusi, pengawasan, serta tata kelola program.

Selain moratorium, CELIOS juga mendorong:

Reformasi total dalam tata kelola dan distribusi MBG

Audit transparan terhadap penggunaan anggaran

Evaluasi menyeluruh guna mencegah pemborosan anggaran yang lebih besar

“Rekomendasi kami konsisten, yaitu moratorium, reformasi total MBG, dan audit transparan evaluasi, sehingga mencegah pemborosan uang rakyat yang lebih besar,” kata Isnawati.

Temuan ini kembali memantik perdebatan publik mengenai efektivitas program bantuan pangan skala nasional serta urgensi pengawasan ketat terhadap penggunaan anggaran negara.

Presiden RI Prabowo Subianto mempromosikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di forum Business Summit Amerika Serikat–A...
23/02/2026

Presiden RI Prabowo Subianto mempromosikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di forum Business Summit Amerika Serikat–ASEAN di US Chamber of Commerce, Washington D.C., Kamis (19/2/2026), dengan menyatakan investasi dalam program tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi hingga 35 kali lipat. Ia menyampaikan hal itu di hadapan pelaku bisnis sebagai bagian dari komitmen pemerintah mengatasi kelaparan dan malnutrisi anak.

Prabowo menjelaskan program MBG terinspirasi dari praktik di Amerika Serikat dan Eropa yang telah lama menyediakan makan gratis bagi pelajar. Ia menyebut pendanaan program berasal dari penghematan anggaran negara hasil pemangkasan inefisiensi, serta menilai program tersebut sebagai investasi strategis untuk mengatasi stunting yang masih dialami sekitar 25 persen anak Indonesia.

“Karena untuk setiap satu dolar yang dihabiskan untuk makan gratis bagi anak-anak, imbal hasilnya [return] menurut penelitian mereka setidaknya tujuh dolar, bahkan dalam jangka panjang bisa memberikan imbal hasil hingga 35 kali lipat,” kata Prabowo.

Prabowo juga menyebut program tersebut mulai menunjukkan dampak ekonomi, termasuk meningkatnya konsumsi domestik dan pembangunan sekitar 23.000 dapur program yang masing-masing mempekerjakan sekitar 50 orang di desa. Selain itu, program ini meningkatkan permintaan bahan pangan lokal dan dinilai berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja serta penguatan stabilitas sosial dan ekonomi.

Mimin s**a optimisme pejabat. Optimisme itu penting. Namun dalam praktik ekonomi, optimisme adalah bahan bakar, bukan me...
22/02/2026

Mimin s**a optimisme pejabat. Optimisme itu penting. Namun dalam praktik ekonomi, optimisme adalah bahan bakar, bukan mesin. Mesin tetap bernama sistem. Kalau mesinnya kacau, tetep gak akan bisa sampai tujuan, meskipun bahan bakarnya full tank.

Gagasan bahwa Koperasi Desa Merah Putih bisa menggantikan Alfamart dan Indomaret terdengar heroik sekali saudara-saudara. Namun pertanyaannya, sejak kapan koperasi mampu menandingi efisiensi jaringan ritel modern yang dibangun lewat disiplin operasi puluhan tahun?

Jika jawabannya karena dukungan APBN, sejarah badan usaha yang mendapat modal besar dan proteksi regulasi menunjukkan bahwa dana murah tidak otomatis melahirkan manajemen unggul. Kita tentu kerap disajikan laporan BUMN monopoli negara kita, laporannya rugi melulu. Monopoli aja rugi coy.

Minimarket bukanlah warung biasa. Di balik satu rak mi instan ada manajemen perputaran stok (inventory turnover), pengendalian shrinkage, pengaturan cash conversion cycle, hingga negosiasi rebate berbasis volume. Ritel modern hidup dari menjual tunai dan membayar pemasok dengan tempo, sebuah orkestrasi arus kas yang presisi. Tanpa sistem, skala, dan kontrol internal yang kuat, akumulasi dana justru membuka ruang moral hazard.

Permintaan pun bukan perkara firasat. Ia diprediksi dengan data historis, pola musiman, hingga algoritma distribusi. Tanpa itu, barang menumpuk di satu daerah dan kosong di daerah lain. Banyak jaringan ritel lahir dengan semangat kolektif yang membara, lalu tumbang bukan karena niatnya keliru, tetapi karena sistemnya rapuh dan arus kasnya tak disiplin.

Yang jarang dibahas adalah ekosistem di belakang layar seperti pusat distribusi regional, integrasi ERP, replenishment otomatis, risk pooling antar-gerai, hingga loyalti pelanggan. Ini bukan hasil satu kebijakan, melainkan pembelajaran kewirausahaan yang tunduk pada satu hukum: efisiensi atau tersingkir.

Dalam ritel, skala menentukan harga beli. Harga beli menentukan margin. Margin menentukan daya tahan. Jaringan besar membeli langsung dari principal, memperoleh rebate volume, mengatur promosi nasional, bahkan secara praktis menjadi agregator permintaan. Itu bukan retorika, itu mekanika bisnis.

Maka pertanyaan rasionalnya bukan perlu atau tidak koperasi, melainkan, apakah desainnya membangun disiplin wirausaha dan tata kelola modern? Atau sekadar mengganti papan nama dengan subsidi? Atau hanya sekedar proyek.

Jika pemerintah ingin memperkuat ekonomi akar rumput, pendekatan ekosistem mungkin lebih menjanjikan, misalnya mendukung jaringan toko tradisional yang sudah teruji bertahan puluhan tahun, lalu menyuntikkan infrastruktur B2B: gudang regional, sistem resi gudang, integrasi inventori berbasis IT, dan pembiayaan supply chain. Biarkan kompetisi berjalan natural. Yang disiplin tumbuh. Yang abai belajar atau tersingkir.

Semangat membangun koperasi itu baik. Namun pasar tidak tunduk pada semangat. Ia tunduk pada efisiensi. Dan efisiensi tidak lahir dari pidato, melainkan dari sistem.

________
Now I Know
📷kompas

Di ujung timur indonesia , tanah kering NTT terpanggang matahari. Seorang anak kecil melangkah menuju sekolah seragamnya...
17/02/2026

Di ujung timur indonesia , tanah kering NTT terpanggang matahari. Seorang anak kecil melangkah menuju sekolah seragamnya simpel🥹
Tasnya lusuh , dan sepatunya robek par4h🫢 ujungnya terbuka , solnya hanpir lepas🙈

Namun setiap langkahnya penuh harapan: untuk masa depan yang baik, untuk membanggakan orang tua untuk mengubah nasib,, meski kaki sak!t dan mungkin diperhatikan teman , ia Tetap tegak.
Bagi dia , pendidikan lebih berharga Dari rasa malu dan lebih besar Dari kekurangan.🥹

Sepatu boleh r0bek , tapi semangatnya tidak pernah pat4h,, dari tanah sederhana NTT,, cita citanya menjulang tinggi 🥰👍💪
Semangat dek ,, semoga kelak jadi Anak sukses
Aminnnn 🤲

Address

Banyuwangi

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00

Telephone

+81333741756

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when MITRA 3 NYALA posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share